
Di lobi, Irine berjalan dengan tergesa-gesa entah wejangan apa yang akan dia dapatkan karena terlambat masuk kerja. Bukan tanpa alasan dia bisa terlambat masuk kerja tapi semua ini karena dia ketinggalan mobil Bus dab terpaksa harus menunggu lebih lama, hingga membuatnya telat masuk kerja.
Entah apa yang akan Bos nya itu katakan, ekspresi marah Bos nya sudah terbayangkan di kepalanya dan itu membuatnya benar-benar bergedik takut.
Sampai di depan Lift Irine segera masuk dan menekan tombol menuju lantai 4 di mana tempat kerjanya berada. Untung saja di lift dia hanya seorang diri tidak seperti biasanya yang penuh membuat sesak, jika hari ini lift penuh entah apa yang akan terjadi ditambah keringatnya sudah keluar banyak pasti tak akan nyaman jika harus berdempet-dempetan dengan banyak orang.
Tring!
Pintu lift terbuka, dia melirik jam ditangannya sekilas. Kedua matanya semakin membola.
"Mati aku, sudah jam 8 aku telat 30 menit." Gerutu Irine menepuk jidatnya. "Aish, apa alasan yang kuat agar Bos memaafkannya kali ini." Ucap Irine sambil berjalan tergesa-gesa.
Di depannya adalah ruangan besar, di pintu itu tercetak tulisan 'Ruangan Presedir'. Dia masih ragu-ragu apakah dia masuk atau sebaiknya hilang dari sini? Irine berjalan mondar mandir di depan pintu sambil menggigit jarinya, entah apa yang akan di lakukan gadis itu. Hingga suara pintu terbuka membuat tubuhnya langsung diam layaknya patung, tapi jika patung bukankah gak bergerak sedikitpun? Tapi lain hal dengan Irine, tubuhnya memang diam tapi perasaan takut dan cemasnya membuat siapa saja yang melihat pasti sangat menyadari jika tubuh wanita itu bergetar.
"Nona Irine." Panggil Arka.
Mendengar suara siapa yang memanggilnya, Irine langsung bernafas lega.
"Anda kenapa berdiam diri di sini?" tanya Arka melihat penampilan Gadis itu tercengang.
Irine membalikkan tubuhnya, bibirnya mengembang membentuk sebuah senyuman.
"A-akh, tidak Tuan Arka. Saya hanya tidak enak jika harus masuk, khawatir akan mengganggu obrolan Anda berdua." Bohong. Astaga Irine bisa gila, pada situasi ini dia benar-benar bisa berbohong. Ya Tuhan maafkan Aku, ini semua demi nyawaku aku takut di bunuh oleh Bos dan Asistennya ini. Jerit Hari Irine.
"Benarkah?" Tanya Arka menatap Irine, di pandangan Arka, Nona Irine terlihat kacau pagi ini. Rambutnya berantakan, terlihat jelas keringat itu turun dari pelipisnya sepertinya nona Irine habis berlari.
Irine menatap ragu Arka, "Be-nar Arka." Jawabnya gugup.
"Sebaiknya Nona pergi ke kamar mandi terlebih dahulu, jangan khawatir Tuan tidak akan marah meski Nona telat sekalipun." Ucap Arka kemudian pergi meninggalkan Irine yang diam tercengang di tempatnya.
__ADS_1
"Akh, sepertinya aku memang tidak pandai berbohong." Ringis Irine sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Baiklah, sekarang pergi ke kamar mandi baru masuk ke ruangan itu." Tunjuk Irine pada ruangan Presdirnya.
...****************...
Arka bergegas berlari kembali ke ruangan Tuan nya, padahal baru saja beberapa saat yang lalu dia keluar dari ruangan itu tapi Kimtan menelponnya kembali dan menyuruhnya datang.
"Hueh, padahal kopi nya baru saja mau di minum." Gumam Arka dengan wajah lesunya.
