Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 48


__ADS_3

Dari tempat duduknya, dapat Irine lihat mempelai laki-laki meminta restu pada orang tua wanita, setelah bersimpuh laki-laki itu berjalan lalu duduk di samping mempelai wanita untuk melakukan Ijab Qobul.


Irine tahu, proses Ijab qobul adalah suatu acar yang sangat sakral. Dan Irine merasa ikut gugup ketika lengan mempelai pria itu menjabat lengan Ayah dari mempelai wanita. Sayup-sayup terdengar suara prosesi Ijab qobul dari suaranya saja, Ia sangat bisa merasakan jika pria itu benar-benar mencintai pasangannya.


"Bagaimana para saksi, Sah?" Tanya penghulu tersebut pada kedua saksi.


"SAH!"


"SAH!"


Ujar kedua saksi dan diikuti semua orang yang berada di ruangan tersebut dengan suasana hati yang ikut senang, karena prosesi akad berjalan dengan lancar tanpa halangan.


Akhh, Irine ikut merasa lega melihat temannya sudah sah menjadi istri orang. "Indah, aku pergi ke kamar mandi dulu yah." Bisik Irine pada Indah yang masih terlihat fokus menyaksikan sang pengantin. Dia sejak tadi ingin pergi ke kamar mandi namun dia urungkan karena masih menunggu proses Ijab Qobul, setelah selesai dia tak bisa menunggu lagi untuk pergi ke kamar mandi.


"Akh, baiklah. Jangan lama-lama yah, awas nyasar." timpal Indah. Meski menimpali perkataan Irine, wanita itu masih tetap fokus pada acara yang berlangsung.


Benar saja, sepertinya gadis yang bernama Irine benar-benar tak bisa menahan diri, dilihat dari berjalannya yang sedikit mengangkat gaun panjang selutut kakinya. Syukurnya, Irine tak memakai gaun yang bergelambir sampai ke lantai seperti Indah jika dia memakai gaun seperti itu dia tak yakin akan aman atau tidak pada situasi seperti ini.


Belum juga beberapa langkah wanita itu keluar dari ruangan yang penuh dengan orang-orang, lengannya yang ditarik membuat sang empu terkejut.


"Hah." Seru Irine terkejut, dia menatap dada bidang seorang laki-laki di depannya yang sangat Irine yakini bahwa pria ini juga yang menarik lengannya.


Sesaat, dia lupa mengenai kamar mandi saat indra penciumannya mencium aroma wangi yang maskulin, sangat familiar dalam penciumannya.


"Hai Rin, kau mencoba menghindari aku lagi?"


Deg.


Dan benar saja, wangi familiar ini tak salah lagi jika bukan seseorang yang bernama Kimtan.


Irine sedikit mendongakkan wajahnya, menatap pria tampan di depannya yang tengah menatap dirinya dengan wajahnya yang datar.


"Lepaskan! Atau aku akan teriak di sini." Ancam Irine pada Kimtan. Namun sepertinya pria itu takut dengan ancaman yang diberikan Irine.


"Teriak saja, jika kau mau semua orang tahu tentang hubungan kita." ucap Kimtan sambil terkekeh.


"Apa mau mu?" Akhirnya Irine menyerah.


Kimtan menatapa Irine yang kini terlihat gugup, meski coba wanita itu tutupi. "Aku ingin kau, Rin." Seru Kimtan menatap serius ke arah Irine.


"Tapi aku tidak menginginkanmu." Jawab Irine datar.


"Bohong, jelas kau pandai berbohong." Kimtan mulai memojokkan tubuh Irine ke dinding dan menghimpit tubuh wanita itu dengan tubuhnya.


"Kau melupakan kejadian semalam? Apa aku harus mengingatkannya kembali, apa yang keluar dari mulut indah mu ini?" Ucap Kimtan sambil mengelus pipi Irene.


