Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
chapter 33


__ADS_3

Setelah menemani Irine dan memastikan demamnya telah turun, Kimtan langsung keluar dari Kosan wanita itu. Sejujurnya dia masih ingin berlama-lama bersama Irine, tapi dia tak ingin wanita itu terkejut dan semakin menjauhinya.


"Apa yang kau sudah mendapatkan Informasi?" Seru Kimtan bertanya pada Arka sambil menatap dingin ke arah wajah Arka.


Tubuh Arka langsung menegang, Ia tak tahu harus mengatakan sejujurnya atau berbohong pada Tuannya.


"A-ku baru saja selesai mengikuti temannya Nona Irine, Tuan." Ucap Arka berbohong, tak ada pilihan lain selain mengatakan hal ini. Sebab dirinya khawatir semuanya akan menjadi rumit jika mengatakan berita ini sekarang. Arka lebih memilih bungkam terlebih dahulu, untuk menyelidiki lebih dalam kabar yang juga mengejutkan dirinya.


Kimtan mengernyitkan dahinya. "Apa kau menemukan sesuatu? Hah, tidak. Kenapa kau mengikutinya?" tanya Kimtan merasa penasaran.


"Ada yang membuat Saya penasaran Tuan, maka dari itu Saya mengikutinya." Jawab Arka.


"Lalu, apa yang kau dapatkan?" tanya Kimtan.


Arka menggelengkan kepalanya dengan menyesal, melihat itu Kimtan berdesis keras. "Ahh, kenapa dia sulit sekali."


Arka menatap Tuan nya dengan rasa menyesal. "Saya akan berusaha lagi, Tuan."


"Bangunkan aku jika sudah sampai." Perintah Kimtan menyenderkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya, berharap Ia bisa bermimpi indah.


"Baik Tuan." Jawab Arka menganggukkan kepalanya, Ia sekilas melirik Tuannya yang sudah memejamkan kedua matanya. Kemudian dia menyalakan mesin untuk mengantar Kimtan ke Apartemen nya.


Satu kebohongan yang Ia katakan hari ini, membuatnya tak nyaman. Selama ini, Arka selalu berkata apa ada nya pada Tuannya. Tapi, jika Tuannya mengetahui masalah ini. Ia tak yakin semuanya akan baik-baik saja, aku khawatir membuatnya semakin menjadi runyam.


...*Flashback*...


Beberapa waktu lalu, setelah Arka tak sengaja melihat Irine bersama temannya di sebuah restoran dan mendengar cukup lama percakapan mereka, Arka sedikit penasaran dengan pasien yang diceritakan oleh Teman Irine yang merupakan salah satu Dokter yang bekerja di Rumah sakit yang berada di Jakarta.


Di sinilah Arka saat ini, berada di rumah sakit tempat Dokter Indah bekerja. Dia sengaja mengikuti teman Irine ke tempat kerjanya, karena rasa penasarannya Ia mengikuti wanita itu secara diam-diam.


Namun, sangat disayangkan ketika Dokter Indah masuk ke salah satu ruang inap VIP Ia tak bisa melihat siapa yang ada di ruangan itu ataupun menguping pembicaraan mereka.


Karena otaknya yang jenius, Arka langsung berbalik arah dan pergi menuju tempat Resepsionis. Dengan tergesa Ia berlari, khawatir Dokter Indah langsung mencurigai gerak geriknya.


Setelah sampai di tempat Resepsionis dalam waktu 10 menit, karena Ia sempat tersesat tadi.


"Permisi Mbak." Panggil Arka kepada salah satu wanita yang tengah menjaga tempat Resepsionis tersebut.

__ADS_1


"Iyah Pak, ada yang bisa saya bantu." Jawab perempuan itu dengan sopan.


"Saya ingin menjenguk temannya teman saya, tapi saya tersesat saat mencari ruangannya. Bisa tolong bantu saya mencarikan ruangannya?" Arka sedikit gugup, meski begitu Ia bisa membuat Perempuan resepsionis ini mempercayai dirinya.


"Nomor kamarnya berapa kalo boleh saya tahu Pak?" Tanya resepsionis itu kembali.


"Hmm, 345 ruang VIP." Jawab Arka percaya diri, meski dia tak tahu nomor inap itu apakah pasien yang di ceritakan oleh Indah pada Irine.


"Akh, itu Pasien yang di tangani Dokter Cleo." Sahut salah satu suster yang kebetulan berada di sampingnya.


Arka menolehkan wajahnya, tersenyum pada suster yang berada disampingnya. "Anda Tahu ruangan itu, Sus?" Tanya Arka penuh antusias.


"Wah kebetulan, Suster Ana ada di sini. Bisa tolong antarkan Bapak ini ke ruangan 345." Seru Resepsionis itu dengan tersenyum kepada suster Ana.


