Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 15


__ADS_3

Setelah pertemuannya yang panjang dengan sahabatnya, saat ini Irine telah berada di depan Kosannya. Irine dengan cepat membuka pintu Kosannya secara perlahan, melepaskan sepatunya lalu menaruh di rak sepatu.


"Astaga." pekik Irine, wanita itu hampir saja dibuat jantungan saat dirinya masuk dan melihat ada orang di dalam Kosannya.


"Yakk ...!" Pekik Irine. "sejak kapan kau berada di sini?" tanya nya menghampiri si pelaku yang telah membuatnya terkejut.


"Apaan sih." Lelaki itu memegangi telinganya yang hampir pengang karena suara teriakan dari Irine.  "Dasar yah, pantas saja tidak ada lelaki yang mau ngedeketin Kaka." Cibir lelaki itu tanpa bersalah.


Gadis itu terhenyak mendengar kata-kata yang barusan dia dengar dan langsung memukul pria didepannya menggunakan tas kerjanya dengan kesal.


Buk. Buk.Buk Buk.


"Apa kau bilang? Aish anak ini, datang tanpa memberitahuku dan sekarang kau berada di Kosan milikku dengan berkata kurang ajar seperti itu." ucap Irine dengan geram.


"Kau memang adik kurang ajar." Keluh Irine dengan suara yang terengah-engah, efek terlalu banyak mengeluarkan tenaga memukuli adik bungsunya.


"Astaga Cand, kau membuat semua ruangan menjadi berantakan." Desis Irine tak kalah terkejut, saat pandangannya mengarah ke sebelah kanan ruangannya.


"Yak, Kak. Apa kau selalu seperti ini, pulang malam seperti seorang -


"Kau lanjutkan perkataan mu, tidak akan aku beri kau jajan selama 1 tahun." Ancam Irine kesal. "Lagi pula kenapa kau mengalihkan pembicaraan, hah?"


"Aku bisa kerja sendiri, kau tak perlu lagi mengirim uang untukku dan Ibu. Beli lah tempat tinggal yang layak, pakaian yang mahal, dan makanlah yang enak-enak." Ucap Candra.


Irine diam. Ia tertegun mendengar perkataan adiknya, hingga akhirnya membuat Irine mengurungkan niatnya untuk kembali memarahi adiknya.

__ADS_1


"Sampai kapan di Jakarta?" tanya Irine dengan suara yang memulai memelan, Irine mencoba mengganti topik pembicaraan mereka. Dia tak ingin membahas hal ini, karena ini adalah pilihan yang telah dia ambil.


"Kenapa kau mengalihkan topik pembicaraan kita?" tanya Candra terlihat kesal.


Irine yang tadi hendak masuk ke kamarnya, kemudian Ia urungkan. Sedikit menarik nafasnya, Irine membalikkan tubuhnya lalu mendekati adiknya. Dia mengacak rambut adiknya, hal yang sering dia lakukan.


"Tak menyangka sekarang kau lebih tinggi dariku, Maaf tak pernah menghubungimu." Bisik Irine, kemudian merangkul Candra.


Candra sangat sedih melihat Kaka nya yang selalu so kuat di hadapannya, padahal dia sudah dewasa dan bisa membantu Kaka nya.


"Kapan kau mengunjungi Bandung lagi? Kau tidak merindukan Ibu?" tanya Candra tiba-tiba, membuat Irine terhenyak.


Pertanyaan adiknya tiba-tiba membuat suasana ruangan menjadi canggung, Irine bingung harus menjawab seperti apa. Karena Ia pun tak tahu kapan Ia akan pulang ke Bandung, jika boleh jujur dia sangat merindukan Ibunya tapi apakah tidak apa jika dia pulang ke Bandung? Bagaimana reaksi Ibu nya?


"Nanti." Jawab Irene melepas pelukannya, "Ya sudah Kaka masuk dulu ke kamar, rapihkan kembali kekacauan ini." Tunjuk Irine pada sampah yang berserakan di lantai.


...****************...


Dengan perlahan, Ia mulai mengarahkan telunjuknya untuk menyentuh wajah gadis yang ada di depannya. Lalu menyibakkan sedikit rambut  yang menutupi sebagian wajah gadis itu, setelah dapat melihat sepenuhnya wajah gadis yang amat dia cintai bibirnya langsung mengembang membentuk senyuman.


Dia begitu cantik, pikir Kimtan merasa berbangga diri. Pria itu lalu menyentuh bibir kekasihnya itu secara perlahan dengan jarinya. Ia kembali tersenyum, bibir ini yang selalu melontarkan kata-kata manis dan mengomelinya karena  mengkhawatirkan dirinya. Dengan hati-hati Kimtan diam-diam mengecup pipi kekasihnya.


"Terimakasih sudah hadir di sisiku." Bisik Kimtan lembut di telinga kekasihnya.


"Aku juga, Kim."  Sahut wanitanya.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Kimtan cukup terkejut ditambah saat kedua kelopak mata kekasihnya terbuka perlahan.


Kimtan yang merasa malu karena ketahuan oleh kekasihnya, segera saja menjauhkan tubuhnya. Pria itu sungguh terkejut.


"S-sejak kapan k-au terbangun?" tanya Kimtan yang merasa malu.


"Lagian, kenapa kau melihatku seperti itu." ucap gadis itu, terlihat santai.


Kimtan menatap geli gadisnya yang tengah menatap wajahnya, oh jangan lupa dengan kedua pipi gadisnya yang sudah Semerah kepiting rebus.


"Sejak kapan kau bangun?" tanya nya lagi, merasa kesal karena gadisnya tak menjawab pertanyaannya.


"Mmhhh, mungkin sejak tadi." jawab gadis itu tersenyum samar.


Kimtan mendekatkan wajahnya, memandang kedua bola mata beriris madu itu dengan lembut. "I Love You." ucap Kimtan sambil tersenyum.


Dapat dirasakan gadis itu menahan nafas, Kimtan benar-benar tak sanggup dengan suasana seperti ini. Wajah gadisnya benar-benar cantik dilihat dari mana pun.


"K-kim, bi-sakah kau menjauh. Ini sungguh tak nyaman." Ucapnya mengalihkan wajah, gadis itu sedikit mendorong dada Kimtan agar membuat jarak dengannya. 


Tapi bukan Kimtan namanya jika langsung menuruti ucapan gadisnya, Ia tak menghiraukannya. Kimtan malah semakin mendekatkan wajahnya kearah sang gadis dekat semakin dekat hingga bibir mereka hampir bertemu...


Bruk.


Kimtan terjatuh dari ranjang tempat tidurnya.

__ADS_1


"Akh sial." Ringis pria itu memegang kepalanya yang sedikit terbentur lantai.


"Aku kira ini nyata, ternyata hanya mimpi. Sungguh menyebalkan." Erangnya, sambil memegangi kepalanya yang terkena benturan tadi.


__ADS_2