
Dokter Cleo tengah memeriksa kondisi tubuh Putri saat ini, dia cukup terkejut setelah siuman dari koma kondisinya membaik dengan cepat. Meski dia tak tahu kenapa wanita ini masih belum mengingat tentang dirinya.
"Dokter, terimakasih sudah menjaga saya." Ucap Putri dengan suara pelannya, wajahnya terus menampilkan senyuman yang manis.
"Sama-sama itu sudah menjadi tugasku." jawab Dokter Cleo membalas senyuman Putri, entah kenapa mendengar ungkapan terimakasih Putri sangat tulus padanya membuat Dokter Cleo merasa terharu.
"Kau tau, saat pertama kali melihat mu di bawa ke rumah sakit. Perasaan itu langsung muncul di hatiku agar aku menolong dirimu." Ucap Dokter Cleo menceritakan pertemuan pertamanya dengan Putri beberapa tahun yang lalu.
Bibir Putri kembali melengkung membentuk sebuah senyuman yang lebih lebar dari sebelumnya. "Entah takdir atau apa, aku senang saat itu bahwa Dokter Cleo lah yang merawat aku."
"Putri, apa kau benar-benar tidak mengingat sedikit pun tentang mu atau keluarga mu?" tanya Dokter Cleo dengan tiba-tiba.
Putri menggelengkan kepalanya, wajahnya menjadi sendu. "Entahlah, aku bahkan tidak mengingat namaku sendiri. Bagaimana bisa aku mengingat hal lainnya." Jawab Putri dengan wajah menunduk senyum yang tadi menghiasi wajahnya kini bibirnya tertutup rapat.
"Tak apa, pelan-pelan saja. Maafkan aku menanyakan hal ini, Putri." ucap Dokter Cleo menyesal.
Dokter Cleo merasa menyesal menanyakan hal itu pada Putri, sepertinya wanita ini belum siap dengan kenyataan lain selain dia telah koma selama 4 tahun di rumah sakit ini tanpa tahu keluarganya di mana.
"Dokter, apa kaki ku masih bisa berjalan lagi?" Tanya Putri menatap kaki nya yang masih kaku untuk di gerakan.
Dokter Cleo menatap sekilas kedua kaki Putri, kemudian berkata sambil mengusap lembut pundak Putri. "Setelah melakukan beberapa terapi, kita akan lihat hasilnya. Putri, kau jangan pernah putus asa. Kau wanita yang kuat dan berani." ucap Dokter Cleo menyemangati Putri.
"Dokter, wanita itu pasti beruntung karena dicintai oleh lelaki yang begitu luar biasa baik seperti Dokter." Putri tiba-tiba berkata demikian, membuat Dokter Cleo terkejut.
"Putri, aku yakin. Di luar sana pasti ada orang yang tengah menunggu keberadaan dirimu." Seru Dokter Cleo, mengalihkan pembicaraan.
"Benarkah?" Bisik Putri dengan nada yang pelan, kedua matanya menerawang jauh. Apa hal selanjutnya yang akan terjadi padanya? Bisakah dia bertemu dengan keluarganya lagi? Entahlah, bahkan ini sudah 4 tahun berlalu. Dia tak yakin mereka semua masih mengingatnya dirinya... pikir Putri menatap sendu awan. "Terimakasih Dokter untuk ucapannya, aku senang jika memang ada yang menungguku." Jawabnya tersenyum.
...****************...
Saat ini Dokter Indah tengah mengajak Candra untuk berjalan-jalan di sekitar rumah sakit, mumpung dia tengah senggang juga.
"Jangan khawatir, Irine termasuk wanita yang kuat kok." Hibur Dokter Indah saat melihat wajah Candra yang masih gelisah.
"Aku tahu Kak, aku hanya cemas saja." Timpal Candra sambil tersenyum kecil.
"Hm, bagaimana jika aku ajak kau menemui pasien yang aku tangani waktu itu." tawar Dokter Indah.
"Memang kenapa dengan pasien itu Kak?" Tanya Candra dengan rasa penasaran karena terlihat Dokter Indah sangat suka dengan pasien tersebut.
"Entah kenapa aku merasa takjub saja dengan pasien tersebut, padahal dia sudah koma selama 4 tahun lama nya. Tapi, dia bisa kembali bangun." Ungkap Dokter Indah dengan kedua mata yang berbinar. "Woah, sangat jarang sekali. Ditambah Dokter Cleo, sangat-sangat luar biasa mengobatinya."
__ADS_1
Dalam hatinya Candra berpikir, memang seluar biasa itu hingga Ka Indah sangat memujinya.
"Bagiamana kamu mau?" tanya Dokter Indah lagi.
"Hn, baiklah. Aku juga ingin melihatnya bersama Kaka." jawab Candra.
"Baiklah, ayok kita temui mereka." Ujar Dokter Indah dengan semangat memandu Candra berjalan menuju bangsal mawar.
Tak di sangka, ditengah perjalanan mereka Dokter Indah dan Candra berpapasan dengan Dokter Cleo.
"Dokter." Panggil Dokter Indah.
