Menembus Batas Cinta

Menembus Batas Cinta
Perjuangan Selanjutnya


__ADS_3

Dihalaman sekolah terpampang sepanduk besar, ucapan selamat atas keberhasilan Rara menjuarai kompetisi menyanyi kemarin. Serta dia menerima ucapan selamat dan karangam bunga dari OSIS dan kepala sekolah.


Dikelas pun dia mendapatkan banyak ucapan selamat dan bingkisan dari rekan-rekannya. Bahkan dari kakak kelas nya. Maklumlah sejak dia ikut audisi, Rara menjadi primadona disekolahnya. Walaupun dia dahulu tak sepopuler Joe, mungkin sekarang mereka bisa sejajar.


Rara tak mau larut dalam euforia kemenangan, karena masih ada satu perjuangan lagi yang harus ia menangkan. Dan ini juga merupakan salah satuasa depan dia.


Rara masuk keruang khusus untuk UAS susulan bersama beberapa anak lain yang juga ikut UAS susulan. Sedikit lega sih, artinya dia tak perlu sendiri mengerjakan soal-soal itu. Ada beberapa anak yang menemani nya.


Kriiiiiiing .....


Bel akhir ujian telah berbunyi. Rara keluar kelas dengam wajah lesu.


"Ya, ampun ... Mabok rasanya aku. Soalnya bikin ga nafsu makan"


"Sabar, Ra. Kuatkan hatimu"


"Otakku mendidih, seandainya ga semepet ini. Aku bisa belajar lebih intensif lagi"


"Ya, sudah resiko. Heheheh...."


"Aku ga yakin hasilnya bisa maksimal, Joe. Give up"


Hahahhahaha ...


Joe tertawa melihat Rara yang uring-uringan sambil memeluk tembok menghadapi UAS susulannya. Joe pergi ke kantin lalu kembali dengan dua buah susu murni dingin. Pas sekali diminum disuasana yang panas.

__ADS_1


"Terima kasih"


"Sama-sama. Cocok buat mengademkan hati mu yang lagi panas akibat UAS"


Tanpa diminta dua kali, Rara menenggak habis minumannya. Cairan susu segar dingin melewati batang kerongkongannya yang kering.


"Sudah selesai UAS susulan mu, Ra?"


"Belum, masih ada satu mepel lagi. Bahasa Inggris"


"Kalo begitu aku tungguin deh di depan. Biar kamu makin semangat?"


Rara hanya nyengir mendengar ucapan Joe.


Rupanya laki-laki ini dengam sabar menunggu Rara selesai UAS susulan.


Setelah itu Rara juga harus menyerahkan tugas prakarya nya ke ruang guru. Dan lagi-lagi dengan setia Joe menunggu dan menemani Rara menyelesaikan urusan sekolahnya.


"Help me, please...."


Rara merebahkan kepalanya di atas meja perpustakaan. Besok masih ada beberapa mapel lagi yang harus dia ikuti. Setelah itu barulah ia terbebas dari monster bernama UAS.


"Semangat, Ra ... Kamu pasti bisa"


"Hmmm...."

__ADS_1


"Aku kangen sama bantal dan kasur ku. Mata oh mata ... Sangat tidak bersahabat sekali. Seperti di lem dengan aibon. Lengket bangat"


Hahahaha


"Ya udah, yuk pulang. Aku antar ya"


Dengan berjalan lunglai Rara menuju mob Joe dihalaman sekolah. Kali ini dia tak menolak ajakan Joe untuk mengantarnya pulang. Dia benar-benar sudah kehabisan tenaga. Dia ingin sekali memeluk guling kesayangannya diatas tempat tidur.


Supir pribadi Joe mengantarkan mereka menuju komplek perumahan, begitu sampai di depan pintu, langkah Rara terhenti. Dia mendapati sebuah kartu ucapan dibawah lubang pintu.


"Selamat atas keberhasilan mu kemarin. Semoga kau berhasil juga dalam ujian sekolahmu"


Lalu ia membuka papper bag yang ikut diletakkan di depan pintu. Sebuah mini disc player ada didalamnya, lengkap dengan earphone.


"Dari siapa ini? Apa dari Si Tuan Misterius?"


Tak lama datanglah utusan Si Tuan Misterius, dia menyampaikan pesan dari tuannya. Setelah berpamitan utusan itu pergi menaiki mobilnya. Joe yang sedari tadi diam dan perhatikan saja, mendekat kepada Rara.


"Siapa dia, Ra?"


"Ooo... dia utusan Si Tuan Misterius. Dewa penyelamatku"


"Tuan misterius? Dewa penyelamat? aku binggung apa maksudmu, Ra"


"Panjang ceritanya. Kapan-kapan aku ceritain. Aku masuk dulu ya. Terima kasih tumpangannya, Joe"

__ADS_1


Joe menganguk. Lalu pergi kembalu ke rumah nya dengan berjuta rasa ingin tahu dan penasaran terhadap Si Tuan Misterius.


******


__ADS_2