Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 17


__ADS_3

Setelah mendapat informasi yang cukup mengenai Irine dari teman dekatnya, Kimtan langsung memanggil Sekretarisnya.


"Arka, datang keruangan saya!" Perintah Kimtan berbicara di telpon.


Tak selang berapa lama panggilan itu terputus, Arka datang dengan setelan jas rapinya ke ruangan Kimtan. Dia benar-benar pekerja yang disiplin dan sangat gerak cepat dalam bekerja.


"Ada apa Tuan memanggil saya?" Tanya Arka dengan membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada Kimtan.


"Antarkan saya ke alamat ini!" Pinta Kimtan menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat.


Arka menerima potongan kertas itu dan melihat alamat yang tertera ternyata tak jauh dari kantor.


"Baik Tuan." ucap Arka, tanpa menanyakan alamat siapa yang Tuan nya maksud


"Silahkan Tuan, mobilnya sudah siap didepan." ujar Arka, setelah menghubungi security yang menjaga di lantai bawah.


Kimtan bangun dari kursinya dan berjalan keluar, di ikuti oleh Arka dari belakang.


...****************...


Setelah memakan habis makanan yang dibawakan oleh adiknya, Candra. Irine masih tetap duduk di kamarnya sambil menyandarkan tubuhnya di tembok, meski kepalanya terasa pusing, dia jenuh juga jika dia hanya berdiam diri tanpa melakukan kegiatan apapun. Makanya Irine memilih untuk menonton Drama kesayangannya di Handphone, memang sudah dua hari ini dia tak menonton Drama karena kelelahan lembur.


"Ah. Padahal pria itu lebih cinta pada wanita berambut coklat, tapi kenapa Ia malah menerima wanita lain." Desis Irine tak menyukai keputusan sang pemain pria.


Drtt.Drttt.Drttt


Dia paling kesal ketika menonton drama dan ada panggilan masuk di handphone nya. Dia melihat siapa yang memanggilnya, membuatnya berdecak kesal. Dengan terpaksa, dirinya menekan tombol warna hijau, jika tidak satu orang ini pasti akan terus menelponnya tanpa ampun.


"Halo Rin."


"Hm, ada apa?" Jawab Irine datar.


Stefi meringis mendengar suara datar Irine, sepertinya sahabatnya tengah dalam kondisi tidak baik. Untuk itu Stefi mengurungkan niatnya untuk memberitahu Irine bahwa Presdir nya akan datang ke rumah.


"A-ah tidak, aku hanya ingin t-tau kondisi mu." ucap Stefi, di sebrang telpon Stefi terkekeh canggung. "Hahaha Tapi, sepertinya kau lagi dalam mood yang buruk. Apa sebaiknya aku tutup telponnya?"


"Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku Stef, tapi kau tau. Aku paling kesal saat menonton dan kau menggangguku." ujar Irine dingin.


'Ah, ternyata benar.' Batin Stefi meringis. "Iya Iyah, Maaf yah Rin. Aku tidak bermaksud mengganggu aktivitas mu, serius aku mengkhawatirkan mu doang." Ucap Stefi menyakinkan Irine. "Maafkan aku belum bisa menjenguk, kau tau pekerjaan mu semuanya di limpahkan padaku setelah kau sakit. Jadi cepet sembuh dan segera bekerja." ujar Stefi dengan nada suara yang terdengar sedih.


Irine yang mendengar nada suara Stefi lirih, sepertinya dia benar-benar tengah pusing dengan tugas barunya. Di sini Irine sedikit merasa bersalah karena dia, Stefi harus menggantikannya.

__ADS_1


"Setelah demamku turun, aku akan langsung bekerja. Terimakasih sudah menghubungiku, jangan terlalu terbebani." suara Irine mulai melembut, mungkin karena dia juga merasa bersalah dengan situasi Stefi saat ini.


"Hmm, Kalo begitu saya tutup panggilannya." ujar Stefi,


"Oke, terimakasih."


Pip.


Sambung telpon itu terputus. Irine merasa lega dan kembali menonton Dramanya yang sempet tertunda. Namun, ternyata dugaan Irine salah buktinya beberapa saat kemudian pintu kosan nya berbunyi.


Tok.Tok.Tok


Bunyi ketukan membuat Irine terkejut, baru saja dia bernafas lega. Kini datang lagi pengganggu, siapa yang datang berkunjung jam segini? Pikir Irine. Dia mencoba mengabaikannya dan kembali menonton drama yang tengah dia tonton.


Tok.Tok.Tok.


Ketukan pintu itu terdengar lagi, jika itu Candra dia tak mungkin tak bisa masuk karena kunci cadangan di bawa olehnya.


Dengan malas, Irine beranjak dari tempat tidurnya. "Akh kepalaku."erangnya sambil memegang kepalanya yang tak sanggup untuk di bawa berjalan, dengan tertarih dia berjalan pelan menuju pintu kosannya melihat siapa yang datang berkunjung


Kriet.


Pintu Kosannya dia buka, saat kedua mata itu bertemu. Irine membulatkan kedua matanya.


"Presdir!" Pekik Irine. "A-nda, Anda kenapa kemari? Dari mana Anda tahu 'alamat saya?" Irine bertanya dengan pertanyaan yang beruntun.


"Sudah bertanya Nona?" Ucap Kimtan balik bertanya, karena wanita tadi terus saja mengocehi dirinya dengan banyak pertanyaan. "Kenapa Anda tidak mempersilahkan saya untuk masuk terlebih dahulu?" Tanya Kimtan menatap area dalam Kosan Irine, meski sekarang Ia berada di pintu tapi pandangannya sudah mencakup area dalam Kosan Irine. 


