Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 36


__ADS_3

Kimtan berjalan berdampingan dengan Irine menuju ruang rapat.


"Arka." Panggil Kimtan pada Arka yang tengah berjalan ke arah nya. "Bagaimana situasinya?" lanjutnya.


Irine mencoba menyingkir ke sisi lain dan membiarkan Arka berjalan berdampingan dengan Kimtan, supaya mereka mudah berjalan sambil mengobrol.


"Saya tidak yakin ini akan mudah atau tidak Tuan, karena Anda pun tahu perebutan kerjasama dengan Perusahaan ini memang sengit. Jadi kita perlu bekerja lebih keras lagi, meski Kim group terkenal tapi kita perlu strategi untuk memikat mereka." Papar Arka pada kimtan.


"hm, hm. Kau benar Arka." Ucap Kimtan menyetujui perkataan Akra.


"Irine, tolong lebih banyak cari sejauh mana perkembangan perusahaan yang bersaing dengan Kim group untuk mendapatkan proyek ini." Titah Kimtan.


"Baik Tuan." Jawab Irine langsung mencatat apa yang di ucapkan Kimtan.


"Baiklah, mari kira temui mereka dahulu." ujar Kimtan berjalan sambil menyeringai.


'Apapun yang terjadi, proyek ini harus jatuh di tanganku' Batin Kimtan sambil meremas lengannya dengan kuat.


...****************...


Seharian ini Irine benar-benar sibuk mencari semua hal baik dan skandal yang berada di 5 perusahaan yang bersaing dengan Kim Group, dia tahu ini merupakan tugas penting dan Tuan nya benar-benar sangat menginginkan hal ini menjadi proyek perusahaan Kim group. Untuk itu, Irine harus lebih-lebih serius dalam masalah ini.


"Kamu lagi liat apa sih menatap hp terus, padahal lagi makan." Ucap Stefi mencibir Irine.


"....." Irine mengabaikan ucap itu dan lebih memilih menghabiskan makan siang nya dan cepat kembali ke ruangan kerja nya.


"Rin, Irine." Panggil Stefi lagi. Dia masih bingung dengan Sahabatnya yang terus mengabaikan dirinya sejak pagi tadi. "jangan-jangan kamu marah yah karena aku mau nemuin Presdir?" tanya Stefi dengan wajah murung.


Irine menarik nafas sedikit tak nyaman. "Stefi." Panggil Irine, kedua matanya memandang Stefi lekat. "tidak ada yang marah, aku lagi bekerja. Oke." ujar Irine kembali fokus dengan handphone nya.


"Bekerja apa'an di jam makan gini." cibir Stefi merasa kasihan dengan Irine. "hueh, kenapa Presdir membuat mu bekerja sepanjang waktu." geram Stefi.


"Sudahlah, ini memang tugasku. lagian kemarin aku kan di kasih libur, jadi wajar saja kalo hari ini kerjaan numpuk." ucap Irine dengan bijak.


"hm iya sih, karena dia juga aku bisa belanja banyak barang." seru Stefi dengan wajah berbinar.

__ADS_1


Irine yang melihat itu hanya bisa tercengang, perubahan suasana orang di depannya ini benar-benar luar biasa cepat.


"Oh tidak." Seru Stefi terdengar kesal.


"Kenapa?" tanya Irine bingung.


"Sialan! Lelaki itu seperti nya akan menghampiri kita, malas sekali." seru Stefi menutupi wajahnya dengan lengan, mengahalau kedua matanya untuk melihat sosok pria tersebut.


Merasa aneh, Irine membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang di maksud dari Stefi. "Pak Bagas." Gumam Irine, saat melihat pria yang sudah lama tak bertemu meski satu kantor setelah dia menjadi sekertaris Presdir.


"Kenapa kau terlihat tak suka?" tanya Irine penasaran. "jangan-jangan ada sesuatu di antara kalian." tebak Irine menatap Stefi curiga.


"Apa-an sih, mana mungkin? Itu tidak akan pernah terjadi, hueh." ucap Stefi menampik kecurigaan Irine.


"Wah sudah lama tidak bertemu Irine." sapa seseorang.


'Huh, benar ternyata dia datang kemari.' Gumam Stefi pelan.


"Kau juga Stefi." sapa nya juga.