Wanita dihadapannya ini kembali membuatnya takjub, betapa tidak dapat dirinya rasakan hatinya berdegup kencang. Mengalahkan alunan musik yang tengah bergema. Sihir apa yang sebenarnya wanita berikan padanya.

__ADS_1


"I-tu tidak seperti yang kau bayangkan Kimtan! Kau salah paham, malam itu aku hanya terbawa suasana. Jadi kita bisa lupakan semuanya, ok?" Sela Irene.


"Lupakan? Terbawa suasana? Apa maksudmu?" Kimtan terkekeh, mendengar penuturan gila Irine. "Jangan menganggap aku bodoh! Aku tahu bagaimana perasaanmu untukku, aku sangat tahu dan bisa merasakannya di sini." Ucap Kimtan memegang dadanya yang berdegup.


"Kau masih mencintai wanita yang kau sebut mirip denganku itu bukan? kau jelas-jelas mencintai dia bukan aku." Teriak Irine, wanita ini sudah habis kesabarannya. Karena memang faktanya, Kimtan hanya mempermainkan perasaannya.


Kimtan membeku, teriakan Irine membuat pikirannya menjadi buyar.


Meskipun kenyataannya seperti itu, tapi Irine tak menyangka jika menghadapinya secara langsung akan membuatnya lebih menyakitkan seperti ini. Ditambah Kimtan yang tak merespon ucapannya, pelukan yang diberikan pria itu pun melonggar dari tubuhnya. Meski memudahkan dirinya untuk keluar dari Kungkungan laki-laki itu, tapi ada hal yang lebih menyakiti hatinya bahwa kenyataannya memang Kimtan tak pernah menganggap nya ada dan memang tak pernah menyukai dirinya.


Dengan perlahan Irine melepaskan Kungkungan Kimtan, lalu pergi meninggalkan pria itu dengan derai air mata yang sudah membasahi pipinya. "Kau harus kuat, ini konsekuensi yang harus kau terima Irine." Monolognya.


Gadis itu menangis tersedu, sampai lupa niat awalnya ke kamar mandi untuk apa..


...*********...


Setengah jam berlalu, Indah yang awalnya santai karena Irine belum kembali juga kini menjadi khawtair. Kemana perginya sahabatnya itu, padahal mereka belum menyapa sang pengantin.


"Indah."


Indah langsung menolehkan wajahnya, kedua matanya membola." Irineeee kau dari mana saja? Aku mencarimu sudah setengah jam tau, memang kau makan di toiletnya hah?" Seru Indah dengan banyak sekali pertanyaan.


"Aku tadi ke sasar, maaf yah lama menunggu." Jawab Irine dengan suaranya yang terdengar parau, membuat Indah menatapnya curiga.


"Kau abis menangis?" Tanya Indah memicingkan kedua bola matanya, menatap intens ke arah Irine.


"Akh kau ini, membuat khawtair saja. Lain kali minta antar aku saja, jangan lagi-lagi sendiri oke?" Kata Indah yang begitu khawatir dengan kondisi Irine.


"Hm, Terimakasih." Ucap Irine


mengembangkan senyumnya. "Ah, ngomong-ngomong kau sudah menyapa pengantinnya belum?" Tanya Irine.


"Belumlah, aku kan nungguin kamu." Jawab Indah sambil memasukkan kue kedalam mulutnya.


"Ya sudah, hayu sapa pengantinnya Kita beri selamat pada mereka." Ajak Irine.


Mereka berjalan melintasi banyak kerumunan orang-orang, Irine sempet merasa tak nyaman awalnya karena saking banyaknya para tamu undangan.


"Hai Sinta." Sapa Indah pada sang mempelai wanita.


"Wahhh, Indah dan Irine kenapa baru datang?" Tanya Sinta pada keduanya, wanita itu tersenyum bahagia menyambut kedatangan Irine dan Indah.


"Kita dari awal sudah datang, tapi baru sempet menyapamu." Jawab Irine tersenyum manis.


