Mencintai Kekasih Kakak Ku

Mencintai Kekasih Kakak Ku
Chapter 44


__ADS_3

Setelah melakukan pembicaraan dengan Dokter Cleo, Irine kembali lagi ke ruangan di mana Kaka nya di rawat masih dengan membawa infus di tangannya. Sebelumnya Dokter Indah pergi terlebih dahulu karena ada panggilan darurat, jadi wanita itu terpaksa meninggalkannya seorang tanpa mengantarnya.


"Fyuhhhh." Irine menghela nafasnya berat, entah apa yang akan dirinya katakan pada sang Ibu mengenai Kakak nya.


"Ah, bodoh. Aku baru terpikirkan." ucap Irine menepuk kepalanya, "Aku hampir melupakan sesuatu yang sangat penting. Kaka nya di rawat di sini otomatis mengenai pembayaran selama kakak nya di rawat dan biaya dirinya. Apa yang harus aku lakukan?" Irine mengigit jarinya sedikit panik, tubuhnya mondar-mandir di depan kamar Kakak nya.


"Tabunganku...." Irine menghitung jumlah tabungan miliknya dengan jari lentiknya. "Ah, ini tidak cukup." Erang Irine sambil memegang kepalanya.


"Dokter Cleo mengatakan jika Ka Lala butuh perawatan lebih, otomatis dia juga perlu uang yang lebih. Aku harus bagai......"


Clek..


Irine terkejut ketika mendengar suara pintu terbuka, membuatnya sedikit menyingkir dari depan pintu.


"Kakak. Apa yang Kaka lakukan di depan pintu seperti itu?" Tanya Candra menatap aneh Irine.


"A- hahahaha... " Irine memegang kepala belakangnya, dia tertawa canggung apa yang akan dia katakan pada adik nya. "T...tidak, Ka-ka hanya..." Irine menjeda bicaranya memikirkan apa alasan yang akan dia berikan pada sang adik. "a-ah Iyah, Kaka lupa di mana tadi meletakan handphone kaka." ujar Irine berbohong pada Candra.


"Kaka selalu ceroboh! Di mana terakhir Kaka membawa nya?" tanya Candra sedikit memarahi Irine.


"N..nanti Kaka mencarinya lagi... hehee sebaiknya kita masuk menemui Ka Lala, hn?" Irine tersenyum menunjukkan gigi nya, mencoba menyakinkan sang adik.


"Ah Kaka aneh-aneh saja nih." ujar Candra membantu Kaka nya membawakan infus Irine.

__ADS_1


"Maaf yah, nanti Kaka bakal cari lagi." timpal Irine mengusap bahu Candra.


'Sial, kenapa dia konyol sekali sih di hadapan Candra' gerutu Irine merutuki kebodohannya di depan sang adik.


"Oea yah Ka, Ka Lala tadi sudah bangun." seru Candra bersemangat.


"Ah, baiklah-baiklah ayo masuk ke dalam." ucap Irine mendorong punggung adiknya untuk kembali masuk ke ruangan Ka Lala.


...********...


Sesaat Irine dan Candra masuk ke dalam ruang rawat Kaka mereka, terlihat wanita yang telah menghilang selama hampir 4 tahun itu menatap mereka dengan pandangan yang memang sulit Irine artikan.


"Ka Lala..." Panggil Candra sambil tersenyum. "Ini ka Irine yang aku ceritakan padamu tadi, dia juga adik mu." jelas Candra.


"I....Irine." panggil Putri yang sebenarnya adalah Lala.


Irine berjalan masuk dan menghamburkan tubuhnya ke arah sang Kaka yang telah lama menghilang. "Ma..fakan aku yang tidak berada di sisi mu selama ini Ka." ujar Irine menangis tersedu di pelukan Kaka nya.


Lala mengusap kepala Irine lembut, hatinya bergemuruh. "Irine... j-jadi kalian adalah kel-keluarga s...aya?" tanya Lala sedikit tergagap.


Melihat keduanya, dia tak menyangka jika dia memang masih memiliki keluarga. Lala sangka, sudah sebatang kara di Dunia ini.


Irine menganggukkan kepalanya di bahu Lala. "Benar Ka, Ibu sangat mencemaskan mu. Beliau pasti senang jika mendengar Kaka telah kembali." seru Irine. Ada sedikit nada sedih di sana. wanita itu tak tahu, apakah Ibu nya akan bersikap baik padanya setelah kembalinya Ka Lala atau akan tetap acuh seperti itu lagi.

__ADS_1


"Ibu.. A-ku juga masih punya Ibu?" tanya Lala menatap Irine.


Irine mengusap jejak-jejak air matanya, "Benar Ka, Ibu sekarang berada di Bandung. Kaka tak perlu khawatir setelah kakak di izinkan pulang kita akan segera menghubungi Ibu. Jika sekarang, aku khawatir ibu akan terkejut dengan kondisi Kaka." Timpal Irine.


"Eumh, baiklah." Ucap Lala menganggukkan kepalanya, mengikuti saran dari sang adik.


"Ka, besok aku sudah di perbolehkan pulang. Kemungkinan aku tidak bisa menemani Kaka untuk malam ini dan besok. Mungkin Candra akan menemani Kaka, tidak apa kan Cand?" tanya Irine berbalik menatap adiknya.


"Tentu Ka, serahkan semua urusan Ka Lala pada Candra." jawab Candra tersenyum.


"Tapi Candra, sebelum itu lebih baik kau meminta izin pada Dosen yang membimbing tugas mu sekarang." seru Irine mengingatkan adiknya.


"a-ah saya lupa Ka, nanti saya akan menghubungi teman saya." timpal Candra.


"Ya sudah, Ka Lala. Irine mau kembali ke ruangan Irine terlebih dahulu, khawatir suster akan mencari lagi." ringis Irine, mengingat dia sudah sangat lama keluar dari ruangan inapnya. Padahal dia di peringatkan untuk istirahat oleh suster yang merawatnya.


"Tentu, Irine. Kau kembalilah, biarkan Candra mengantar mu terlebih dahulu." Ujar Lala.


"Tidak!" tolak Irine cepat, membuat kedua orang itu menatap Irine terkejut.


"Hehehe.. Aku bisa sendiri. Candra sebaiknya kau tunggu di sini, aku lebih mengkhawatirkan Ka Lala." seru Irine berlalu pergi meninggalkan kedua saudaranya.


Sedangkan Lala dan Candra hanya menatap bingung Irine, entah kenapa dia terlihat aneh.

__ADS_1


"Ka Irine memang begitu Ka, jadi biarkan saja." Celetuk Candra,


"Hn, baiklah jika begitu. Aku khawatir dia kenapa-kenapa, baguslah kalo dia kuat." Gumam Lala dengan suara kecilnya.


__ADS_2