"Ah ya, silahkan masuk Presdir. Maafkan saya, jika tempat saya sempit dan tak nyaman untuk Presdir." Irine menggeser tubuhnya ke sebelah kiri, guna memudahkan Kimtan untuk masuk.


Benar saja, tanpa rasa malu ataupun sungkan Kimtan berjalan masuk. Matanya menelisik semua yang berada dijangkauan mata nya. Mulai dari susunan ataupun tata letak ruangan yang benar-benar sangat rinci.


"Kau pandai dalam menata ruangan." Puji Kimtan pada Irine.


"Terimakasih." Sahut Irine, tentu saja pandai karena memang tak banyak perabotan rumah yang dia miliki. Batin Irine.


"Apakah Anda ingin minum kopi atau teh?" Irine mendekati Kimtan, melihat apa yang tengah pria itu lihat. Entah kenapa pusing yang tadi dia rasakan, menghilang seketika.


Di sisi lemari yang di atasnya berjejer foto-foto dirinya dan keluarganya dulu, di sana Kimtan tengah mengamati salah satu foto yang membuat Irine semakin gugup.


"Pr-esedir, sebaiknya Anda duduk saja. Biar saya buatkan minuman dan cemilan untuk Anda." Ucapnya. mencoba mengalihkan Kimtan agar tak lebih jauh masuk ke dalam Kosan nya dan melihat foto dulu dirinya yang jadul.

__ADS_1


"Ini kamu?" tunjuk Kimtan pada salah satu foto.


"Eh?" Irine melihat bingkai foto yang tengah dipegang oleh Kimtan. "Y-ya itu aku." Jawabnya kemudian.


Kimtan melirik Irine kemudian kedua matanya kembali melihat foto yang tengah Ia pegang. Terlihat tak ada perubahan dari foto masa kecilnya, tetap cantik. Batin Kimtan tanpa menyadari kata-katanya.


"Foto mu pakai Hanbok (Pakaian Tradisional Korea)?" Tanya Kimtan penasaran.


"Hm, saat kecil Ayahku mengajak aku ke Korea ." Jawab Irine cepat, Ia juga langsung menerobos dan menghalangi Kimtan untuk melihat-lihat lagi fotonya dulu.


"Kau pernah ke Korea, Saya juga ada campuran dari Korea." ucap Kimtan.


'Aku tidak bertanya' Batin Irine menatap Presdir nya.


"Kenapa kau tidak ada di foto ini? Bukannya ini foto keluarga?" tanya Kimtan pada salah satu foto.


Irine menatap foto yang di tunjuk Presdir nya, entah kenapa pria di hadapannya ini sangat penasaran dengan foto-fotonya.


"Saya tidak tahu, Ingatan saya kurang bagus jika membahas masa lalu." Ujar Irine mengalihkan pandangannya dari lelaki itu.


"Ah, Presdir. Sebaiknya Anda duduk bersantai di sofa saya terlebih dahulu, meski tak empuk layaknya awan di langit tapi setidaknya bisa membuat Presdir bisa mengistirahatkan lelah Anda." ucap Irene sambil mendorong pundak Kimtan ke arah sofa.


"Nah, saya akan membuatkan minum untuk Anda." Ujarnya tersenyum tipis.


Irine berjala ke dapurnya dan masih bisa melihat Kimtan yang masih menengok sana sini, seperti mencari sesuatu.


'Fyuhhh, kenapa juga pria menyebalkan ini datang ke rumahku? Dia tahu dari mana alamat rumahku? Kantor, hah yah mungkin dari kantor. Dia adalah Presdir wajar saja jika pihak kantor dengan mudah memberikan alamat dirinya. Karena memang peraturan kantor tidak boleh sembarangan memberikan informasi pribadi karyawan nya.


Setelah kopi siap, Irine segera membawa dan meletakkannya di atas meja. "Maafkan saya, jika Presdir tidak nyaman di tempat saya yang sempit ini." Ucap Irine.


"Bukankah kau sakit?" Tanya Kimtan mengabaikan perkataan Irine.


"Ah, ya begitulah. Semalem saya demam, tapi saat ini demam saya sudah turun Presdir." jawab Irine sambil tersenyum.


"Benarkah?" Tanya Kimtan tiba-tiba mendekat ke arah Irine dan langsung menempelkan telapak tangannya di kening wanita di depannya membuat sang empu memundurkan tubuhnya karena terkejut. Hal itu, malah tak sengaja membuat tubuh Kimtan oleng dan hampir saja menimpa tubuh Irine. Jika saja kedua lengannya tak langsung menompa tubuhnya di kedua sisi tubuh Irine.


Kimtan menatap wajah Irine dari jarak yang begitu dekat atau bisa di bilang hampir tak ada jarak sama sekali. Hingga tatapan itu beradu pandang.


"Nafas Rin." Kata Kimtan pada Irine yang menahan nafas.


Wajah Irine mulai merona saat menyadari posisi mereka yang tak pantas. "M-aaf Presdir." Ucap Irine segera saja mendorong tubuh Kimtan ke sampingnya. "A-aku akan mengambilkan Anda cemilan lagi." Sambung Irine berjalan ke arah dapur kembali, menghindari tatapan Kimtan.

__ADS_1


Melihat gerak-gerik Irine yang gugup membuat Kimtan terkekeh karena tingkah nya yang lucu menurutnya. "Hahaha lucu sekali."


__ADS_2