
Beberapa menit lelaki itu menelusuri penjuru cafe, akhirnya kedua bola matanya menemukan sosok yang dirinya cari. Tapa menunggu lama, lelaki itu melangkahkan kakinya mendekat ke arah orang yang dia cari, dengan senyum menghiasi bibirnya.
Di setiap langkah kakinya, kedua mata nya tak pernah terlepas dari pandangan yang membuatnya selalu berdebar. Ia melihat gadis itu dalam, penuh dengan kasih dan rasa rindu yang menggebu. Gadis itu, tengah duduk seorang diri. Di bangku pojok dekat jendela, yang kini jendela itu telah berembun terkena air hujan yang mengguyur kota Jakarta.
Irine, apa yang tengah dipikirkan gadis itu sehingga menimbulkan kerutan di keningnya.
Lamunan Irine buyar begitu saja, saat mendengar suara derit kursi di hadapannya. Ia mendongakkan kepalanya, menatap pria yang kini tengah tersenyum padanya. Namun, senyum itu terlihat sangat jauh dari kata tersenyum- bahagia.
Kimtan?
Sepasang kedua mata itu saling beradu, getaran itu tiba-tiba saja singgap dihatinya. Dengan cepat Irine mengalihkan wajahnya kearah lain, mencoba menghindari tatapan intens dari laki-laki di depannya. Meski Ia sudah menghindar, tapi tak bisa dipungkiri bahwa Ia menjadi gugup, meremas jemari-jemarinya gusar.
"Temanmu?" tanya Kimtan.
"Ha?" Tanya Irine tak mengerti.
"Bukankah kau bersama temanmu." ucap Kimtan lagi.
"Hahaha- Irine tertawa canggung, ia lupa bahwa Ia mengatakan jika dirinya bersama dengan temannya di cafe. "Yah kami tadi bertemu, lalu aku pamit pulang lebih dulu." jelas Irine.
"Ouh- Kimtan menjadi merasa bersalah karena membuat Irine menunggu lama. - maafkan aku, hujan begitu deras hingga membuat jalanan menjadi macet. Aku pikir kau masih dengan teman mu."
"Tidak-tidak, aku memang ingin bersantai lebih lama." Sahut Irine cepat.
"Baiklah, aku akan menunggumu di sini bersamamu." Ujar Kimtan tersenyum.
"Ah tidak, Pak. Maksud saya itu tadi, kalo sekarang langsung ke kantor juga tidak masalah Pak." Ucap Irine merasa tak enak hati.
"Kenapa kau selalu memanggilku dengan Formal, cukup panggil Kimtan." ucap Kimtan, merasa tak suka dengan panggilan yang Irine katakan barusan.
"Ah, maafkan saya." ujar Irine menyesal, padahal dia cukup tak enak dengan panggilan itu. Selain itu, dia merasa tak pantas saja jika harus memanggilnya hanya dengan nama saja.
"Sepertinya makanan di sini enak-enak, kebetulan aku belum makan siang. Menurutmu apa yang paling kau suka di sini?" Tanya Kimtan mencoba mengganti suasana yang sempet kaku tadi.
"Hm, aku akan merekomendasikan ini." tunjuk Irine pada buku menu yang dia sodorkan pada Kimtan.
"Baiklah, aku akan memesan yang kamu sarankan." Ujar Kimtan, lalu memanggil salah satu pelayan.
Kimtan menggaruk keningnya yang tak gatal, Ia sedikit menarik nafasnya. "Aku sudah melemparkan semua pekerjaan itu pada Arka, jadi kau tidak perlu khawatir." Jelas Kimtan, dia tak ingin Irine terus memikirkan soal pekerjaan.
"Pada Pak Arka?" Tanya Irine terkejut.
__ADS_1
"Benar, kenapa?" Kimtan menautkan kedua alisnya bertanya.
"Aku semakin tidak enak kepada Pak Arka. Sebaiknya aku pergi ke kantor terlebih dahulu, membantu Tuan Arka menyelesaikan pekerjaan." Ucap Irine hendak berdiri dari tempat duduknya.
Kimtan dengan sigap menyekal lengan Irine dan menariknya untuk duduk kembali. "Aku sudah katakan bahwa semuanya sudah di handel oleh Arka, jadi kau tidak perlu khawatir cukup temani saya makan, itu sudah menjadi pekerjaan untuk mu." Ucap Kimtan, sedikit merasa kesal karena Irine lebih mengkhawatirkan Arka ketimbang dirinya yang jauh-jauh datang untuknya seorang.
"Hm, baiklah Pak." Cicit Irine pada akhirnya, Ia diam dan duduk kembali di kursinya. Sejujurnya dia cukup takut dengan nada tinggi Kimtan.
"Astaga Irine, jangan panggil saya Bapak! Saya bukan Bapakmu, panggil saja Kimtan cukup Kimtan." Perintah Kimtan pada Irine.
"Ah, maafkan saya. Tanpa sadar, Saya telah berucap sepeti itu."
"Hn, aku mengerti. Aku juga minta maaf karena aku berkata dengan suara tinggi hingga membuatmu takut." Sesal Kimtan.
Irine mendongakkan wajahnya menatap pria di depannya. Dia sungguh-sungguh meminta maaf padanya, Irine memang sedikit takut dengan suara Kimtan yang meninggi tapi dia tak menyangka jika Kimtan peka dan tanpa sungakan meminta maaf padanya.
"Kau yakin tidak mau makan lagi?" Tanya Kimtan saat para pelayan membawa pesanan untuk nya.
