Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 53


__ADS_3

Hampir sejam penuh Irine menemani atasannya dengan alasan memeriksa hasil laporannya hari ini. Meski awalnya dia bosen tapi Kimtan memberikan berbagai makanan yang di antar oleh sekretarisnya, membuatnya mau tak mau menghabiskan semua makanan itu. Tentu saja dia awalnya malu-malu dan gengsi, tapi perutnya terlalu egois yang terus meminta untuk di isi hingga akhirnya semua makanan itu tandas di lahapnya.


"Apa?" ujar Irine dengan sewot menatap Atasannya dengan kedua mata menatap kesal, dia tahu Kimtan sejak tadi ingin menertawainya.


"Pphhhhtt, tidak." Kimtan menutup mulutnya, mencoba menahan tawanya.


"Sudahlah jika ingin tertawa, tertawa saja. Aku kesal melihat wajahmu seperti itu!"


"Maafkan aku, aku tidak bisa menahannya karena wajahmu terlalu imut untuk dilewatkan."


"Astaga, dia berbicara apa." Bisik Irine sangat pelan. "Sudahlah, cepat antar saya pulang. Saya tidak ingin adik saya khawatir karena saya pulang terlambat."


"Hueh, sepertinya adik mu sangat peduli dengan mu."


"......." Irine memilih tak merespon perkataan Kimtan.


"Apa kau juga memiliki Kaka?"


Deg. Kedua mata Irine membola mendengar pertanyaan yang dilontarkan Kimtan. "T-tidak, t-tentu saja tidak." jawab Irine dengan suara terbata-bata.


"Hm, begitu."


Setelah selesai percakapan itu, suasana menjadi hening. Irine mencuri pandang ke arah Kimtan, dia tak tau apa yang ada dipikiran Kimtan saat ini. Hatinya menjadi cemas karena telah berbohong mengenai Kakanya. 'Maafkan aku.' batin Irine, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan.


...****************...


Lala tengah memilih-milih hiasan yang akan dia pajang di beberapa ruangan. "Ini bagus kan?" tanya nya minta pendapat adiknya yang tengah asik menonton televisi.


"Apa Kaka ingin memajangnya di tembok kamar?"


"hm, begitulah."


"Oke aku setuju, itu memang bagus." ucap Candra seraya menganggukkan kepalanya.


"Kalo begitu aku akan memesannya." seru Lala penuh antusias dengan terus mengutak-atik ponselnya.

__ADS_1


"Memang Kaka ingin membelinya di mana?"


"Kaka tak sengaja membuka sebuah aplikasi shopping online dan ternyata banyak yang bagus-bagus juga. Jadi apa salahnya jika kita mencoba memesannya."


"Kaka tidak boleh bores, nanti Ka Irine marah. Dia kan wanita super hemat." celetuk Candra dengan santai dan langsung di hadiahi cubitan di pipinya.


"Aw." Candra memegang pipinya sambil menatap Kaka nya dengan mimik wajah cemberut. "Sepertinya Kaka tidak kalah jahatnya dengan Ka Irine."


"Hush, aku akan lebih jahat jika kau terus berkata-kata seperti itu." Ujar Lala.


"Baiklah-baiklah, semua wanita memang selalu benar dan laki-laki salah."


Lala dibuat tertawa dengan ucapan adiknya.


Candra mengecek arlojinya, sudah menunjukkan pukul lima sore. "Sebentar lagi Ka Irine pulang, sebaiknya Aku membeli makanan untuk makan malam yah Ka."


Lala juga melihat jam di ponselnya, memang benar adiknya itu sebentar lagi akan pulang untuk itu dia menyetujui ucapan Candra. "Jangan pesan makanan yang tidak sehat, Can."


"Siap Ka, Kaka tenang saja serahkan semuanya pada Candra." Ujar Candra berdiri dari duduknya, mengambil Hoodie yang tersampir di kursi.


"hm, jangan lama-lama perginya. Langsung pulang, Can." suruh Lala pada adiknya.


Lala menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Aku pergi Ka." pamit Candra.


...****************...


Setelah memakan waktu kurang lebih setengah perjalanan untuk sampai di rumahnya, Irine bernafas lega akhirnya Ia bisa terbebas dengan atasannya.


"Terimakasih untuk tumpangannya, Tuan." ujar Irine melepas steetblatnya. "Maaf sudah membuatmu repot seperti ini." sambungnya lagi, dia menundukkan kepalanya tak berani menatap lawan bicaranya.


