Menembus Batas Cinta

Menembus Batas Cinta
Sepuluh Besar Audisi


__ADS_3

Bukan main senangnya Rara mendengar namanya disebut sebagi salah satu nominasi sepuluh besar peserta audisi nasional. Berkali-kali hatinya mengucap syukur. Aku harus lebih rajin lagi berlatih agar aku bisa menjadi yang terbaik. Batin Rara saat di ruang ganti.


Tok...tok...


Pintu ruang ganti diketuk. Rara malingkan wajahnya ke arah pintu. Melihat siapa yang datang.


Cekreeeeekkk ...


"Congratulation .... "


Joe muncul di depan pintu membawakannya seikat bunga mawar merah.


"Terima kasih ... "


"Hanya terima kasih??"


"Eeh..."


"Berikan aku hadiah istimewa"


"Apa?"


Joe menyentuh bibirnya.


"What!! Ini gawat", gumam Rara yang tau maksud dari gestur Joe.


Hahahahahha ... Joe terbahak melihat Rara yang jadi salah tingkah menanggapi permintaannya.


"Just kidding ko. Becanda kali"


Rara menarik nafas lega. Dalam hati dia menggerutu.


"Becandamu ga lucu, Joe"


Praaaang ...


Suara pecahan gelas. Rara dan Joe keluar dari ruang ganti. Melihat apa yang terjadi diluar.

__ADS_1


"Apa kau tak bisa lebih hati-hati!? Bereskan itu, cepat!!!"


Terdengar suara seseorang melengking, membentak dan menggelegar. Seisi studio mendadak berubah menjadi kuburan. Begitu sunyi dan menakutkan.


Dari sudut ruangan seorang laki-laki berpakaian rapi, berjas hitam dan berkaca mata. Rambutnya mengkilap dan tubuhnya wangi parfum bermerek. Sepatunya juga ga kalah mengkilatnya. Seperti seorang raja yang sedang memerintahkan pelayannya.


Dibelakang lelaki itu ada seorang yg berjas hitam dan berkacamata. Barangkali itu adalah pengawalnya, pikir Rara.


Kedua nya berbalik arah. Menuju ke arah mereka. Rara mengamati dengan seksama. Rasa-rasanya dia pernah bertemu dengan lelaki itu. Tapi dimana?


Tepat satu meter jarak nya kedua orang tadi berhenti di hadapan mereka. Joe memberi hormat.


"Selamat malam, Pak Raya?"


"Hmm..."


Raya menatap pada Rara. Kedua bola mata mereka bertemu. Dan Rara terkejut setengah mati.


"Ya, Tuhan. Dia di orang aneh yang suka tiduran di lapangan rumput itu", nyaris dia berteriak menyadari hal itu.


Namun buru-buru dia mengontrol emosinya.


Rara menganguk.


"Berusahalah. Saingan mu juga bukan orang sembarangan"


Raya pergi meninggalkan Joe dan Rara tanpa pamit. Rara memandangnya sampai mereka berdua hilang dibalik pintu studio.


"Siapa mereka, Joe"


"Ooh... Dia itu pemilik stasiun TV ini. Dan juga raja dunia bisnis hiburan dan pertelevisian negeri ini. Tak ada seorang pun yang berani menentang nya. Dia seperti seorang Raja. Raya Aditama"


Seketika wajah Rara menjadi pias. Rupanya orang yang dia temui di lapangan rumput itu bukan orang sembarangan.


"Ya, Tuhan ... Rasanya seperti bertemu seorang musuh besar", gumam Rara pelan.


"Kenapa, Ra?"

__ADS_1


"Eeh..."


"Kamu tadi bilang apa?!"


"Ga apa-apa. Hanya ngomong sendiri hal yang ga penting ko, Joe"


******


Sudah hampir pukul dua belas malam. Taxi online yang di pesan Rara berkali-kali meng-cancel-nya. Mungkin perjalanan dari studio sampai ke rumah nya cukup jauh, dalam hati Rara sedikit menyesal menolak bantuan Joe yang hendak mengantarnya pulang tadi.


"Ayo, naik!"


"Eeeh..."


Rara terkejut saat sebuah Porsche Macan 2.0 berwarna silver berhenti tepat di depannya. Didalam nya ada Raya Aditama duduk dibelakang kemudi.


"Kenapa bengong? Kamu mau begadang disini?"


"Tapi, Pak..."


Raya turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk gadis bermata indah itu. Mau tak mau Rara pun masuk kedalamnya.


"Kuantar pulang"


"Tapi, Pak. Rumahku jauh loh. Nanti Bapak ..."


"Nanti apa...?!"


Rara menoleh kearah samping. Dia melihat Raya Aditama dari jarak yang begitu dekat.


"Ya, Tuhan....tampan sekali laki-laki ini"


Baru kali ini dia melihat Raya dari jarak sedekat ini tanpa kacamata. Wangi parfumnya yang lembut membuat meleleh hati gadis mana pun. Pasti terbayang dong, pria gagah dan tampan dengan parfum lembut dan mahalnya, sensai nya bagaimana?


Setengah jam kemudian mereka sudah sampai di komplek perumahan. Rara turun dan mengucapkan terima kasih. Raya menutup kaca mobilnya lalu melajukan mobil mewahnya menuju pusat kota.


"Iih... Paling tidak senyum kek, ini kayak batu. Batu es. Keras dan dingin"

__ADS_1


Rara mengomel sendiri dalam hatinya. Tapi lumayan lah. Bisa dapat tumpangan gratis naik mobil mewah lagi.


******


__ADS_2