
Stefi sangat senang saat melihat Irine tengah duduk di bangku lobi, tanpa berpikir panjang Ia langsung berlari menghampiri sahabatnya.
"Astaga Irine, aku baru bisa melihatmu saat ini. Huhuhu padahal kita satu perusahaan, tapi sulit sekali bertemu denganmu. Kau tau banyak sekali orang bergosip tentang mu, tapi tenang saja aku sudah menutup mulut mereka semua." Ucap Stefi terus mengoceh, tanpa tahu bahwa sang empu belum menyadari kehadirannya.
"Rin, Astaga anak ini ternyata melamun sejak tadi." Gerutu Stefi, dia pun langsung menepuk pundak Irine dengan cukup keras.
"Eh?" Tersadar dari lamunannya saat Stefi menepuk pundaknya. Sejak kembali lagi bekerja dia memang sudah tak fokus, entah kenapa pikirannya selalu terpusat pada pria itu. Bahkan, dia pun tak sadar jika sudah menjelang sore dan waktunya untuk pulang.
Awalnya dia merasa lega karena dia bisa cepat-cepat mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Namun, Kimtan malah memintanya untuk menemani pria itu ke suatu tempat bersama rekan bisnisnya. Dengan terpaksa juga aku harus meng-iyakan hal itu, mau bagaimana pun dia tetap Sekertaris Kimtan.
"Aih, nih anak melamun lagi." Tegus Stefi kembali.
"Sorry yah Stef, mungkin karena kelelahan saja." Ucap Irine dengan menyesal.
"Lagian kenapa sih, melamun aja. Udah sore kali, yuk pulang." Ajak Stefi pada Irine yang masih duduk santai di lobi perusahaan.
"Huem. Kau duluan aja, aku tengah menunggu seseorang." Tolak Irine dengan nada suara yang lesu.
"Hah? Seseorang? Siapa sih kok aku jadi kepo gini." Serbu Stefi dengan beberapa pertanyaan pada Irine.
"Istt, kau benar-benar seperti ibu-ibu penggosip banget sih. Sana menyingkir, aku lagi gak mood banget nih." Irine mendorong sedikit tubuh Stefi yang menempel padanya.
__ADS_1
"Huhuhu jahat sekali, padahal kita tak sering bertemu akhri-akhir ini. Kau sibuk, aku pun sibuk setelah menggantikan pekerjaan mu itu." Rengek Stefi, membuat Irine tak berdaya.
"Irine, ayo kita pulang." ujar seseorang.
Suara Barintone itu membuat dua orang yang tengah berbincang itu terdiam, terutama Stefi yang menganga menatap Pak Bos nya yang benar-benar super tampan di lihat sedekat ini.
"Sore Bos, mau pulang yah?" Tanya Stefi berbasa-basi pada Kimtan.
Irine menepuk keningnya, kenapa Kimtan datang di saat masih ada Stefi sih. Ditambah tatapan mata Stefi yang sejak tadi menatapnya tajam, hah membuatnya pusing saja. Pasti esok hari akan banyak gosip lagi, huhuhu kenapa dunia nya tak pernah tenang sih.
"Iya aku akan pulang bersama Irine." Jawab Kimtan tanpa ragu dengan sudut bibir yang terangkat membentuk senyuman.
Irine langsung memberikan tatapan tajam pada Kimtan, terserahlah mau dianggap tak sopan juga masa bodo. Lagian kenapa sih, si Stefi pake tanya-tanya segala pada Kimtan. Pikir Irine kesal.
Irine berdiri dengan lesu dari duduknya, membawa tas miliknya dan menghampiri Kimtan.
"Ayo Pak, mumpung masih sore jadi kita bisa tepat waktu bertemu 'Clint-nya." Ucap Irine menekan kata-katanya. "Kita pergi dulu yah. Kau hati-hati pulangnya, jangan mampir sembarangan tempat." Ujar Irine pamit pada Stefi.
Stefi hanya menganggukkan kepalanya saja, isi kepalanya masih terus tak percaya dengan apa yang ada di depannya ini. Stefi kembali memperhatikan keduanya yang berjalan keluar dari lobi perusahaan, Ia curiga dengan gerak-gerik Bos nya ini terlihat sekali ada yang aneh.
"Heh, jangan-jangan benar lagi gosip bahwa ada sesuatu diantara mereka." Stefi memicingkan kedua matanya menatap kedua orang tadi yang sudah pergi. "Gempar nih perusahaan kalo sampai terjadi." Gumamnya tak jelas.
__ADS_1
...****************...
"Pak Bagas." Teriak Stefi saat melihat Bagas berjalan keluar dari lobi perusaahan yang hendak meninggalkan kantor.
"Kau kok belum pulang? Bukannya tadi kau sudah pulang lebih awal." Tanya Bagas cukup terkejut, lalu menghampiri Stefi.
"Hah, itu bisa dijelaskan nanti yang ini lebih menarik untuk dibahas." ucap Stefi menarik Bagas mendekat. "Ini pasti akan membuatmu patah hati, kau tau aku tadi melihat Irine." Bisiknya dengan penuh semangat.
"Yaelah, aku juga melihat Irine kali. Tadi juga waktu mau masuk kerja aku melihatnya, terus waktu istirahat juga aku melihatnya. Kau aneh saja, kita kan satu kantor tentu saja pasti akan berpapasan tanpa disengaja." Sahut Bagas dengan santainya.
"Ih, kamu tuh tidak mengerti sekali. Ini berbeda, Aku tadi melihat Irine bareng Pak Bos kita dan dari penglihatan Indra Ke- 100 aku mengatakan bahwa Irine dan Pak Bos memiliki suatu hubungan, lebih jelasnya mereka sekarang tengah menjalin pendekatan." Ucap Stefi merasa yakin dengan pemikirannya.
Kedua mata Bagas membola, Ia terkejut mendengar penuturan dari Stefi barusan. Meski Ia tak mempercayai itu, tapi entah kenapa hatinya serasa dicubit.
"Hahaha. Masa sih? Kau salah lihat kali Stef, Irine kan kau juga tahu cuek banget sama cowok, malah lebih jutek banget sama cowok." Sargah Bagas mencoba menutupi rasa khawatir di hatinya.
"Yaelah, Pak. Ini kan Bos besar pasti sekelas Irine pun tak mampu menolak pesona dari Big bos kita. Masa kau tidak bisa membedakannya, Huh aku paling gemas jika seperti itu. Seandainya aku diposisi itu, aku pasti akan memilih Pak Bos." Timpal Stefi sambil membayangkan betapa bahagianya Ia jika bisa bersanding dengan Bos besarnya di perusahaan.
"Huss, sudahlah. Lebih baik aku pulang saja, jangan bergosip dengan yang lain nanti bisa-bisa Irine akan melempar dirimu ke laut." Ucap Bagas, berlalu pergi meninggalkan Stefi seorang diri. "Sebaiknya kau pulang juga, Bye."
Stefi menatap sebal punggung pria yang pergi meninggalkannya itu.
__ADS_1
"Si Bagas gak asik banget, padahal feeling ku gak pernah meleset selama ini." Desisnya kesal. "Pokoknya akan aku selidiki pergerakan mereka, aku adalah salah satu detektif handal dalam masalah percintaan." Ucapnya, Ia akan mendapatkan jackpot besar jika mendapatkan berita ini.