
Kali ini Irine bukan jalan melalui tangga, melainkan pintu lift untuk itu dia terbilang cepat sampai di depan ruangan Ceo nya. Seperti biasa, telat di samping pintu itu akan ada orang yang tengah berdiri seperti sedang menjaga ruangan pria kurang ajar itu hingga dia harus rela berdiam berjam-jam di sana.
"Selamat pagi Nona Irine, saya Arka asisten Presedir. Anda sudah ditunggu Presedir di ruangannya, Nona!" Sapa Arka yang tengah berdiri di depan Pintu ruangan Presedir Kim.
"Ah, Iyah. Pagi juga Tuan Arka." Timpal Irine dengan canggung.
"Silahkan Nona, Anda dipersilakan masuk." Seru Arka membukakan pintu tinggi itu.
Irine masuk ke ruangan besar itu, yang beberapa Minggu lalu Ia juga pernah masuk ke ruangan ini. Tetap masih sama letaknya namun kali ini pria itu posisinya tak membelakangi dirinya seperti waktu itu tapi tengah sibuk berkutat dengan berkas-berkasnya.
"Terlambat lima menit lebih dua puluh detik." Ujar Kimtan membuat Irine sedikit terkejut.
'Sial, pria brengsek ini langsung tau kehadirannya' Batin Irine mencibir.
Matanya seperti biasa, tetap fokus dengan berkas-berkasnya. Sepertinya, Presedirnya ini adalah seorang perfeksionis.
"Aku tidak terlambat, aku sudah datang dari tadi." Bantah Irine tak terima.
"Kau selalu mengelak yah, Nona." Ucap Kimtan menatap Irine.
"Memang benar begitu, aku sudah sampai jam 07:00 pagi ini." Serunya membela diri, Ia tak terima saja jika dikatain tidak disiplin oleh pria ini. "Jika Anda tak percaya, Anda bisa mengecek nya langsung di cctv."
"Baiklah anggap saja seperti itu, kau wanita yang keras kepala." Seru Kimtan menyerah.
Irine menjadi merasa tak terima, entah kenapa pria ini selalu saja mengatainya yang tidak-tidak.
"Kau langsung saja bekerja!" Perintah Kimtan, kini nada bicara pria itu berubah menjadi dingin. Entah kenapa Irine menjadi tak suka mendengarnya.
"Padahal aku sudah menolaknya." Desis Irine dengan suara nya yang pelan.
"Kau dengar perkataan saya?" Kimtan kembali menanyai Irine, sebab Irine sejak tadi hanya diam ditempatnya.
"A-ku tidak tahu tempat kerjaku." Cicit Irine.
__ADS_1
Kimtan kemudian menunjuk ke arah kanan, dengan dagunya membuat Irine mengikuti arah pandang Kimtan.
"Di sana, itu ruangan mu yang sudah disiapkan oleh Arka." Ujar Kimtan.
Di sana ruangan yang hanya dipisah dengan kaca tembus pandang, yang benar saja. Biasanya seorang Sekertaris ruangannya di luar, deket ruangan Presedirnya. Tapi kenapa Ia malah di tempatkan satu ruangan dengan Pria ini, ditambah ruangannya tidak bisa leluasan.
"Apakah tidak salah Pak? Ruangan saya di sini?" Tanya Irine heran dan kebingungan.
"Benar, kau mau saya lempar di lantai satu dan bulak-balik menemui saya ke lantai 6?" Tanya Kimtan dengan ekspresi seriusnya.
Irine tak menanggapi omongan Kimtan, dia langsung saja menyelonong pergi ke ruangannya yang baru dengan wajah tertekuk karena merasa kesal.
Kimtan yang melihat kelakuan Irine, membuatnya terkekeh geli.
...************...
Bagas melihat area sekitar ruangan Irine, namun tak ada hilal menunjukkan bahwa Irine ada di ruangan itu.
"Stefi." Panggil Bagas saat melihat Stefi yang keluar dari ruangan Irine berada.
"Apa sih?" Sahut Stefi sinis.
Bagas melambai-lambaikan tangannya, mengisyaratkan Stefi untuk mendekat kearahnya.
Mengerti hal itu, Stefi memutar bola matanya malas. Selalu seperti itu, pria ini apa tak ada kerjaan. Selalu mengedap-edap, seperti seorang penguntit.
