
Setelah menekan beberapa sandi pintu rumahnya, Irine segera masuk dan menutup kembali pintu dengan rapat. Sejenak dia berdiri dan bersandar pada pintu sambil memegang dadanya yang berdetak tak karuan. Bahkan, dia masih mengingat sentuhan Kimtan pada bibirnya.
"Irine."
Irine tersadar, dia cukup terkejut saat seseorang memanggil namanya. Dia menolehkan wajahnya dan mendapati Kaka nya tengah berada di lorong menatapnya bingung.
"K-ka Lala..." Gumam Irine sedikit gugup.
"Kau sudah pulang? Kenapa masih diam saja?" tanya Lala, membuat Irine semakin gugup.
"A-h ini mau masuk Ka. Candra kemana kenapa sepi sekali?" tanya Irine, mencoba menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
"Dia tengah membeli makanan untuk makan malam kita." Jawab Lala, dia menatap curiga pada adiknya. "Kenapa bajumu terlihat kusut dan berantakan seperti itu?"
Deg. Irine terkejut. Dia menatap bajunya dan benar saja. Astaga, dia menepuk dahinya. Kenapa dia sangat ceroboh, ini semua ulah pria mesum itu. "Y-yah kerjaan di Kantor benar-bena menumpuk jadi a-ku tidak memperhatikan bajuku hehhee." Bohong Irine,
"hm, ya sudah sebaiknya kau bersihkan tubuhmu dan segeralah keluar kembali. Sepertinya Candra sebentar lagi akan pulang."
"Baik Ka."
Irine berjalan masuk menuju kamarnya. Rasa lelah itu seakan hilang saat melihat tempat tidurnya. "Memang tempat terbaik adalah tempat tidur." gumam Irine menaruh semua barang-barangnya.
...****************...
Ting- Tong...
Suara bel memecahkan keheningan diantar dua adik Kaka itu.
__ADS_1
Ting-Tong...
Bel kembali berbunyi menandakan bahwa orang yang berada di luar sudah tidak sabar ingin di bukakan pintu.
"Kau kan tahu sandinya." ucap Irine dengan sewot saat membuka pintu rumahnya.
"Aish, Kaka tidak lihat bawaanku ini." ucap Candra tak kalah sewot sambil menunjukkan barang bawaannya.
"Aku tidak ada waktu untuk melihatnya." timpal wanita itu berjalan pergi meninggalkan Candra.
"Uekh, dasar nenek sihir." ejek Candra pada Kakanya.
"Sudahlah kalian berdua jangan seperti anak kecil. Candra tidak baik mengatai Kaka mu seperti itu dan kamu Irine bicaralah dengan baik pada adikmu." tegur Lala mencoba melerai keduanya yang beradu mulut.
"Baik Kaa." Jawab Keduanya bersamaan.
"Wah, aku menjadi bersemangat makannya." seru Irine sudah menelan air liurnya saat melihat makanan favoritnya. "Kau beli di mana? rasanya enak."
"Di persimpangan depan yang biasa kau beli itu." jawab Candra.
"hmmm, pantesan enak."
"Kau menyukainya Rin?"
"Em." Irine menganggukkan kepalanya dengan antusias. "Ini makanan favorit kita waktu kecil ka."
"Wah, benarkah. Aku tidak percaya jika kesukaan kita sama." ucap Lala yang masih sedikit lupa tentang ingatannya.
__ADS_1
"Benar ka, kalian itu selalu bersamaan." timpal Candra sambil terkekeh.
"........." Mendengar itu, entah kenapa dia kembali mengingat Kimtan pria yang juga adalah kekasih Kaka nya dulu. Matanya melirik ke arah Kaka nya yang tengah tertawa senang. 'Bukan hanya makanan atau pakaian ka, ternyata seorang laki-laki juga kita memiliki kesamaan.' Batin Irine lirih.
...****************...
"Sepertinya Anda mendapatkan Jackpot malam ini Tuan." Ucap Arka, melihat Tuannya yang sejak tadi tersenyum-senyum seorang diri.
"Hahaha... Ini memang luar biasa." Gumam Kimtan mengingat kembali kejadian sore tadi bersama Irine.
"Syukurlah Tuan, jika suasana hati Anda kembali membaik."
"Hm, apa kau sudah menghandle semua pekerjaan Irine untuk besok pagi?"
"Maksud Anda pekerjaan yang di luar kota?"
"hn."
"Itu sudah saya selesaikan Tuan, apa ada yang bisa saya bantu lagi."
"Tidak, tidak. Batalkan semuanya, biarkan Irine pergi."
"Maksud Tuan?" Arka menautkan alisnya bingung.
"Biarkan Irine mengambil proyek luar kotanya dan jadwalkan aku bersamanya." titah Kimtan.
"Ah." Arka mulai mengerti maksud dari Tuannya. "Sesuai perintah Anda, Tuan."
__ADS_1