
Mereka telah keluar dari rumah sakit beberapa menit yang lalu. Saat ini keduanya berniat hendak pulang menaiki taksi yang telah di pesan Irine.
"Kak, itu taksinya." tunjuk Irine.
Tak ada respon yang diberikan oleh Lala, dia hanya mengikuti kemana Irine membawa dirinya.
"Pak, tolong bantu taro kursi rodanya di bagasi yah." Pinta Irine pada sang supir.
"Baik Nona."
Setelah menempatkan Kakak nya di kursi penumpang, Ia berlari kecil mengitari mobil dan masuk ke dalam mobil sebelah kiri tepat di samping Kakak nya duduk.
Irine bernafas lega, ternyata tak mudah melakukan ini semua. Dia tak bisa bayangkan adiknya yang selalu menemani Ka Lala setiap hari, tapi tak sedikit pun keluhan yang dia katakan. Bahkan bukan hanya waktu, kebersamaan Candra dengan kekasih dan temannya pun tersita semuanya karena harus fokus dengan Ka Lala.
"Pak, jangan langsung pulang. Kita mampir dulu ke toko baju." Perintah Irine pada sang sopir.
"Baik Nona." jawab sang supir.
"Kamu mau beli baju Rin?" tanya Lala, baru kali ini dia membuka mulutnya setelah sejak keluar dari ruangan Dokter Cleo gadis itu hanya bungkam.
"Betul Ka, kita akan belanja-belanja." seru Irine sambil tersenyum. "Pak, nanti saya minta tolong bantu bawain belanjaan kita yah."
Supir itu terlihat ragu, karena pada dasarnya wanita kalo sudah belanja lupa waktu sedangkan dia harus mencari penumpang lain.
Mengerti dengan diamnya supir itu Irine langsung mengatakan bahwa akan ditambahkan uang. "Tenang saja Pak, nanti saya tambahkan uangnya+bonus deh. Gimana Pak?"
"A-h, Iyah Non. Tentu, saya akan membawakan belanjaan Anda." Seru Sopir itu dengan bersemangat.
Lala melirik adiknya. Dia bertanya-tanya dari mana adiknya mendapatkan uang sebanyak itu. Kenapa dia terlihat menghamburkan uangnya? Padahal Candra bilang, Irine hanya sekertaris baru meski perusahaan itu salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.
"Kita akan menghabiskan waktu kita berdua Ka, besok kan aku harus kembali lagi bekerja." Ujar Irine memeluk lengan Kakaknya dengan manja.
...****************...
Di lorong apartemen yang panjang, Arka mencoba mengimbangi langkah Tuan nya yang berjalan dengan cepat. Entah kesetanan apa, hari ini perilaku dia benar-benar membuat seluruh kantor emosi.
__ADS_1
"Tuan, tolong tunggu sebentar. Saya tahu Anda kesal dengan saya karena masalah di kantor tadi pagi, tapi saya mohon dengarkan saya terlebih dahulu." ujar Arka, sebisa mungkin membujuk Kimtan.
Tapi, nyatanya Kimtan memanglah Kimtan. Dia benar batu, alias keras kepala. Lain kali, sebisa mungkin untuk tidak memberikan izin pada Irine cuti atau apapun itu. Karena semuanya akan jadi seperti ini.
"Orang Tuan Anda menghubungi saya beberapa saat yang lalu."
Deg. Mendengar itu Kimtan langsung menghentikan langkahnya.
"Tuan." Gumam Arka, dia tak tahu jika kabar ini akan semakin menyulut emosi Tuan nya. "A....a begini Tuan, Nyonya hanya menanyakan kabar Anda yang tak pulang-pulang ke rumah utama. Jadi, dia...."
Bruk.
Deg, Kedua mata Arka membola. Hampir saja tinjuan itu mengenai wajahnya, meski begitu dia sedikit bernafas lega.
"T-t-tuan.... Tangan Anda." Pekik Arka terkejut, memang tinjuan itu tidak mengenai wajahnya tapi mengenai tembok yang berada di belakang dan itu membuat lengan Kimtan berdarah. Astaga, kenapa semuanya rumit seperti ini. "S-s-sebaiknya kita kembali ke -ke kamar Anda." lanjutnya.
"Pulang!" Kimtan berucap dengan dingin.
"Y-ya?"
Melihat tatapan tajam yang diberikan Kimtan membuat tubuhnya sedikit bergetar. "Baik, Sa-ya akan pulang."
Arka langsung berlari meninggalkan Tuan nya. Dia tak ingin menjadi korban kedua setelah tembok itu, membayangkannya saja membuatnya bergidik.
"Sebelum itu, aku harus menghubungi pengelola gedung ini mengenai kerusakannya." Bisik Arka. "Ah, lalu bagiamana dengan lukanya? Dia tak mungkin akan langsung di obati, tapi jika aku kembali lagi hah sudah jadi adonan kue."
Sejenak Arka berpikir apa yang harus dia lakukan, dia tak tenang juga jika harus berdiam diri.
Ah, gadis itu..benar jika dia yang datang pasti Tuan nya akan baik-baik saja. Arka segera merogoh ponselnya di dalam saku jas dan langsung mencari kontak gadis itu.
"Hallo." ujar seorang di sebrang panggilan.
"Bisakah kau bantu Saya?" tanya Arka tanpa berbasa-basi.
"M-maksud Anda apa yah?"
__ADS_1
"Tuan, dia terluka dan harus di obati."
"Terluka? kenapa bisa? Kalian di mana memangnya?" tanya Nya beruntun.
"Sudah, kau datang saja ke apartemen nya. Saya lahi sibuk, sudah dulu yah."
Pip.
Panggilan itu di putus langsung oleh Arka.
"Huh, semoga saja ini keputusan yang tepat." Gumamnya.
...****************...
"Siapa Rin?"
Irine langsung memasukkan handphone nya ke dalam tas kembali, saat sang Kaka bertanya padanya. "Ah, ini Asisten Bos saya nelpon." jawabnya.
"Bukankah kamu cuti, apa ada hal darurat?"
Irine menggaruk pipinya yang tak gatal, dia bingung harus menjawab apa karena dia tak ingin mengecewakan sang kakak. Padahal mereka lagi bersantai tapi....
"Pergilah."
"Eh?" Irine menolehkan wajahnya menatap sang Kakak. "Tapi Kakak...."
"Tidak apa, pergilah. Kakak bisa sendiri, lagian Candra sebentar lagi pulang." Ucap Lala menyela perkataan adiknya.
"Hmm, Maaf Ka." ujar Irine memasang wajah menyesal.
"Sudah sana pergilah, nanti Bos mu marah lagi."
"Baiklah, terimakasih Kakak. Aku berangkat terlebih dahulu, maaf." ucapnya sekali lagi, sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu.
"Huh, sepertinya dia memang bekerja di perusahaan besar. Bahkan sudah cuti pun harus di panggil untuk bekerja di jam segini." Gumam Lala menatap jam di dinding yang menunjukkan pukul tiga sore.
__ADS_1