"Tidak masalah, mari saya antarkan Bapak ke ruangan tersebut." Suster Ana berjalan terlebih dahulu, memandu Arka menuju ruangan yang dicarinya.


Tidak mau kehilangan kesempatan, Arka langsung berbasa-basi dengan Suster tersebut setelah merasa nyambung baru Arka langsung menanyakan perihal siapa pasien yang ada di ruangan tersebut.


"Sus, memangnya pasien itu sakit apa?" Tanya Arka memulai interogasinya.


Arka terkejut, siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa dia memiliki feeling kuat meski hanya mendengar dari cerita Dokter Indah.


"Kau mengenal Dokter Indah?" Tanya Arka kembali.


"Akh, Dokter Indah? Tentu saja aku mengenalnya." Seru Suster itu dengan antusiasnya. "Dokter Indah sudah sering berkunjung ke sini, dia temannya Dokter Cleo. Meski Pasien ini bukanlah Pasien Dokter Indah, tapi dia perhatian dengan Pasien ini."


"Dia temanku." Jawab Arka asal. Ia sengaja mengatakan itu, supaya suster itu lebih mau terbuka padanya dan menjawab pertanyaannya tanpa mencurigainya.


"Wakh, kau temannya." Ucap Suster itu menutup mulutnya, teman Dokter Indah benar-benar tampan. Pikirnya.


"Dokter Indah tak mengatakan padaku siapa yang tengah dirawat di ruangan itu selama ini, jadi aku sedikit penasaran saja. Karena aku tahu dia wanita yang tertutup dan tak mau dikasihani." Sepertinya Kali ini Arka sedikit berlebihan.


"Hmm, Anda benar Tuan. Aku sungguh mengagumi Dokter Inda, dia pribadi yang luar biasa." Seru Suster itu dengan takjub.


"Sus, apakah pasiennya laki-laki?" Tanya Arka sedikit hati-hati.


"Hah, laki-laki?" Ujar Suster itu bingung, karena yang Ia tahu Pasiennya adalah perempuan.

__ADS_1


"Pasiennya perempuan, meski tampan juga jika menjadi seorang laki-laki." Jawab suster tersebut terkekeh.


"Akh, begitu." Sahut Arka menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal, Ia sedikit ikut tertawa meski terasa hambar menghilangkan kebingungan Suster tersebut.


"Nah, Tuan. Aku cuma bisa mengantar sampai sini, karena aku harus mengecek pasien lainnya. Jadi kau hanya perlu berbelok sebelah kanan dan kau akan menemukan ruangan pasien bernomor 345." Tunjuk Suster itu.


"Ah Iyah, terimakasih Sus sudah mengantarkan saya." Ucap Arka tersenyum.


"Tidak masalah, Tuan. Kalo begitu saya pamit undur diri." Ujar Suster itu berlalu pergi meninggalkan Arka yang masih mematung ditempatnya.


Kecelakaan 4 tahun lalu.


Kata Dokter Indah, pasien ini tidak tahu di mana keluarganya. Identitasnya pun menghilang.


Arka sedikit mengintip pintu ruangan yang terdapat kaca di tengahnya, sehingga memudahkannya melihat ke area dalam ruangan. Di sana, dapat Arka lihat seorang gadis tengah berbaring dengan berbagai alat di tubuhnya. Dia ingin masuk karena penasaran tapi, tiba-tiba suara handphone menyadarinya.


"Ah, Tuannya kenapa menelpon di waktu seperti ini. Sepertinya aku harus kemari lagi lain laki." Gumam Arka, pergi meninggalkan ruangan itu sambil berbicara dengan Tuannya.


...*Flashback Off*...


Arka melirik kembali tuannya yang masih tertidur, Ia tak tega membangunkan Kimtan yang terlihat kelelahan. Tapi, mereka sudah sampai di depan Apartemen Tuannya.


"Tuan, Tuan." Arka sedikit menepuk-nepuk bahu Kimtan.


"Hm." Kimtan perlahan membuka kedua kelopak matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk dikedua matanya.


"Kita sudah sampai, Tuan." ucap Arka, memberitahu Kimtan.


"Hm, baiklah." Jawab Kimtan mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu, setelah tidurnya yang cukup membuatnya sakit karena tak se- empuk di tempat tidurnya. "Terimakasih, Arka."


"Mau saya antar ke atas, Tuan?" tanya Arka menawarkan diri.


"Tidak perlu, kau langsung saja pulang dan besok kau jemput aku lagi." Pinta Kimtan berjalan sempoyongan menuju pintu lift yang tak jauh dari tempatnya berada.


Arka menatap punggung Tuannya yang semakin menjauh dari pandangannya, Ia sungguh merasa bersalah harus menutupi situasi ini pada Tuannya.


"Maafkan aku Kimtan." Gumam Arka. "Ini belum pasti, setelah semuanya terkumpul pasti aku akan katakan padamu."

__ADS_1


__ADS_2