
Seperti apa yang telah di rencanakan semalam, saat ini Irine telah mempersiapkan keperluan Kakak nya untuk pergi ke rumah sakit.
"Cand, mau berangkat sekarang?" tanya Irine pada adiknya.
"hm, benar Ka. Tidak apa kan di tinggal sekarang?" Candra menatap Kakak nya.
Mengerti tatapan yang dilayangkan oleh adiknya, Irine hanya memutar kedua matanya dengan malas. "Sudahlah, memangnya Kakak mu ini tidak bisa mengurusnya. Gini-gini Kakak mu strong loh." ucap Irine sedikit kesal karena di remehkan adiknya.
"B-bukan begi....'
"Sudahlah, sana-sana pergi. Kau juga sudah lama tidak bertemu kekasih mu kan?"
Mendapati pertanyaan itu membuat Candra terkejut, di menggaruk tengkuknya merasa malu.
Irine mendekat pada adiknya lalu membisikkan sesuatu membuat wajah sang adik langsung memerah. "Kakak."
"Hehehehe... Sudahlah sana pergi." Lanjut Irine mendorong tubuh adiknya keluar.
"Jika ada sesuatu langsung kabari aku, jangan percaya pada pria di luar sana." Candra terus mengoceh pada Kakaknya.
"Iyah, Iyah."
Bruk. Pintu itu Irine dorong cukup kencang sehingga menimbulkan sedikit kebisingan di pagi hari, tapi jika tidak seperti itu adiknya akan terus mengomelinya.
"Irine, kenapa ribut sekali." seru Lala yang tiba-tiba berada di belakangnya.
__ADS_1
"K-kaka." Irine cukup terkejut, dia pikir Kakaknya masih tidur. "M-maaf, apa kau baru bangun tidur?"
"Tidak." jawab Lala singkat. "Jam berapa perginya?"
"Hm..." Irine menoleh ke arah dinding, melihat jam saat ini. "Aku telah menghubungi Dokter untuk bertemu jam 9 jadi kita masih memiliki waktu untuk sarapan terlebih dahulu." Lanjutnya.
Irine mendekati Lala. Mengitari kursi roda dan mendorongnya menuju meja makan.
"Aku sudah memasakkan ini untuk mu."
Lala menatap nasi goreng yang telah tersaji di meja makan. "Tumben, apa kau yang memasaknya?" Lala menatap adiknya.
"T-tentu saja, aku bisa masak kok." Timpal Irine duduk di sebelah Kakanya. "Tenang saja, rasanya di jamin enak meski tampilannya tidak sebagus seperti di restoran-restoran itu." Gumam Irine.
"Enak. Terimakasih untuk sarapannya."
Srak. Irine langsung berdiri dari duduknya lalu merapihkan bekas makannya dan juga sang kakak.
"Sama-sama Kak, aku akan mencuci piringnya terlebih dahulu."
Lala tak merespon, dia memperhatikan setiap gerakan adiknya. Lala meremas dadanya, dia merasa ada yang aneh. Kejadian seperti ini, seakan pernah mereka lalui tapi kapan?
"Akh.." Lala meringis pelan sambil memegang kepalanya yang kembali berdenyut.
Entah kenapa setiap dia mencoba berusaha untuk mengingat kenangan sebelumnya, kepalanya akan terasa sakit.
__ADS_1
"Irine... Kemarin mendapati sedikit ingatan cuplikan kepalaku." Ucap Lala, mencoba memberitahu adiknya.
Deg. Mendengar itu, seketika pergerakan tangannya terhenti.
"Tidak terlalu nyata, tapi ada nama seseorang yang selalu aku sebut dalam ingatan itu." lanjutnya.
Jantung Irine semakin berdegup kencang, menunggu apa yang akan dikatakan Lala selanjutnya.
"Namanya K-ki hmm...." Lala mencoba mengingat-ingat lagi. " k-Kim...."
"KAKAK!" Pekik Irine masih dengan posisi membelakangi Kakaknya. "Jangan..." Irine mengepalkan lengannya.
"K-kenapa?" Tanya Lala terkejut.
Irine sejenak berpikir, kata apa yang akan dikeluarkan agar kakak nya tidak curiga padanya. "K-karena itu akan menyakitkan untuk Kakak."
"Apa maksudmu?" Tanya Lala, dia dibuat bingung dengan perkataan adiknya.
Tangan Irine mengusap cepat pipi putihnya, lalu membalikkan tubuhnya. Menatap Kaka nya dengan senyuman yang berhias di wajahnya. "Tidak usah khawatir Kak, semaunya akan baik-baik saja. Jadi pelan-pelan saja dalam mengembalikkan ingatan kakak." Ucapnya, kakinya melangkah mendekati sang Kakak.
"......" Lala masih bungkam, dia sangat bingung dan belum memahami perkataan adiknya.
"Candra kemaren berkata padaku, jika Kakak mencoba mengingat kembali masa lalu kepala Kakak pasti akan terasa sakit dan menurut dokter itu tidak baik untuk kesehatan Kakak."
"Baiklah."
__ADS_1