
Tiba di kamar hotel, Irine duduk di atas ranjang sambil mengamati sekitar ruangan. Pertama kali masuk, Irine tak percaya jika Kimtan akan memesan kamar hotel yang super mewah ini. Dia atas terlihat lampu gantung yang dia yakini bernilai jutaan, tempat tidur yang luas dan benar-benar empuk. Ini sudah seperti tinggal di Istana raja.
"Dia memang orang kaya." gumamnya. "Sebaiknya aku membersihkan tubuhku terlebih dahulu, sebelum mengistirahatkan tubuh karena besok akan banyak jadwal bertemu dengan Klien Tuannya."
Selang dua puluh menit berlalu, dia telah menyelesaikan ritual mandinya. Berjalan dengan bersenandung sambil mencoba mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Sudah berapa kau mandi?"
Deg. Irine sangat terkejut mendengar suara yang sangat familiar di telinganya dan benar saja ketika dia mendongakkan wajahnya di sana telah berdiri seorang pria yang tak lain adalah Kimtan atasannya.
Kedua matanya membola, tubuhnya lantas tak bergeming dan handuk yang dipegangnya terjatuh ke lantai.
"Syukurlah kau menyukai tempat ini." Ujar Kimtan sambil berjalan mendekat ke arah Irine.
Pikirannya langsung mengingatkan Irine untuk segera menghindar saat Kimtan tepat berdiri di depannya, tapi tubuhnya tak bisa merespon perintah yang ada dalam pikirannya. Dia melirik Kimtan yang mengambil handuk yang tak sengaja dia jatuhkan tadi, kenapa pria ini berada di dalam kamarnya? Apa dia lupa mengunci kamarnya? Oh tidak! Bahkan saat ini dia hanya memakai kimono mandi nya saja, dia langsung menutup wajahnya yang memerah karena malu.
__ADS_1
"Kenapa kau masuk ke kamarku?"
"Aku ingin mengajakmu makan malam dan lagi sejak tadi hp mu terus berbunyi." jawab Kimtan dengan santainya.
"Tapi ya bisa ketuk pintu dulu, aku kan lagi mandi. Udah sana pergi-pergi." usir Irine masih menghindari kontak mata dengan Kimtan.
"Lagian kamarnya tidak di kunci, aku juga tidak tahu kalau kau sedang mandi." kilah Kimtan tak ingin di salahkan.
"Tapi kan......" Irine tak melanjutkan ucapannya saat dengan santainya pria itu menarik tubuhnya dan mendudukkannya di kursi yang tak jauh darinya.
"K-kenapa?" tanya Irine gugup.
"Hm, tidak ada alasan pasti yang jelas aku menyukainya." jawab Kimtan membuat Irine mengangkat kedua alisnya. "Kau tidak mau melihat siapa yang menelpon mu tadi?"
Irine menolehkan wajahnya menatap ponsel miliknya yang berada di meja sisi ranjang, sepertinya yang menelpon adalah adiknya jadi dia pikir mungkin nanti dia akan menelpon balik. "Nanti saja."
__ADS_1
"Selesai." Gumam Kimtan dengan senang. "Kau lihat, rambut mu sudah kering."
"Hm, Terimakasih." Ucap Irine menatap pantulan dirinya dan Kimtan di cermin.
"You're welcome" timpal Kimtan tersenyum manis dengan menampilkan giginya. "Aku akan keluar memberikan kamu waktu untuk berganti baju, temui aku jika sudah selesai." Bisik Kimtan mencondongkan tubuhnya ke telinga Irine.
Pipinya hingga telinganya kembali memerah mendengar bisikan Kimtan, dia benar-benar melupakan hal itu. "Ah, sudah sana-sana pergi. Menyebalkan!" Irine mendorong tubuh Kimtan agar cepat-cepat keluar dari kamar hotelnya.
"Hahahaha baiklah-baiklah, aku akan keluar." Kimtan terkekeh dengan tingkah laku Irine, menurutnya dia benar-benar menggemaskan.
Bruk. Irine menutup pintu kamar terlalu kencang, hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Menyandarkan tubuhnya di balik pintu, kedua lengannya memegang dada yang sudah sekeras apa suara jantungnya terdengar.
"Bodoh, bodoh, bodoh." gerutunya sambil memeluk kepalanya pelan. "Aku terlalu ceroboh dengan tidak mengunci pintu kamarnya."
Sedangkan di sisi lain, Kimtan masih terkekeh mengingat tinggal menggemaskan Irine. "Ah, jantungku." bisiknya dengan wajah yang memerah.
__ADS_1