
"Apa kau membuat masalah lagi?"
"Ya seperti biasa." Jawab Irine sambil menyesap minumannya, setelah dia menunggu dengan tidak sabar jam istirahat karena kecanggihannya pada Kimtan. Tapi Syukurlah, pria itu tak berkomentar lebih mengenai keterlambatannya dan situasi semalam.
Stefi terkekeh. "Kau terlihat sangat tertekan, padahal baru beberapa minggu kau di angkat jadi Sekertaris."
Irine sedikit membanting minuman yang sudah tandas di atas meja. "Kau akan mengerti setelah kau menjadi sekertaris Pria itu." Ucap Irine, kedua matanya menatap ke depan dengan kesal. "Arghhhttt, harus sampai kapan aku menjadi sekertarisnya." pekiknya frustasi.
"Sudahlah Rin, kenapa kau tidak terima saja. Lagi pula gaji sekertaris lebih besar dibandingkan pekerjaanmu sebelumnya, kau bisa mengumpulkan lebih banyak uang untuk lanjut kuliah nanti."
Ada benar juga yang dikatakan Stefi, setidaknya dia harus bersabar menghadapi Kimtan. "Hm kau benar, ya sudah sebaiknya kita kembali bekerja. Waktu istirahat sudah habis, aku tidak ingin terlambat lagi." ucap Irine berdiri dari duduknya.
Irine baru saja mau masuk ke ruangannya, dia malah berpapasan dengan Arka asisten Presedir nya.
"Halo Tuan Arka." Sapa Irine dengan sopan.
"Akh, Nona Irine syukurlah bertemu di sini. Ada pesan dari Tuan Kim, beliau mengatakan Anda boleh pulang cepat hari ini. Presedir juga pulang lebih awal karena ada beberapa keperluan mendesak."
Irine menggaruk pelipisnya, "Tapi Tuan Arka, saya tidak apa-apa lanjut bekerja juga." Irine jelas merasa tidak enak jika harus pulang lebih dulu dibandingkan karyawan lain.
"Ini adalah perintah Presedir, Nona." Tekan Arka pada Irine.
"Akh, baiklah aku akan membereskan barang-barangku terlebih dahulu." Ucap Irine masuk keruangan kerjanya.
Sedangkan Arka kembali melanjutkan pekerjannya.
"Aish ada angin apa pria itu menyuruhnya terlebih dahulu untuk pulang." gumam Irine, sambil memasukkan barang-barang nya ke dalam tasnya. "Ya sudahlah, setidaknya dia bisa beristirahat lebih cepat hari ini."
...*************...
"Kimtan? Kau pulang nak." Isabel terkejut saat melihat Kimtan kembali pulang ke rumah, selama ini Ia merasa khawatir dengan kondisi anaknya yang tak pulang-pulang ke rumah dan lebih memilih tinggal di apartemen miliknya.
"Sayang." Ucap Isabel kembali, menghampiri Kimtan dan mengusap wajah anak tercintanya. "Mamah senang kau kembali lagi ke rumah, mamah buatkan makanan kesukaanmu yah nak." Ucap Isabel tersenyum manis, namun belum juga ada respon yang diberikan oleh Kimtan.
Pria itu hanya menatap wajah Mamah nya dalam diam, kemudian lengannya menyingkirkan tangan Mamahnya yang tengah menyentuh wajahnya. "Tidak perlu, aku sudah makan di luar. Lagipula, aku datang hanya ingin menemui Ayah 'bukan untuk pulang." Desis Kimtan menatap sekitar dengan pandangan menyedihkan.
"Tunggu, Nak!" Isabel menahan lengan anaknya, hatinya sakit. Jujur saja, orang tua mana jika seorang anaknya mulai menganggapnya seperti orang lain bukan ibu, ayah kandung, ataupun keluarganya. "Apa kau tidak merindukan mamah mu ini, Kimtan?"
"Sejak beberapa tahun yang lalu, aku merasa sudah 'tidak memiliki seorang Ibu." Desis Kimtan, menatap tajam kearah Isabel.
