
Dia merasa tak enak hati pada adiknya Irine karena meninggalkannya waktu di kantin kemarin, awalnya dia ingin langsung meminta maaf tapi berhubung pasien saat itu tiba-tiba membeludak, dia tak jadi mendatangi Candra.
Dan hari ini setelah longgar, Ia mendatangi kembali ruangan Irine. Sekalian melihat kondisi Irine, Ia juga ingin meminta maaf pada Candra.
Saat masuk ke ruangan Irine, Indah melihat
Candra tengah mengupaskan buah Apel untuk Kaka nya sambil berbincang-bincang santai.
"Indah." Gumam Irine, saat melihat sahabatnya masuk ke kamar inapnya.
Candra menolehkan wajahnya ke arah pintu, benar saja di sana tengah berdiri wanita cantik yang merupakan Sahabat sekaligus Dokter Kaka nya.
"Hallo Rin, saat ini kondisi mu bagaimana?" tanya Indah, berjalan menghampiri keduanya.
"Hn, cukup baik. Terimakasih sudah menjagaku, Indah." Ujar Irine tersenyum lembut.
"Itu sudah tugasku, Rin." timpal Indah mengusap lembut lengan Irine. "ah ngomong-ngomong Candra, maaf yah soal kemarin Kaka tidak bermaksud meninggalkan mu begitu saja." ucap Indah merasa tak enak hati pada Candra.
Candra cukup terkejut dengan perkataan Dokter Indah, dia bingung kenapa wanita ini seperti sangat merasa bersalah padahal dia tahu wanita sedang berkerja seharusnya dia yang meminta maaf.
"Tidak apa Kak, Ka Indah adalah Dokter pasti akan ada panggilan darurat terus."Ujar Candra tersenyum tulus. "Dan seharusnya aku yang minta maaf karena mengganggu waktu luang Kaka hehhee." lanjutnya.
"hn, tidak apa." Timpal Dokter Indah merasa malu. "Haduh Rin, adik mu dewasa dan sangat pengertian sekali." puji Dokter Indah sambil mengacak rambut Candra.
"Hahahaha.. Kau tidak tahu saja bagaimana menyebalkan Ia saat bersamaku." cibir Irine sambil tertawa mengejek Candra, membuat lelaki itu tersipu malu.
"Apasih Ka, aku tidak seperti itu." elak Candra. "Oea Ka, aku sudah mengabari teman kerja Kaka itu lagi. Aku sengaja mengabarinya lagi, soalnya kemarin aku cuma meminta izin sehari saja tapi ternyata kondisi Kaka belum cukup pulih sehingga harus beberapa hari di rawat rumah sakit." Ucap Candra memberitahu Irine. "jadi Kaka tak perlu cemas lagi soal bekerja." lanjut Candra.
"Benar Rin, kau sepertinya kelelahan makanya kekurangan cairan. Setelah air infusnya habis, semoga besok kau bisa pulang tapi jangan langsung bekerja juga."
__ADS_1
"Syukurlah, aku lelah di rumah sakit. Bau nya gak enak, aku gak betah." keluh Irine.
"Ya elah, baru juga beberapa hari. Gimana aku yang setiap hari di sini." Cibir Dokter Indah.
"Yah itu kan pekerjaanmu." jawab Irine tak terima.
"Benar kata Ka Indah, Kakak memang penakut dari dulu kalo di rumah sakit." Ucap Candra membuatnya harus mendapatkan tatapan tajam dari Irine.
"Hahahaha serius Can? aku baru tahu loh. Astaga, ternyata cewe keras kepala ini bisa takut juga yah." ejek Dokter Indah sambil tertawa senang.
"Benar Ka, dia bahkan sempet mengompol karena takut di suntik." ucap Candra membongkar aib Kaka nya.
"Yakkk Candra." Pekik Irine langsung membungkam mulut laknat adiknya, karena telah membuka aibnya. "Kau berbicara apasih?" Irine menekan nada bicaranya, kedua matanya menatap mata adiknya seakan berkata 'bilang lagi, tak akan ada uang jajan'
"Hahahaha..." Dokter Indah hanya tertawa melihat interaksi kedua Kaka adik ini. "Sudahlah Rin, jangan seperti itu pada adikmu." ucap Dokter Indah menutup mulutnya, tak bisa menahan tawanya.