Irine menatap horor makanan di hadapannya, lalu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"T-tidak. Saya sudah kenyang, Anda saja yang makan." Ucap Irine sambil memegang perutnya yang sudah penuh oleh makanan yang dia makan sebelumnya bareng Indah.
"Baiklah." ujar Kimtan.
"Kau bisa leluasa memperhatikan diriku nanti di kantor." celetuk Kimtan membuat Irine tersadar lalu langsung membuang mukanya ke segala arah. Hal itu semakin membuat Kimtan tersenyum kegirangan di dalam benaknya.
'Tidak salah dia memang memiliki wajah tampan, tentu saja Irine tertarik padaku.' Pikir Kimtan membanggakan dirinya sendiri.
...***********...
Setelah Presdirnya menyelesaikan makan siangnya, mereka kembali lagi menuju Perusahaan. Namun sangat di sayangkan, mereka harus terjebak macet jalanan lalu lintas Kota Jakarta yang padat.
Irine, gadis itu memandang gusar keluar jendela. Sepertinya dia tidak harus lagi izin untuk keluar, jika pada akhirnya dia terjebak macet.
Menghela nafasnya kasar, Irine bersumpah bahwa hari ini benar-benar waktu soalnya. Setelah semalam pria itu tiba-tiba dengan santainya menginap di Kosan miliknya, lalu sekarang dia juga harus terjebak berdua dalam satu mobil karena kemacetan.
"Ini sungguh menyiksa." Bisik Irine sepelan mungkin.
Setelah menempuh sekitar setengah jam perjalanan dari Cafe menuju perusahaan akhirnya mereka kini sampai di tempat parkir perusahaan kantornya.
"Terimakasih, Irine. Kau sudah menemani Aku makan siang, di sana makanannya benar-benar jempol deh." Ucap Kimtan terkekeh sambil menunjukkan satu jempol ke arah Irine.
__ADS_1
Irine menatap Bosnya dengan pandangan lain, entah kenapa senyum bos nya ini membuatnya ikut tersenyum meski harus Ia tahan karena kegengsia nya.
"Sama-sama, kalo begitu saya permisi untuk bekerja lagi, Tuan." Ucap Irine melepaskan satbaletnya.
"Kau tetap memanggilku seperti itu yah, apa kau merasa tidak nyaman memanggil namaku saja, cukup namaku." ucap Kimtan menekan suaranya.
"M-maafkan aku, aku lupa karena tidak memanggilmu Kimtan." Seru Irine cepat.
"Terimakasih, aku bersenang-senang hari ini Kimtan." Bisik Irine tersenyum manis.
Mendengar bahwa Irine senang jalan bersamanya, membuat kedua pipi nya memanas. Ah sialan kenapa senyumnya manis sekali.
"Tunggu!" Seru Kimtan kembali menahan Irine keluar dari mobilnya.
Irine menatap Kimtan bingung, kenapa pria ini selalu mencegahnya ketika mau keluar dari mobil? Pikir Irine.
Kimtan menatap wajah Irine lembut, tangannya juga Ia ulurkan ke arah kening Irine dan menyingkirkan anak-anak rambut Irene yang menutupi kening wanita itu.
"Aku tidak pernah sekacau ini karena wanita." Papar Kimtan membuat Irine menahan nafasnya. "Kau, wanita yang aku temui dan membuatku kacau. Mengganggu waktuku, membangkitkan emosiku." Sambung Kimtan melanjutkan kata-katanya, kedua matanya menatap Irine kemudian bibirnya mengembang. "A-apa aku jatuh cinta padamu?"
Deg.
Jantung Irine berdetak berkali-kali lipat, kedua bola matanya tak fokus memandang ke sana ke mari. Ia tak tahu harus merespon seperti apa, karena hatinya pun tak tahu ingin seperti apa.
"Kenapa kau mengalihkan duniaku yang baru Aku susun kembali ini?" lagi, Kimtan bertanya lagi dan lagi.
'Aku tidak tahu' Jawab Irine di dalam hatinya. 'Baru beberapa hari mereka bertemu, haruskah Irine percaya dengan kata-kata pria di depannya?
Kimtan sedikit kesal, karena gadis ini mengabaikan dirinya dan tak memandangnya sama sekali. Apa tak semenarik itu wajahnya? Kimtan pun memegang dagu Irine dan mengangkatnya. Wajah mereka bersitatap, mata beriris madu dan bola sehitam elang itu saling beradu pandang.
"Mungkin debaran selama ini, karena aku mencintaimu." ucap Kimtan kembali.
Irine menggelengkan kepalanya, mencoba menepis semua perkataan Kimtan padanya.
"I-tu tidak benar, kau mungkin salah mengartikan rasamu itu. Kau hanya penasaran padaku, itu saja." Elak Irine.
"Tidak- itu memang benar adanya. Kau rasakan ini, coba kau rasakan." Kimtan menarik lengan Irine dan mengarahkan ke dadanya yang berdebar kencang.
"Kau bisa rasakan itu?" Tanya Kimtan menatap Irine dengan serius.
"Kimtan. A-aku, aku tidak-- Dia tidak bisa melanjutkan perkataannya saat benda kenyal itu menempel di bibirnya, membuat gadis itu dibuat terkejut dengan tindakan Tuannya yang tiba-tiba menciumnya.
__ADS_1
'Oh tidak, debaran jantungku sampai terdengar' Batin Irine menggila dengan perbuatan Kimtan padanya.