
Setelah menyelesaikan pekerjaan dirinya, Irine meminta izin untuk segera pulang pada Kimtan.
"Kau mau pulang terlebih dahulu sebelum Saya atasan mu pulang?" tanya Kimtan menatap Irine serius.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu membuat Irine bingung mau menjawab apa.
"Apa kau yakin telah menyelesaikan semuanya dengan teliti dan benar?"
Irine langsung menganggukkan kepala dengan cepat. Sangat yakin, bahkan dia telah memeriksa laporannya beberapa kali guna memastikan kebenarannya.
"Baiklah. Kalo kau cukup yakin, sekarang duduk dan tunggu saya melihat laporan yang telah kau buat."
Perintah Kimtan membuat Irine mengangkat sebelah alisnya, gadis itu sepertinya dibuat bingung.
"Tapi Tuan. Saya sangat yakin telah menyelesaikan semuanya." sanggah Irine, dia tak ingin berlama-lama dengan Bos nya di dalam satu ruangan.
"Tak bisakah kau menuruti perintah atasanmu?"
Irine merasa geram ia langsung berjalan dan mendudukkan tubuhnya di sofa tak jauh dari meja kerja Kimtan. Dengan raut kesal, dia meletakkan tas nya di atas pangkuannya.
Kimtan mencuri pandang ke arah Irine, bibirnya tersenyum tipis melihat kedongkolan Irine karena ulahnya. "Ekhem." Dehem Kimtan, memecahkan suasana yang terasa sunyi.
"Sepertinya butuh waktu lama untuk memeriksa semua laporan ini." ucapannya sedikit keras, pria itu sengaja agar Irine mendengarnya.
Meski begitu, Irine tetap diam. Dia berpura-pura seolah tak mendengarnya. Lebih menyibukkan diri dengan ponselnya, sesekali tertawa saat melihat Vidio lucu. Hal itu memancing rasa penasaran dari Kimtan.
__ADS_1
"Ekhem." Sekali lagi Kimtan berdehem. "Irine." panggilnya.
"Iya Tuan." jawab Irine menolehkan wajahnya.
"Suruh Arka untuk membawa makanan ke ruangan saya." perintah Kimtan menatap Irine yang juga menatapnya.
Dengan senyum yang terpaksa, Irine mengiyakan perintah Kimtan. "Saya akan langsung menyampaikannya." jawabnya, lalu berdiri dari duduknya. Berjalan ke meja kerja untuk menghubungi Tuan Arka melalui telpon kantor.
"Hallo Tuan, saya Irine." ucap Irine memulai percakapan. "Tuan Kimtan, menyuruh saya untuk mengatakan pada Anda agar membawa makanan ke ruangan Tuan Kimtan."
"........"
"Ah, yah baik. Akan saya sampaikan pada Tuan Kimtan. Terimakasih." ucap Irine mengakhiri panggilan telponnya.
"hn." timpal Kimtan tak melihat ke arah Irine.
"Apa pekerjaan Anda belum selesai juga?" tanya Irine. Menatap kesal atasannya yang masih membuka-buka berkas-berkas laporan.
"Kau tunggu saja. Lagipula, aku sudah memesan banyak makanan."
"Apa maksud Anda?" tanya Irine mencoba mengontrol suaranya.
"Tidak bisakah kau diam, bagaimana aku bisa menyelesaikan pekerjaanku jika kau seperti ini?" ucap Kimtan seakan menyalahkan Irine.
Irine menatap kesal Kimtan, tanpa menimpali perkataan Kimtan dengan kaki yang di hentakkan ke lantai cukup keras Irine kembali ke sofa dan duduk membelakangi Kimtan.
__ADS_1
"Padahal dia yang mengganggu waktu luangnya." gerutu Irine kesal. Dia mencoba menarik nafas dan menahan emosinya, jika menghadapi atasannya dia seribu kali harus lebih sabar.
...************...
"Ka Lala, Minggu ini terkahir Kaka check Up. Semoga perkembangannya menjadi lebih baik." seru Candra.
"Hm, kamu benar. Kaka sudah tidak sabar bisa berjalan lagi tanpa bantuan kursi roda." ucap Lala menatap kedua kakinya sambil tersenyum.
"Aku akan menemani Kaka."
"Terimakasih, kau memang adik yang sangat pengertian." Lala mengelus kepala Candra dengan penuh sayang. "Ah, yah. Bukankah kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Lala secara tiba-tiba.
"Astaga. Kenapa Kaka bertanya itu? Aku jadi malu." ujar Candra menutup wajahnya.
"Yah, Kaka tau dari Irine."
"Aish, Ka Irine kenapa dia ember sekali bilang ke Kaka segala." gerutunya kesal.
"Hahaha. Adik Kaka memang sudah besar yah, karena harus menjaga Kaka kamu jadi sering di rumah." sesal Lala dengan wajah yang tertekuk.
"Aku senang merawat Kaka, jadi jangan merasa terbebani seperti itu Ka. Nanti akan aku kenalkan dengan pacarku."
"Sungguh?" kedua mata Lala berbinar senang.
"Tentu, aku akan mengajak nya dan mengenalkan Kaka padanya."
__ADS_1