Tok Tok Tok
"Masuk."
Setelah mendapatkan izin, Arka langsung masuk ke ruangan Kimtan. Saat memasuki ruangan itu ternyata Irine belum kembali, pantas saja wajah Tuan nya masih kusut seperti itu.
"Siapkan mobilnya, kita akan pergi ke rumah Ayah." Ucap Kimtan dengan suara yang datar.
"Hah?" Arka cukup sedikit terkejut, ada angin apa Tuan nya mau menemui Tuan Besar. Padahal sudah hampir dua bulan ini, Kimtan telah keluar dari rumah itu dan membatasi pergerakan orang-orang Tuan Besar. "B-baik Tuan, lalu bagiamana dengan Nona Irine?"
"Nona Irine datang Tuan, saat ini tengah di kamar mandi. Waktu Saya keluar dari ruangan Anda beberapa saat yang lalu, kami berpapasan. Benar kata Anda, Nona Irine terlambat karena ketinggalan Bus." Jelas Arka.
Kimtan mendesah kasar, "Sampaikan pesanku, untuk hari ini dia bisa libur bekerja."
"Ah, dia pasti kecewa jika mendengar hal ini." Bisik Kimtan, terlihat gelisah. "Begini saja, katakan padanya untuk pergi ke Mall atau ke mana saja yang dia inginkan hari ini bersama temannya yang berada di bagian Akuntan." Ucap Kimtan panjang lebar.
Arka hanya bisa menganggukkan kepalanya, mengikuti perintah Kimtan. Baru kali ini dia melihat Tuan nya yang memikirkan perasaan orang lain sedetail itu.
"Baik Tuan, akan saya laksanakan perintah Anda."
"Oke Terimakasih." Ujar Kimtan berlari pergi.
__ADS_1
...****************...
Setelah setelah selesai merapihkan penampilannya, Irine segera kembali ke ruangan kerjanya. Saat membuka pintu itu dengan sepelan mungkin, Irine tak merasakan ada seseorang di ruangan ini. Kedua matanya melirik ke arah meja Presdirnya dan benar saja kursi itu kosong, dia pun sedikit bernafas lega.
"Syukurlah." Gumamnya sambil mengelus dadanya. Kemudian Irine berjalan dengan santai ke meja kerjanya. Menaruh tas nya, meregangkan sedikit otot-otot tubuhnya sebelum memulai bekerja.
Tapi di mana pria itu? Pikir Irine.
"Kau sudah datang?" tanya seseorang.
Deg.
Irine terkejut, dia tahu ini suara siapa? Membuatnya tak berani hanya sekedar mendongakkan kepalanya, Ia segera saja berdiri dan membungkukkan tubuhnya.
"Ah, maafkan saya karena datang terlambat." Irine meringis, merutuki kebodohannya hari ini karena datang terlambat.
"Santai saja, lagi pula hari ini tidak ada pekerjaan yang terlalu banyak. Kau bisa berlibur Irine." ucap Arka.
"B-aaik, Terimakasih." Jawab Irine, membungkukkan tubuhnya dan kembali duduk. 'Aku harus mengatur ulang jam alarmnya agar tak terlambat bekerja lagi.' Batin Irine mengacak rambutnya.
"Ah, Iyah Nona Irine. Saya ingin menitipkan pesan ini pada Anda dari Tuan Kimtan." Ujar Arka, menyodorkan satu lembar kertas pada Irine.
"Hm, terimakasih Arka." Timpal Irine menerima kertas itu dengan tersenyum.
Sepeninggal Arka, Irine membuka kertas yang tadi di serahkan.
Pergilah ke luar bersama Stefi, hari ini tidak usah lanjut bekerja.
Irine cukup terkejut dengan tulisan pada lembar kertas yang dipegangnya.
__ADS_1
"Kenapa dia memberi libur dengan Stefi lagi?" Gumam Irine, menanyakan keanehan Kimtan.