"Memangnya kau gak ada kerjaan apa selain mengintip Irine di sini?" Desis Stefi.
"Aku cuma penasaran aja, kenapa aku tidak melihatnya kerja. Ia masih sakit atau gimana? Biasanya Ia sudah datang ke kantor, Ia kan bilang mau datang ke kantor." Seru Bagas terus-menerus, membuat Stefi menutup telinganya urung mendengar ocehan Bagas.
"Stop!" Pinta Stefi menatap dingin kearah Bagas. "Irine sudah dipindahkan ruangan nya, sekarang Ia sudah menjadi Sekertaris Presedir. Sudah yah, aku mau pergi ke kantin." ucap nya meninggalkan Bagas.
"Eh tunggu!" Bagas langsung memegang tangan Stefi, menahannya untuk tidak pergi. "Jangan bohong deh. Sejak kapan coba, masa aku gak tau sih, Stef." ucap Bagas terlihat terkejut.
__ADS_1
"Ng, sejak hari ini dan pekerjaan Irine sebelumnya digantikan olehku dan sekarang akan ada Karyawan baru yang akan menggantikannya." Jelas Stefi.
Refleks saja Bagas melepas pegangan tangannya, membuat Stefi dengan leluasan pergi meninggalkan Bagas yang masih tercengang di tempatnya.
"Euh, makanya jadi cowo tuh yang gentleman." Sindir Stefi berlalu pergi.
...****************...
Pukul dua siang, Irine baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Entah sengaja atau bagaimana, Presdir nya langsung memberikan semua pekerjaan pada hari pertama nya menjadi seorang sekertaris.
"Uuhh." Irine meregangkan seluruh otot-otot tubuhnya yang serasa kena encok karena terus duduk dan berhadapan dengan layar komputer.
Sesaat. Ia melirik kearah meja Kimtan dari jendela yang tembus pandang itu dan ternyata pria itu tengah berteleponan dengan seseorang. Irine pun berinisiatif untuk keluar, sekedar untuk mencari ganjalan untuk perutnya karena sudah menunda jadwal makan siang satu jam yang lalu.
Namun. Sial apa lagi yang akan menimpanya, baru saja Ia hendak membuka kenop pintu itu. Suara pria menyebalkan itu langsung menghentikan dirinya.
"Mau ke mana?" tanya Kimtan.
Irine menahan nafasnya sebelum akhirnya melepasnya dengan wajah yang menahan emosi, setelah menata ekspresi nya dia langsung menolehkan wajahnya menatap Presdir nya dengan wajah tersenyum lebih tepatnya terpaksa tersenyum.
"Pekerjaan saya sudah selesai, saya ingin mencari sesuatu yang mengenyangkan di kantin." Jawab Irine mengalihkan pandangannya kemana saja, asal jangan ke pria itu.
"Kemari!" Perintah Kimtan, menyuruhnya untuk mendekat.
"Aku yakin dia tengah berbicara dengan seseorang di telpon, tapi kenapa dia menyadari diriku.' Decak Irine dengan sangat pelan, tanpa sependengar Kimtan. 'Kenapa sih pria ini selalu memerintah dirinya' Batinnya kesal.
"Ada yang bisa Saya bantu, Tuan?" Tanya Irine yang sudah berada di depan meja Presdirnya.
"Duduklah. Aku sudah memesankan makanan untuk kita, jadi kau tidak perlu turun ke bawah untuk mencari makan." Seru Kimtan mengeluarkan banyak sekali kotak makan di atas mejanya.
"T-tapi--" Irine berusaha menolaknya, namun wanita itu tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi, Pria ini benar-benar mengejutkan dirinya sejak kapan dia memesan makanan.
"Sudahlah sini duduk!" ujar Kimtan menarik lengan Irine dengan lembut, lalu mendudukkan tubuh wanita itu di sampingnya.
__ADS_1
Irine mendongakkan kepalanya, menatap ragu ke arah Kimtan yang dengan telatennya mengurus semua makanan untuk dirinya
'Akh, kenapa situasi nya menjadi begini sih? sebenarnya kenapa dia berbaik hati padanya meski kadang-kadang, selebihnya dia menyebalkan. Pikir Irine mencuri pandang ke arah Kimtan.