
Saat ini Irine terpaksa mengeluarkan lebih banyak uangnya untuk naik taksi, biasanya setelah pulang kerja Ia selalu menaiki Transjakarta demi menghemat pengeluaran bulanannya. Tapi, karena dia harus lembur dan membuatnya pulang sangat larut yang tidak memungkin Bus datang di jam segini.
Irine memandang gusar keluar jendela mobil, entah kenapa hatinya sedari tadi berdetak tak terkontrol. Ia bingung kenapa bisa seperti ini, karena tak biasanya seperti ini.
Jangan seperti ini, aku mohon!
Jangan seperti ini, aku mohon!
Jangan seperti ini, aku mohon!
Lengannya memukul-mukul dadanya sedangkan bibirnya terus bergumam tak jelas. Meramalkan do'a yang sedari kecil ia ucapkan saat tengah merasa sedih atau takut.
"Aku mohon." Irine menggenggam jemarinya yang gemetar.
Supir Taksi yang membawa Irine melirik dari kaca spionnya, menatap wajahnya yang terlihat pucat dengan raut khawatir.
"Nona, apa Anda sakit?" Tanya sang supir pada Irine.
Irine menatap supirnya mencoba menata kembali ekspresi wajahnya, kemudian memberikan senyuman meski terlihat dipaksakan. Ia tidak ingin orang lain memandanginya dengan tatapan kasihan, karena jujur saja dirinya sangat membenci tatapan iba.
"Aku baik-baik saja, Paman. Hanya saja pekerjaanku begitu banyak hari ini, sehingga tubuhku terasa lelah," ujar Irine berbohong.
Sang supir menganggukkan kepalanya dan ikut tersenyum, matanya masih mengamati Irine yang terlihat memandang ke arah luar jendela mobil yang mereka tumpangi.
"Pemandangan kota Jakarta saat malam hari terlihat Indah, anginnya juga sejuk. Apa ingin saya bukakan jendelanya, Nona?" tanya supir itu dengan ramah.
"Akh, benarkah? Kalo begitu boleh Paman." seru Irine antusias.
Benar saja, ketika jendela itu dibuka secara perlahan. Angin malam yang segar langsung menerpa rambutnya.
"Saya juga memiliki anak seusia Nona sepertinya." Ujar Supir itu secara tiba-tiba.
Irine menolehkan wajahnya ke arah punggung supir taksi tersebut. "Wakh, dia pasti beruntung memiliki seorang Ayah yang bekerja keras seperti Paman." timpal Irine tersenyum.
"Nona juga, di usia yang masih muda Anda telah bekerja keras." Puji Paman supir taksi sambil tersenyum. "Pasti orang tua Nona bangga memiliki anak yang tumbuh dengan mandiri dan baik seperti, Nona." sambungnya.
__ADS_1
Bangga? Benarkah orang tuanya bangga padanya? Irine tersenyum miris, jika mengingat perlakuan Ibu padanya.
"Hahahaha Paman terlalu berlebihan memuji saya." Seru Irine memaksakan tawanya. "Akh, Paman berhenti disini aja, sekalian beli makan malam." tunjuk Irine pada rumah makan di sebrang jalan.
Sebentar Supir Taksi itu melirik Irine, kemudian menepikan mobilnya.
Setelah mobil menepi, Irine segera membuka pintu mobil itu dan menutupnya dengan keras. "Paman terimakasih sudah mengantar saya, hati-hati di jalan." Ucap Irine sambil memberikan uang ongkos nya.
Paman Taksi itu menatap tersenyum kepergian Irine yang berlari kecil menuju warung nasi di sebrang jalan.
"Dia anak yang ramah." gumamnya.
...****************...
Setelah sampai di Kosannya, Irine dengan pelan membuka pintu rumahnya berjalan gontai ke arah Sofa. Dia langsung merebahkan tubuhnya begitu saja di sofa, seluruh tubuhnya begitu lelah, Ia butuh istirahat banyak.
Beberapa menit yang lalu, Ia menghubungi Candra adiknya, dia mengatakan bahwa dia akan pergi ke Jakarta. Entahlah dia mau apa ke Jakarta, sepertinya Ibu juga mengijinkannya.
"Huh," Irine menghela nafasnya pelan. Keduanya matanya menatap sekitar, hanya ada keheningan di sana.
Irine berjalan gontai kearah kamarnya, meski sudah berusaha. Namun nyatanya, bayang-bayang pria itu masih menghantui isi kepalanya, membuatnya semakin stress dibuatnya.
"Oh Tuhan, kenapa bayangan pria sialan itu datang terus." gerutunya kesal.
...****************...