Karena sepertinya tak ada respon yang ditunjukkan dari atasannya. Irine segera membuka pintu untuk keluar dari mobil Kimtan, namun lengan kanannya di tarik oleh pria itu hingga membuatnya menubruk dada bidang Kimtan.


"Astaga hah..." pekik Irine benar-benar terkejut. Kedua matanya bergulir ke kanan dan kiri, merasa panik dengan situasi seperti ini ditambah dadanya yang berdegup kencang sedangkan Kimtan sejak tadi tak membuka mulutnya membuatnya semakin takut.

__ADS_1


"T-t-tuan, apa yang kau lakukan?" Tanya Irine memberanikan diri, perlahan Ia mengangkat kepalanya menatap takut-takut kearah Kimtan. Benar saja, kedua matanya menatapnya dengan tajam semakin membuatnya menciut. "Kalo saya ada salah, saya minta maaf Tuan. S-sa-ya...."


Ditengah kebingungan gadis itu, Kimtan langsung mengangkat dagu Irine untuk menatapnya lebih jelas. "Kau benar-benar melupakannya dan seakan semuanya baik-baik saja bukan?"


Kedua mata Irine membola seperti akan keluar dari tempatnya, jantung seperti terpompa dua kali lipat dari biasanya. Saat bibir pria itu menempel pada bibirnya, mengecupnya dengan penuh emosi membuatnya kewalahan. Seperkian detik dia tak bergerak karena situasi yang tiba-tiba hingga akhirnya dia tersadar dan segera memukul dada bidang Kimtan.


Sepertinya Kimtan tak berniat untuk melepaskan ciumannya, jika saja Irine tak menggigit bibir pria itu. "Hah, hah, hah... Kau gila." seru Irine dengan nafas yang tak beraturan.


"Kau benar, aku memang gila. Aku tergila-gila olehmu, Irine."


Deg.


"K-kimtan, aku... " Irine tidak bisa melanjutkan ucapannya, selain kata maaf pada pria di hadapannya. "Maafkan aku." tunduk Irine, suaranya terdengar lirih.


"Maaf, maaf, maaf! Aku muak mendengar kata maaf yang keluar dari mulutmu itu!" kali ini nada suara Kimtan meninggi, membuat gadis itu terkejut dibuatnya.


" ......." Irine terdiam, tak tahu harus berkata apa.


"Tidak bisakah kau membalas perasaanku? Hm? Aku sungguh mencintai mu." Suara Kimtan melemah, kedua matanya berkaca-kaca. Baru kali ini, Kimtan menampakkan kelemahannya dihadapan seorang wanita. "Aku mencintai mu."


Berkali-kali Irine mendengar ungkapan cinta dari Kimtan, membuat hatinya merasa tersayat. Dengan sedikit ragu, Irine memegang pipi Kimtan. "Aku tahu, tapi aku tidak bisa."


"Apa karena Kaka mu?"


Deg.


"A-pa maksudmu?"


"Aku sudah tahu semuanya, jangan menutupinya lagi."


Kedua lengannya bergetar, dia bertanya-tanya sejak kapan Kimtan mengetahuinya. Padahal dia telah menutup rapat semuanya.


"Jika kau menolakku karena kakak mu, kau benar-benar egois."


"Kenapa kau mengatakan aku egois? B-bukankah kau mencintainya? Kenapa sekarang kau bilang cinta padaku? Bukankah karena dia kau menyukaiku, karena wajahku terlihat mirip dengannya. Kenapa sekarang kau menyebutku egois?" Irine benar-benar tidak terima dengan semuanya, dia juga tidak ingin menjadi seperti ini.

__ADS_1


Benar. Memang semua yang dikatakan Irine benar adanya, dia juga salah dalam situasi ini. "Maafkan aku telah berkata demikian." Gumam Kimtan lembut sambil membelai wajah Irine, melangkahkan kedua jarinya dari dahi kemudian hidung lalu bibirnya tipis mengusapnya sambil tersenyum.


"Kau membuatku candu." Setelah mengatakan itu, Kimtan kembali melahap bibir itu dengan sedikit kasar, menuangkan semua emosi yang memuncak di dalam hatinya. Terlihat, tak ada penolakan dari Irine. Membuat Kimtan semakin berani memperdalam ciumannya.


__ADS_2