Isabel menutup mulutnya tak percaya dengan perkataan yang keluar dari mulut anaknya secara langsung, apa yang dilakukan putra nya ini. "K-enapa kau berkata seperti itu nak? Taukah kau kata-katamu itu melukai hati mamah."
"Kau yang lebih dahulu melukai hatiku, kau yang lebih dulu menyakiti perasaanku. Kau- karena kau aku kehilangan kekasihku. Semuanya karena kau, aku menderita." Kimtan tak bisa lagi mengontrol emosinya, Ia hempas lengan Isabel hingga terbebas lengannya dari Kungkungan mamahnya. Lalu berjalan pergi ke lantai dua, tempat di mana Ayahnya saat ini.
Sedangkan Isabel, Ia sudah tak sanggup lagi membendung air matanya. Melihat putra satu-satunya yang Ia lahirkan ke dunia ini sangat amat membenci dirinya, karena sikapnya dahulu.
Sikapnya yang selalu memandang rendah kekasihnya dan tak pernah merestui hubungan mereka, karena Ia pikir status mereka tidak setara. Ia khawatir itu akan membuat masa depan anaknya terganggu, untuk itu Ia meminta pada Kimtan untuk lebih fokus pada kuliahnya.
Dan ternyata, Kimtan hingga saat ini masih menyudutkan dirinya dan suaminya tentang hilang kekasihnya yang tak pernah Ia ketahui sama sekali. Yang Ia tahu Kekasih putra nya pergi dan menghilang.
__ADS_1
Saat Kimtan sudah menginjakkan kedua kakinya di dekat ruangan Ayahnya, pria itu menyuruh pelayan untuk mengatakan pada Ayahnya bahwa Ia ingin bertemu.
"Permisi Tuan, diluar ada Tuan muda ingin menemui Anda." Pelayan itu beridir di depan meja Ayah Kimtan memberitahukan bahwa putranya berada di luar menunggunya.
"Kimtan?" Tuan Bramasta mengernyitkan dahinya, kenapa tiba-tiba Anaknya pulang kembali ke rumah ini.
"Benar Tuan, Tuan muda saat ini berada di luar." Jawab Pelayan itu dengan hormat.
"Baiklah, kau suruh masuk anak itu!" Perintah pria tua itu.
"Baik Tuan." Pelayan itu berjalan dan membukakan pintu untuk Kimtan. "Silahkan masuk Tuan Muda, Tuan Besar telah menunggu Anda di dalam." Ujar Pelayan mempersilahkan Kimtan untuk masuk ke ruangan sang Ayahnya.
"Hm, Terimakasih." Sahut Kimtan berjalan masuk.
Dia masuk ke dalam ruangan Ayahnya dan dapat dilihatnya pria tua itu tengah sibuk membaca buku, mungkin itu buku favoritnya. Memang Ayahnya gemar membaca, saat waktu luang Ia akan setidaknya membaca satu atau dua buku di tempat kerjanya ini.
"Apa kabar A-yah?"
Suara Kimtan memecahkan keheningan diruangan itu, karena memang sejak tadi Ayah Kimtan hanya diam saja meski Ia tahu Putranya sudah berdiri di hadapannya. "Aku pikir kebiasaan mu tidak pernah berubah sejak dulu."
"Ada perlu apa?"
Tepat.
Akhirnya Ayahnya membuka mulut, untuk bersuara dan Ia sepertinya tak ingin berbasa-basi lagi dengan dirinya.
"Aaaa- kau memang type yang tidak neko-neko 'Ayah." Tekan Kimtan, Ia mengitari rak-rak buku di ruangan Ayahnya dengan pelan. "Kau pasti tahu kedatanganku kemari karena apa, bukan begitu 'Ayah?" Desis Kimtan menatap kedua mata Ayahnya. "Hentikan perjodohan itu, karena sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan perjodohan ini terjadi!" Ucapnya dengan suara yang dingin.