Setelah menyalakan mobilnya, Ia lajukan mobilnya membentang jalanan kota Jakarta yang padat dengan berbagai kendaraan. Meski ia tidak terlalu mengenal pasti jalanan kota Jakarta, tapi ia tidak pernah melupakan apartemen yang ditinggali kekasihnya. Konyol memang, tapi begitulah seorang Candra.
Ia tersenyum samar, sudah beberapa bulan ini ia tidak menemui kekasihnya. Jika dibilang Candra dan kekasihnya ini berpacaran jarak jauh, karena sama-sama sibuk menyelesaikan kuliah masing-masing akhirnya mereka berdua terpaksa bolak-balik antara Jakarta-Bandung.
Pasangan yang romantis bukan? meski yang sering pulang pergi adalah kekasihnya.
Gadis itu. Meski perjalan antara Jakarta dan Bandung cukup memakan waktu, tapi ia tidak pernah mempermasalahkan atau mengeluhkannya. Ah, Candra jadi merindukan wajah kekasihnya. Pipinya yang selalu merah merona, saat Ia memberikan gombalan padanya, Ia benar-benar pria penuh, tipu muslihat.
Setelah menempuh waktu hampir 4 jam lamanya perjalanan dari Bandung ke Jakarta, tidak seperti biasanya ditambah lalu lintas yang padat. Sampai di Jakarta, dia tak langsung menemui Kaka nya. Pria ini malah menemui Kekasihnya di Apartemen gadis itu, tapi sangat di sayangkan sambutan yang dia terima tak sesuai dengan bayangannya.
__ADS_1
"Hey. Ada apa denganmu?" Candra bingung melihat kekasihnya yang terlihat murung saja sejak sampainya Ia di Apartemen.
Bella kekasih Candra menolehkan wajahnya, tersenyum masam ke arah Candra., "Tengah berpikir," jawabnya asal.
"Ayolah, bukankah kita akan berlibur bersama di Jakarta. Jangan terlalu berpikir yang tidak-tidak, yang ada nanti kau stress," ucap Candra merangkul kekasihnya.
"Oh, tunggu," ucap Candra tiba-tiba, pria itu langsung merogoh handphone yang bergetar di saku celananya.
"Kaka," gumamnya setelah melihat layar di ponselnya yang menunjukkan nama sang Kaka. Candra menatap ke arah Bela dan meminta izin untuk mengangkat panggilan dari kakanya. Terlihat Bella menganggukkan kepalanya, setelah itu Candra sedikit menjauh dari Bella.
"Iyah Ka."
"Dasar anak nakal. Di mana kau, seharusnya sudah sampai di Jakarta kan?" Teriak Irene di sebrang telepon.
"Iyah Iyah. Aku sedang menemui Bela terlebih dahulu, Kaka tak perlu khawatir. Malam ini aku akan menginap di sini kak, oke?" kata Candra cepat. Ia juga langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak, Ia tahu pasti Kaka nya akan mengamuk. Tapi Ia tak tega jika harus mengabaikan Bella lama-lama, dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan kekasihnya setelah LDR an sekian lama.
"Bella." Seru Candra dengan suara manja nya menghampiri Bella yang tengah makan buah Strawberry kesukaannya.
"Jangan diam aja sayang, aku kan sedih." ujar Candra dengan suaranya yang dibuat seperti anak kecil.
"Aku kesel sama kamu, Can." timpal Bella.
"Hah, kesel? kenapa Love?" tanya Candra bingung.
"Hah." Bella memutar bola Matanya malas, kekasihnya tak pernah Peka dengan situasi. "Sayang, kamu tahu gak sih. Kamu tuh udah melakukan kesalahan, seharusnya kau pergi ke Kosan Kaka mu dulu baru Ke tempatku." Ucap Bella sebal.
"Dia pasti ngerti kok, Sayang." jawab Candra sambil merengkuh tubuh mungil kekasihnya.
"Kau gak paham juga, aku kan jadi gak enak. Nanti gimana kalo aku bakal di coret menjadi adik ipar kaka mu." kata Bella yang mulai panik.
Candra langsung menepuk jidatnya, mendengar perkataan kekasihnya. Dia pikir telah melakukan kesalahan apa, ternyata hal ini doang. pikir Candra.
"Sayang, tadi Ka Irine menelpon dan dia menitip salam untuk mu." Ujar Candra.
"Benarkah?" Tanya Bella dengan wajah yang langsung berubah 180 derajat yang tadi murung dan saat ini kedua matanya terlihat berbinar.
__ADS_1
"Hm, kau akan tetap jadi adik ipar Ka Irine yang paling baik dan cantik." Bisik Candra sambil mengusap kepala Bella lembut.