"Akh begitu, Terimakasih yah sudah datang ke pernikahanku." Peluk Sinta.


"Tentu dong, kita do'akan saja supaya Irine segera menyusul." Bisik Indah pada Sinta namun masih terdengar jelas oleh pendengaran Irine.

__ADS_1


"Aku dengar Indah." Timpal Irine datar, membuat kedua temannya tertawa. Yah beginilah resiko seorang jomblo jika datang ke pernikahan, selalu itu yang dibahas.


"Akh, ngomong-ngomong mana suamimu. Kok gak ada?" Tanya Indah melihat sekeliling, "Suami kamu tampan banget sih Sinta, aku tadi melihatnya seperti sedang menyaksikan sebuah drama gitu." Seru Indah dengan wajah yang tersenyum memerah.


"Hahahaha kau ini, bisa saja. Dari dulu yah, pengagum pria tampan." Kekeh Sinta. "Sini-sini, suamiku lagi mengobrol dengan teman bisnisnya." Bisik Sinta menarik lengan Devi.


Irine yang melihat itu, hanya menganga. Kenapa mereka tak pernah berubah sih Oh Tuhan. Dia dengan lesunya, hanya mengikuti kemana dua orang itu pergi.


"Sayang, ini temanku sewaktu SMA. Mereka ingin menyapamu." Ucap Sinta berbisik pada suaminya.


"Oh hai, aku Indra suami nya Sinta." Salam Indra pada Indah dan Irine.


"Hai Indra, aku Indah dan ini Irine. Kami berteman sejak masa Kuliah meski berbeda jurusan. Sudah lama memang kami tak bertemu. Eh malah undangan yang datang ke tempat kerjaku." Seru Indah.


Indah memang sosok yang sangat mudah akrab dengan orang baru beda dengan Irine yang hanya tersenyum canggung.


"Indra."


Tiba-tiba seorang laki-laki datang memanggil Indra.


"Oh Kimtan, kau baru datang?"


Deg.


Irine kembali dibuat terkejut lagi, sudah berapa kali dirinya harus bertemu dengan pria ini. Irine berusaha sebisa mungkin untuk bersikap santai, Ia tak ingin terlihat menyedihkan di hadapan Kimtan.


"Woow, bukankah kau Bos nya Irine?" Tanya Indah tiba-tiba, membuat Irine menatap terkejut ke arah temannya. Kenapa temannya ini berbicara seperti itu?


"Wahh ternayata dunia benar-benar sempit yah." Seru Sinta tersenyum senang.


"Kau benar sayang, dunia memang sempit." Timpal Indra merangkul Istrinya. "Siapa yang menyangka bahwa temanku ini memiliki wanita cantik seperti teman mu sayang." Goda Indra, membuat Irine bertambah canggung.


"Tapi kenapa kalian terlihat canggung begitu?" Tanya Sinta saat melihat keduanya.


Irine hanya diam dan menggerutu dalam hati, kenapa Sinta semakin memperpanjang pembahasan ini. Rasa-rasanya Irine ingin cepat menghilang dari tempat ini.


"Akh, kalo begitu aku pamit pulang dulu yah Indra. Ada urusan kerjaan yang belum terselesaikan, ngomong-ngomong sekali lagi selamat yah." ucap Kimtan sambil menyalami Indra.


"Wah kenapa cepat sekali? padahal kita baru saja bertemu."


"Yah mungkin lain kali saja." jawab Kimtan seadanya, kedua matanya sesekali melirik ke arah Irine tanpa sepengetahuan orang-orang ini.


"Sangat disayangkan, padahal susah sekali bertemu dengan bos besar seperti mu." Canda Indra.


"Hahaha, ya sudah aku pamit dulu. Bye."


Saat pria bernama Kimtan itu pergi menjauh, gadis itu diam-diam menatap punggung Kimtan dengan sendu, sepertinya pria itu- akh sudahlah Irine bukankah ini yang kau inginkan.

__ADS_1


__ADS_2