"Puaskan nertawain aku terus, puas." ujar Irine menatap kesal mereka berdua. "Sudahlah sana, aku mau Istrihat sebaiknya kalian keluar." Irine langsung membaringkan tubuhnya dan menutup seluruh badannya dengan selimut.
"Nggak!" Tolak Irine dengan suara kesal.
Candra melirik Dokter Indah sambil tersenyum. "Sepertinya Kakak lagi kambuh marahnya." ucap Candra dengan suara berbisik.
"Ssttttt." Dokter Indah meletakan jari telunjuknya di atas bibirnya. "Biarkan saja, sebaiknya kita keluar yuk." Ajak Dokter Indah pada Candra.
"Hayu." Jawab Candra dengan suara tak kalah pelan sambil meletakkan piring yang berisi potongan buah apel di atas meja sisi tempat tidur Irine.
...***************...
Disisi lain, Kimtan tengah duduk tegap di ruang kerjanya. Pria itu tengah berkutat dengan semua berkas yang menggunung akibat Arka yang tak mau membantunya dan Ia juga menolak pengganti Irine. Karena dirinya merasa tidak nyaman jika ada wanita lain, apalagi yang baru dirinya kenal.
__ADS_1
Padahal Irine juga wanita yang baru dikenalnya..
Saat ini meski tubuhnya tengah bekerja, tapi pikiran Kimtan tengah berkelana memikirkan gadis itu. Raut wajahnya memerah setelah mendapat kabar dari Arka kemarin yang membuat darahnya mendidih, menahan amarah.
"Tuan, sebaiknya Anda istirahat terlebih dahulu." ujar Arka, menatap khawatir Tuan nya. Dia merasa tak tenang melihat aura Tuan nya yang seperti ada api di belakang tubuhnya.
Kimtan langsung mengalihkan tatapannya ke arah Arka, "Salah siapa aku begini? kau juga tidak mau membantuku." ucap Kimtan menyindir Arka.
'Kenapa aku yang di salahkan, padahal aku juga memiliki banyak sekali pekerjaan huhuhu' (T_T)
"Maaf Tuan, Saya sudah memberi Anda saran untuk meminta bantuan pada pekerja lain untuk menggantikan Nona Irine....
"Tidak perlu, jangan katakan lagi." Ucap Kimtan menyela perkataan Arka.
Tubuh Arka langsung lemas, Tuan nya memang tidak pernah memikirkan perasaannya huhuhu. "Baiklah Tuan, apa Anda perlu sesuatu lagi? Jika tidak ada Saya akan kembali ke ruangan Saya."
"Hn, kau boleh keluar." ucap Kimtan mempersilahkan Arka untuk kembali.
"Terimakasih Tuan, jika Anda membutuhkan Saya lagi silahkan hubungi Saya." Ujar Arka pamit keluar.
Setelah pintu itu tertutup rapat, ruangan menjadi sunyi Kembali. Kimtan menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap ruangan tempat Irine biasa bekerja.
Kedua bola matanya menatap kosong tempat itu. "Kenapa dia tak menghubungiku? Apa sakitnya terlalu parah?" gumamnya.
Pesan yang dirinya kirimkan pada Irine pun tak kunjung wanita itu balas, padahal dia menantikan balasannya.
Kimtan mengusap wajahnya kasar, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa hatinya menjadi gelisah dan tak karuan seperti ini.
"Bagaimana jika Irine terluka? Bagaimana jika Irine bersama- pria lain? Apa yang.. akhhh-- teriak Kimtan semakin gelisah, kenapa Arka tidak mengatakan secara rinci mengenai kondisi Irine.
__ADS_1
Meski Kimtan tak rela jika ada orang lain di kehidupan Irine, tapi Kimtan juga tidak bisa menutup kenyataan bahwa Irine juga- akh. Kenapa pikirannya semakin jauh saja.
"Astaga, sebaiknya aku pastikan terlebih dahulu." Gumamnya, Kimtan tak ingin menduga-duga lagi yang malah semakin membuatnya frustasi.