Tuan Bramasta menutup buku yang dia baca dengan kencang, matanya menatap nyalang ke arah Kimtan. "Kau, anak kurang ajar. Semua yang aku lakukan ini untukmu, kenapa kau selalu membantah." Bentak Tuan Bramasta.
"Hahahaha." Kimtan terkekeh mendengar alasan yang tidak mendasar dari Ayahnya. "Ayah, kau benar-benar lucu sekali. Demi kebahagiaan diriku? Yang benar saja. Jelas-jelas aku tidak bahagia dan sama sekali tidak menginginkan perjodohan ini." Teriaknya, suaranya menggema di seluruh ruangan.
"Kau semakin melawanku, itu tidak akan mungkin. Kau akan tetap menikah dengan Clara, wanita yang telah aku pilihkan untukmu." Pria paruh baya itu tetap kekeh dengan rencananya untuk menikahkan Putranya dengan Clara.
"Aku mencintai wanita lain, tidak dengan Clara. Jadi stop membuat hal konyol seperti ini lagi, karena aku tidak menyukainya." Ucap Kimtan dengan tajam, Ia sudah tidak tahu lagi harus berbicara seperti apalagi dengan Ayahnya. Ia tak mau mendengarkan permintaan anaknya dan tetap egois.
"Kimtan, aku menjodohkanmu dengan Clara juga untuk perusahaan keluarga kita. Supaya berkembang pesat dan kita membutuhkan kucuran dana dari Ayahnya Clara, kau mengertikan maksud Ayah?" Ayahnya melunak, nada suaranya merendah.
"Aku akan mengembangkan perusahaan ini dengan usahaku sendiri, aku tidak ingin mendapatkan investor yang mengaitkan dengan masalah percintaan ku. Aku yakin bisa melakukannya, aku sudah membuktikannya kemaren. Saat pertemuan dengan Clint asing yang akan mengucurkan dana nya pada perusahaan dan aku berhasil mendapatkan itu semua. Jadi tolong hentikan perjodohan konyol itu, karena aku sudah memiliki wanita yang aku cintai." Tegas Kimtan dengan jelas. Kali ini Ia tak ingin menyerah, Ia lebih mengikuti kata-kata hatinya karena Ia tak mau lagi kehilangan orang terkasihnya untuk kedua kalinya.
Tuan Bramasta mematung di tempatnya, mulutnya bungkam. Ia menatap wajah putranya yang memang sudah semakin dewasa dan berbakat, Ia memang mengakui itu.
"Percayakan semuanya padaku, aku tidak akan mengecewakan dirimu." Ucap Kimtan mengatakannya lagi, mencoba memberikan keyakinan pada Ayahnya tentang keseriusan dirinya dalam hal ini.
"Biarkan aku bersama wanita yang aku cintai, jangan usik lagi wanitaku. Jika kejadian di masa lalu terulang lagi kepada wanitaku, lebih baik aku memilih mati saat itu juga. Aku tidak main-main dengan kata-kataku ini Ayah." Kimtan berbicara panjang lebar.
Tuan Bramasta menarik nafasnya panjang, Ia melihat sorotan keseriusan di mata putranya. "Siapa wanita itu?"
"Dia wanita hebat, yang sudah mengembalikan rasa ingin hidupku." Jawab Kimtan dengan tegas dan penuh percaya diri.
__ADS_1
Ayahnya diam, Ia hanya menganggukkan kepalanya dengan jawaban dari Putranya. "Baiklah, aku akan memberikanmu satu kesempatan ini. Jika kau gagal kau harus menuruti semua yang sudah aku rencanakan, suka atau tidak suka itu sudah menjadi konsekuensi dirimu." Putusnya pada akhirnya, membiarkan Putranya mengusahakan semua kinerjanya.
Bibirnya tersenyum mendengar keputusan Ayahnya, Arka memang benar. Lebih mudah memberikan kesepakatan dengan Ayahnya, dibandingkan harus melawan Ayahnya yang hanya akan melukai kedua pihak.
"Terimakasih." Seru Kimtan membungkukkan tubuhnya.
