
Tuan nya kali ini entah kerasukan hantu dari mana hingga menelponnya di subuh petang, matahari pun belum terbit tapi Tuan nya itu sudah mau berangkat bekerja. Padahal dia semalam baru bisa tidur di jam 1 dini hari, di jam 5 Pagi pun dia di ganggu lagi.
"Anda berangkat Pagi-pagi buta ke kantor hanya untuk menatap dokumen itu saja selama setengah jam, Tuan?" tanya Arka, di tengah ambang kesalnya menahan emosi sejak tadi melihat Tuan nya hanya diam.
"........" Pria berhati dingin itu sepertinya masih tetap mengabaikan Arka yang sejak tadi terus mengoceh.
"Apa Saya perlu OB untuk membawakan sarapan untuk Anda?" Arak mencoba menawarkan Kimtan untuk sarapan, namun pria itu masih tetap tak berkutik entah apa yang tengah otak kecilnya itu pikirkan.
Arka melihat sifat Tuan nya yang berubah-ubah pun sampai bingung harus berbuat apa.
"Tuan, ayolah jangan seperti ini terus. Sebentar lagi akan ada rapat dengan Pak Hendra, jadi sebanyak Anda sarapan terlebih dahulu untuk mengisi perut Anda." Sudah beberapa kali Arka mencoba membujuk Kimtan, namun hasilnya sama saja.
Tok Tok Tok
Suara pintu di ketuk membuat kepala Arka menoleh, siapa yang mengetuk pintu itu.
Tok Tok Tok
Suara pintu diketuk kembali terdengar, namun Kimtan tetap tak bergeming.
"Tuan, Apa Anda mau menemuinya?" tanya Arka.
"........" Hah, lelaki itu memang tengah berada di dunia nya. Sehingga meski Arka bertanya berkali-kali pun tak ada respon yang dia dapat.
Arka langsung bergegas keluar dan melihat siapa orang yang mengetuk pintu ruangan Tuan nya, dia tak ingin suara itu membuat Kimtan emosi dan suasana semakin bertambah kacau.
Saat pintu itu di buka secara perlahan, Arka terkejut mendapati dua orang wanita tengah berdiri di depan ruangan Presdir.
"N-nona Stefi." Gumam Arka sedikit terkejut dengan kehadiran Stefi. "Ada keperluan apa Anda ke sini?" Tanya Arka bingung, kedua matanya semakin membola saat Keuda Maya nya melihat wanita yang bernama Irine tengah berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
"Astaga Nona Irine." Seru Arka, tak bisa mengontrol keterkejutannya.
"Ah, Pak Arka selamat pagi." Sapa Irine sambil tersenyum. "Kenapa Anda terlihat terkejut seperti itu melihat Saya?" tanya Irine sedikit bingung.
"Bukannya Anda sakit No..." Arka langsung menutup mulutnya, dia hampir saja keceplosan. Karena efek kekurangan tidur, Arka menjadi semakin tak fokus.
"Sakit? Maksud Pak Arka apa yah?" tanya Irine semakin bingung dan cukup terkejut, karena Arka mengetahui dirinya bahwa sedang sakit.
"Ah tidak-tidak." Jawab Arka cepat, "Oh yah, Tuan sedang menunggu Anda sebaiknya Nona segera masuk." Seru Arka langsung mempersilahkan Irine masuk.
"A-h benarkah? tapi kenapa? Bukankah hari ini Saya tidak telat?" tanya Irine sedikit takut.
"Bukan Nona, bukan. Tuan memang hanya mencari Nona Irine saja, sebanyak Anda masuk untuk mengetahuinya." Desak Arka pada Irine. Mau tak mau Irine langsung masuk ke ruangan Kimtan.
"Hey, kenapa kalian melupakan Aku. Tuan Arka, kan Aku yang pertama mau menemui Presdir terlebih dahulu." Ucap Stefi tak senang.
"Tunggu Nona Stefi, sebanyak Anda berbicara dengan Saya jika ada yang ingin di sampaikan kepada Presdir di luar masalah kerjaan." Ujar Arka dengan tegas.
"Kalo tidak mau ya sudah." Ujar Akra melengos pergi meninggalkan Stefi, akhirnya dia bisa Istirahat dengan tenang kali ini karena Nona Irine datang ke kantor meski dia hampir saja membuka kartu Tuan nya pada Nona Irine.
"Nona Stefi, jika Anda tidak ingin berbicara saya harus mau pergi ke Istirahat." Seru Arka dengan santainya.
Mendengar itu, Stefi merasa sedikit dongkol. "Baiklah-baiklah." Ucapnya, sambil menghentakkan kaki kanan nya ke lantai karena kesal. Pada akhirnya Stefi mengalah dan mengikuti Arka dari belakang.
...****************...
Dengan pelan Irine berjalan menuju meja kerja Kimtan, dia tak ingin menimbulkan kebisingan karena dia tahu pria itu tak menyukainya. Perlu kalian ketahui bahwa jarak antara pintu kerja Kimtan dan meja kerja nya itu cukup jauh, jadi bisa di bilang ruangan kerja Kimtan luasnya seperti rumah kosannya atau mungkin lebih besar nya lagi.
"Selamat pagi Tuan." Sapa Irine, setelah kini dia berdiri tepat di depan Presdirnya.
__ADS_1
Mendengar suara yang sangat amat familiar di telinganya, wajah Kimtan yang tadi sempat terpejam langsung terbuka. Perlahan, wajahnya mendongak dan benar saja.
"Irine." Gumam Kimtan, menatap wanita di depannya dengan tatapan yang sulit bahkan sangat sulit diartikan oleh Irine.
"Y-yah, Tuan." Jawab Irine gugup, siapa yang tidak gugup jika di tatap seperti itu oleh Bos mereka.
Kimtan langsung bangkit dari duduknya, berjalan mendekat ke arah Irine. Tubuhnya langsung menghambur memeluk wanita mungil di depannya.
"T-tuan." Gumam Irine sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Kimtan padanya.
"Syukurlah." Bisik Kimtan mengusap kepala Irine dengan lembut.
"S-sebentar Tuan, K-kenapa Anda memeluk saya?" tanya Irine dengan suara tergagap, dia juga sedikit mendorong tubuh Kimtan.
"Kau masuk kerja hari ini? Apa tidak apa-apa?" Tanya Kimtan pada Irine, terlihat wajahnya sangat khawatir.
Irine menatap tak percaya dengan tingkah Tuan nya pagi ini dan lagi kenapa dia balik bertanya padanya, bukan nya menjawab pertanyaannya.
"Tentu saja Saya harus bekerja, kemarin Saya tidak bekerja karena di kasih libur sama Tuan." Jawab Irine, "S-sa-ya juga mau minta maaf karena kemarin telat masuk kerja." Ucap Irine menyesal.
"Tidak apa, kemarin Saya memang sengaja memberi libur." Jawab Kimtan.
"Kenapa?" tanya Irine.
"Hanya ingin." Jawabnya.
Irine mengernyitkan dahinya, jawaban Tuan nya bener-bener tak masuk akal.
"Sudahlah yang penting kamu ada di sini, Saya senang." Ujar Kimtan tersenyum.
__ADS_1
Memang aneh, jika Arka melihat ini dia pasti akan sangat-sangat merasa kesal dengan perubahan signifikan dari Tuan nya. Padahal sebelumnya Arka sejak tadi banyak berbicara tapi tak ada respon berarti yang ditunjukkan olehnya. Tapi kali ini dengan Irine, Kimtan banyak mengeluarkan berbagai ekspresi.