"Siapa Kak?" tanya Candra menatap ke arah Dokter pria yang dipanggil Dokter Cleo oleh Dokter Indah.
"Dia seniorku di rumah sakit." jawab Dokter Indah. "Ayo, saya akan kenalkan dirimu dengan Dokter Cleo. Dia sangat terkenal di rumah sakit ini." sambungnya.
Candra hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti Dokter Indah dari belakang dengan langkah pelannya.
"Dokter Indah, kau bersama siapa?" tanya Dokter Cleo pada Dokter Indah.
"A-aa." Dokter Indah menengok ke arah Candra. "Dia adik dari sahabat saya." Jawab Dokter Indah menatap Dokter Cleo. "Ora apakah Dokter ingin ke ruangan Putri?" tanya Dokter Indah.
"Kebetulan aku juga mau ke sana, bagaimana jika kita ke sana bersama." tawar Dokter Indah penuh semangat.
"Sangat boleh, aku tidak Maslah," Jawab Dokter Cleo.
Mereka bertiga pun berjalan bersama menuju ruangan inap Putri yang berada di kamar nomor 345 bangsal mawar. Sesampainya di depan kamar Putri, Dokter Cleo meminta Dokter Indah dan Candra untuk tidak menimbulkan suara kencang karena Putri baru dalam kondisi pulih dari Koma.
Krekk.
Pintu di buka secara perlahan, di sana terlihat wanita tengah berbaring dengan berbagai alat di tubuhnya. Candra yang baru melihat itu sangat terkejut, dia sebelumnya tak pernah melihat hal seperti ini secara langsung. Mungkin jika di televisi seperti drama-drama seperti itu dia sering melihatnya.
"Hallo Putri." Panggil Dokter Cleo mengapa putri.
"H-halo Dokter." Jawab Putri dengan senyumannya. "Coba kau tebak aku datang dengan siapa?"
"Apakah Dokter Indah?" tebak Putri.
""Wah tebakan mu benar yah Putri." ujar Dokter Indah mendekat ke arah Putri. "Bagaimana kondisi mu hari ini?" tanya Dokter Indah tersenyum manis.
"S-sudah lebih baik Dokter."Jawab Putri dengan wajah ceria.
__ADS_1
"Syukurlah." ujar Dokter Indah bernafas lega. "Oea, aku juga mengajak temanku. Kau mau berkenalan dengan nya?" Tanya Dokter Indah sambil tersenyum lebar.
"Sungguh? Aku senang punya banyak teman." Ucap Putri sangat antusias.
"Candra sini." Bisik Dokter Indah, menyuruh Candra lebih mendekat karena sejak tadi dia hanya berdiri di depan pintu.
Candra berjalan mendekat, menuruti permintaan Dokter Indah. Sedikit ragu dia melihat pasien yang bernama Putri.
Deg.
Saat melihat wajah pasien itu, Candra cukup terkejut. Dia seperti mengenal wajah itu, tapi dia tak yakin karena ada perban di kepalanya dan sedikit luka di wajahnya sehingga sulit melihat dengan jelas.
"Kaka, kau yakin itu P-putri?" tanya Candra sedikit ragu.
"Benar Candra, dia adalah Putri pasien dari Dokter Cleo. Saat pergi ninggalin kamu di kantin itu aku membantu Dokter Cleo untuk menangani Putri." Jelas Dokter Indah.
"T-tapi....."
"Ada apa Candra?" Tanya Dokter Cleo menangkap keanehan dari Candra.
"D-ia seperti Kakak s...saya." Jawab Candra tergagap sambil menatap Dokter Cleo. "Tapi, namanya bukan Putri." sambungnya.
"Hah? Maksud mu apa Candra?" Tanya Dokter Indah bingung.
"Ka Lala, kau Ka Lala kan?" Candra mendekat ke arah Putri, membuat Dokter Indah dan Dokter Cleo sedikit terdorong ke belakang.
Putri yang tidak paham dengan situasi yang terjadi pun terlihat bingung dan ada sedikit ketakutan di matanya.
Dokter Cleo dan Dokter Indah saling bersitatap, keduanya seperti mengerti dengan pemikiran masing-masing.
"Sebaiknya kau bawa Candra keluar dulu, Dokter." Seru Dokter Cleo, "Dokter Indah kita bertemu di ruangan ku." Sambung Dokter Cleo dan di angguki oleh Dokter Indah.
"Candra, ayo ikut Kakak." Ajak Dokter Indah, menarik lengan Candra untuk ikut bersamanya.
"Tapi Kak, aku yakin itu Ka Lala." Ucap Candra sedikit berontak dan hendak menghampiri Putri lagi.
"Can, kita akan bicarakan hal ini di ruangan Dokter Cleo. Jadi kau tenang dan ikuti apa kata Kakak. Oke?" Ucap Dokter Indah memegang kedua bahu Candra, guna menenangkan Candra.
"Baik Kak." Jawab Candra pada akhirnya.
Dia kemudian dengan tenang mengikuti Dokter Indah yang berada di depannya, meski pikiran yang masih semrawut. Kakak yang telah lama menghilang, kini berada di depannya dan Kakak nya itu seperti tak mengenali dirinya.
__ADS_1