Tuan Bramasta terkejut mendengar kata yang diucapkan putranya barusan, ini pertama kalinya sejak beberapa tahun lalu Ia mendengar kata 'Terimakasih' dari Kimtan membuat hatinya menjadi menghangat.
Mungkin memang benar keputusannya ini, membiarkan Putranya berusaha terlebih dahulu dengan usahanya. Ia hanya perlu memantau perkembangannya dari jauh, dan tidak ikut campur kembali urusan putranya.
"Kimtan." Panggil Tuan Bramasta lagi dengan suara rendahnya.
Kimtan mendongakkan kepalanya menatap sang Ayah.
"Jangan terlalu keras dengan Mamah mu, Ia sangat menyayangi dan mencintaimu. Ia tidak bersalah pada kejadian itu, ini semua salah Ayah. Baik di masa lalu dan saat ini, semuanya salah diriku."
Kimtan tertegun. Ia memang belum sepenuhnya memaafkan Ayah dan Mamahnya, tapi mungkin pria ini benar bahwa Ia terlalu keras dengan Mamahnya.
"Akan aku pikirkan kembali." Sahutnya asal. "Kalo begitu aku pergi dahulu." Ujarnya berlalu pergi dari ruangan Ayahnya.
Pelayan yang setia menunggu di luar ruangan, memberi hormat padanya. Kimtan hanya menanggapinya dengan anggukan kepala, Ia menuruni anak tangga dan di sana tepatnya di lantai bawah. Mamahnya masih berdiri di tempatnya tadi, tatapan wajahnya terlihat sayu.
Saat sampai di pijakan anak tangga terakhir, Kimtan berhenti di sana. Kedua matanya menatap wanita yang tengah menatapnya, sepertinya wanita itu habis menangis terlihat dari jejak air matanya yang belum sepenuhnya mengering.
"Nak." Panggil wanita itu parau.
"Mau makan siang bersama?" tanya Kimtan.
Kedua mata wanita itu membola, terkejut dan haru mendengar ajakan dari Putranya yang begitu tiba-tiba. Apa ia tak salah mendengar.
"A-pa kau serius nak? Kau mengajak diriku makan siang bersama." Tanya Isabel menyakinkan kembali pendengarannya.
"Hm, benar. Kau tidak salah dengar, mau makan siang bersama?" Ulangnya sekali lagi.
"Mau nak, mamah mau." Jawab Isabel dengan cepat dan sangat antusias.
"Baiklah, aku akan menunggu di luar. Kau gantilah pakaianmu, aku tidak memiliki waktu lama." Ucap Taehyung bernada dingin.
Meski begitu, Isabel tetap merasa senang dan antusias dengan cepat Ia berlari ke kamar nya untuk berganti pakaian. Layaknya seperti anak kecil, Ia tak memperdulikan lagi orang-orang sekitar rumah yang menatapnya aneh.
Kimtan tersenyum sendu menatap kepergian Mamahnya, Ia memang terlalu kasar pada Mamahnya. Mungkin ini, adalah waktu yang baik dalam memperbaiki hubungannya. Meski tadinya Ia memarahi dan melukai hati wanita itu.
"Maafkan aku Mah, aku akan memperbaiki ini semua." Gumam Kimtan.
Entah kenapa, hatinya menjadi luluh dan ingin memperbaiki semuanya dengan Mamah dan juga Ayahnya. Memang terasa aneh, karena awal Ia menginjakkan kaki di ruamh ini. Ia langsung membuat hati mamahnya terluka dan Kimtan sangat menyesali itu semua.
Karena pada dasarnya, keinginan Kimtan sejak awal adalah berdamai dengan semuanya. Tapi hatinya masih terlalu sakit karena kehilang Jiso kekasihnya yang entah di mana sampai saat ini.
Dan saat ini, datang seorang wanita yang sangat memberikan dampak positif untuknya. Mengembalikan semua rasa ingin hidup dan berbahagia bersamanya.
__ADS_1
Irine, wanita itu memberikan energi positif untuknya sehingga membuat hatinya mencair seperti gundukan es di siang hari.