"Pak Bagas baru Istirahat juga?" tanya Irine.


"Benar, syukurlah ada kalian jadi ada temannya. Saya pikir, kantin akan kosong." Ucap Bagas dengan senang. "Saya boleh bergabung kan?" tanya nya penuh harap.


Irine melirik Stefi yang masih diam, merasa tak enak akhrinya Irine mengizinkan Pak Bagas untuk makan di meja yang sama dengan mereka.


"Bagaimana kabar mu Irine?" Tanya Bagas, setelah dia mendudukkan tubuhnya di bangku sebelah Irine.


"hn, cukup baik." jawab Irine singkat.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Bagaimana jika...


"Irine, ayo." Ajak Stefi bangkit dari tempat duduknya, dia sengaja memotong ucapan Bagas. "Aku sudah selesai makannya." sambung Stefi.


"A-h, Baiklah." ucap Irine, meski terlihat bingung Irine tetap mengiyakan ajakan Stefi.

__ADS_1


"Maafkan Saya Pak Bagas, Saya harus kembali bekerja." Ucap Irine merasa tak enak hati.


"Tidak apa, kembalilah bekerja." Timpal Bagas tersenyum. "Semangat!" sambung menyemangati Irine.


"i-iyah, sampai jumpa." Ujar Irine langsung pergi mengikuti langkah Stefi yang lebar.


"Hey.. Hey Tunggu!" seru Irine pada Stefi. "ada apa?" tanya Irine.


"Tidak apa Irine, aku merasa tak nyaman saja. Lagian, dia kan suka sama kamu. Emang nya kamu gak risih?" tanya Stefi.


"Y-ya iya sih, cuma kan rasanya gak enak aja mau bagaimana pun dia tetap pernah jadi atasan Saya." jawab Irine.


"Hueh ya sudahlah, abaikan saja dia. Sana kembali ke ruangan mu, aku juga mau kembali bekerja." ujar Stefi berlalu pergi.


"Hn." Irine menatap kepergian Stefi sebentar, kemudian langsung berbalik menaiki lift menuju lantai 4.


...****************...


Saat masuk ke dalam ruangannya, ruangan terasa sunyi dan Irine tak melihat sosok Presdirnya. "Sepertinya dia belum kembali." gumam Irine.


Dalam hatinya, ada sedikit kelegaan karena dengan ini dia bisa bekerja dengan leluasa tanpa merasa canggung karena kehadiran Kimtan. "Mari kita selesaikan tugas hari ini." serunya bersemangat.


Irine terus berkutat dengan pekerjaannya menyusun semua rencana pada agenda Kimtan siapa saja yang akan dia temui, memilih dokumen mana yang lebih di dahulukan untuk di tinjau kembali oleh Kimtan dan juga mencatat hal penting yang tadi Kimtan perintahkan padanya.


Sudah lebih dari dua jam Irine duduk di hadapan komputer, membuat punggung nya terasa kaku. Dia melirik jam di layar yang menunjukkan pukul 3 Sore, tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan Presdirnya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Gumamnya, terlihat jelas sangat mengkhawatirkan Kimtan. "Ah tidak-tidak, mana mungkin itu terjadi."


Irine segera menyingkapkan pikiran-pikiran buruk yang bersarang di kepalanya. "Sebaiknya aku meletakkan dokumen yang perlu di tinjau dan di tanda tangani oleh Presdir di atas mejanya, supaya saat dia datang langsung bisa mengeceknya." Gumam Irine berdiri dari duduknya.


Irine melangkahkan kakinya ke meja Kimtan, terlihat banyak berkas yang menumpuk. Uekh, pekerjaan seorang pimpinan memang tak mudah.


Bruk. Irine meletakkan dokumen itu dia atas meja Kimtan. "Fighting, Tuan!" seru Irine memberi semangat pada foto Tuan nya yang berada dia atas meja.


"Kenapa dia tersenyum seperti di dalam foto? Padahal tampang dia terlihat jutek dan mengerikan." Ucap Irine. "Aish, kenapa lagi. Ini kan bukan urusanku." oceh Irine. Merasa sudah berlebihan, Irine segera kembali ke meja kerjanya dan segera menyelesaikan pekerjaannya yang belum beres.

__ADS_1


__ADS_2