
Ke esokan paginya Irine tengah bersiap-siap untuk pulang ke rumah nya, setelah semua semua selang infus nya di copot oleh Suster.
"Kau buru-buru sekali ingin pergi dari rumah sakit." Celetuk Indah yang tengah merapikan pakaian milik Irine.
"Hey, tentu saja aku ingin cepat pergi. Siapa coba yang betah lama-lama di sini?"
"Ada, aku." Timpal Indah dengan santainya.
"Ceh." Desis Irine menatap punggung temannya sinis, "jelas saja kau betah Indah, kau kan memang bekerja di sini dasar yah."
"Sudahlah jangan marah-marah, kau mau pulang dengan siapa sekarang?" Tanya Indah menatap Irine sambil berkaca pinggang.
Mendapati pertanyaan seperti itu, Irine berpikir sejenak. Tidak mungkin dengan adiknya karena dia sudah menyuruh Candra untuk menjaga Ka Lala.
"Aku akan pulang sendiri." Jawab Irine setelah berdiam cukup lama.
"Aish, kau harus di temani. Baru juga sembuh, nanti kalau kau pingsan di jalan yang repot aku juga. Sebaiknya aku temani mu pulang ke rumah." Ucap Indah.
"Memangnya kau tidak sibuk mengurus pasien mu?" tanya Irine.
"hn, nanti aku izin dengan kepala bagian rumah sakit." Jawab Indah.
"Hn, baiklah. Terimakasih Indah, kau memang pahlawan tanpa tanda jasa." Seru Irine memeluk sang sahabat.
"Pahlawan tanpa jasa." cibir Indah memanyunkan bibirnya, "rasanya perutku jadi mual mendengarnya."
"astaga, bukan hanya cantik kau juga rendah hati." Ujar Irine kembali memuji Indah.
"Ah, sudahlah. Sebaiknya kau pamit dulu dengan Kaka mu tuh, aku juga hendak meminta izin terlebih dahulu." Seru Indah, langsung pergi meninggalkan Irine yang masih tertawa.
"Baiklah pahlawanku.." Ucap Irine berteriak girang menyebut Indah pahlawannya.
__ADS_1
...****************...
Setelah menyelesaikan pemeriksaan yang di lakukan oleh Lala di rumah Sakit, dia sekarang di ajak oleh Adiknya mampir ke kedai Es krim.
"Kau tau kak, dulu kita sering makan es krim seperti ini."
"Hah benarkah?" tanya Lala dengan ekspresi senang. "Ini seperti pertama kalinya untuk Kaka."
"Tenang saja ka, setelah pengobatan Kaka di sini semua berjalan lancar. Lambat laun, ingatan Kaka pasti akan pulih lagi." Hibur Candra menepuk bahu Kakanya.
"hn, terimakasih Candra. Kamu selalu menghibur Kaka." ucap Lala menatap dengan penuh binar.
"Tenang saja Ka, ini sudah sepantasnya karena kita adalah keluarga. Selain itu, aku juga merasa sedih karena belum bisa membantu Ka Irine."
"Memang nya kenapa dengan Irine?" Lala menatap Candra bingung.
"Kaka tau, setelah kepergian Kaka. Ka Irine bekerja keras untuk menafkahi kita semua, jadi aku benar-benar sedih ditambah perlakuan Ibu...." Candra menghela nafasnya kasar, dia tak bisa melanjutkan ucapannya jika mengingat perlakuan Ibu pada Ka Irine.
"Can..." Lala menepuk bahu Candra, dia bingung kenapa adiknya tak melanjutkan ucapannya. "Ada apa? kenapa jadi melamun. Apa ada sesuatu yang tidak mengenakan?" tanya Nya dengan penuh khawatir.
"Ah, yah es krim nya mencair." Lala tersadar dan menatap es krim nya yang memang sudah menetes ke bajunya. "Akh, bajuku jadi kotor." bisiknya.
"Astaga." Candra menatap baju Kaka nya dan benar saja baju Ka Lala menjadi koror. " Lap dengan tisu ini ka." Candra segera menyodorkan selembar tisu.
"Ah, apa kita beli baju ganti saja Ka?"
"Tidak. Tidak." Lala dengan cepat menolak. "Sebaiknya kita pulang saja."
"Tapi Ka, aku kan mau mengajak mu keliling kota."
"Tidak apa, lain kali saja." Lala meraih lengan Candra sambil tersenyum. "Kita masih memiliki banyak waktu, tak perlu khawatir."
__ADS_1
"hn, baiklah." akhirnya Candra mengiyakan usul Kaka nya untuk pulang. "Aku pesan Taksi dulu deh."
"Oea, kau sudah menghubungi Ka Irine lagi?" Tanya Lala menatap Candra.
"Ka Irine?" Candra langsung panik saat Lala menanyakan perihal Irine, karena dia pun tak tahu Kaka nya berada di mana. Bukan sekali dua kali memang Kaka nya tak pernah ada kabar begini, tapi yah gimana pesannya pun selalu di abaikan.
"Kau terlihat bingung, apa terjadi sesuatu dengan nya?"
"Ah, hahahaha..." Candra tertawa garing, dia masih mencari alasan yang tepat agar Ka Lala tak cemas. "hm, sepertinya dia lagi sibuk kerja. Soalnya pagi ini pesan ku belum di baca hahaha."
"Ah, begitu." Lala menganggukkan kepalanya mengerti, "Pasti dia lelah bekerja untuk kita. bisik Lala dengan nada lirih.
"Ah, Ka. Itu taksinya sudah datang, sebaiknya kita pulang." ujar Candra menunjuk taksi yang sudah datang di depan kedai. "Oke, let's go kita pulaanggg." seru Candra mendorong kursi roda Kakanya.
...********...
"Tuan, Aku mendengar kabar bahwa Nona Lala telah ditemukan dan saat ini berada di salah satu rumah sakit yang berada di Jakarta." Ucap Sekertarisnya Hendry.
Deg.
Jantungnya seakan berhenti kala mendengar kabar tentang wanita itu. Wanita yang telah lama hilang dari kehidupan putranya.
"Lala? kau serius? Di rumah sakit mana?" Tanya pria paruh baya itu mencoba memastikan lagi bahwa pendengaran nya memang tidaklah salah.
"Belum pasti di mananya, karena aku hanya sekilas mendengarnya saja Tuan, dari pembicaraan bawahan Tuan Muda Kimtan." Jawab Sekertarisnya yang menunjukkan beberapa lembar foto dan rekaman percakapan dari Kimtan.
"Sialan, wanita itu ternyata masih hidup." Desis Pria itu melempar handphone milik Hendry.
"Lalu, bagaimana dengan Kimtan?"
"Entahlah Tuan, sepertinya Tuan muda Kimtan juga terkejut mendengar kabar ini." Jawab Sekertaris Hendry.
__ADS_1
Pria itu meremas batang roko yang berada di lengannya. "Selalu kau pantai terus pergerakan Putraku, aku tidak ingin masa itu terulang kembali!"
"Baik Tuan." Ucap Sekertaris Hendery membungkukkan tubuhnya dan mengantar Tuannya menuju mobil yang terparkir di luar area Kantor.