
Ruang ICU rumah sakit pusat kota sangat mencekam, pengamanan di ruang ICU diperketat. Pihak kepolisian juga baru saja menanyai Rara sebagai saksi kunci atas penyerangan terhadap Raya Aditama, direktur utama Raya Entertainment. Awak media ramai menunggu konfirmasi di luar rumah sakit. Mereka dilarang masuk demi kepulihan Tuan Muda keluarga Aditama.
Sebuah luka tusuk yang menembus dan melukai lambung Raya. Dia banyak kehilangan darah. Keadaannya kritis. Dan malam ini juga dia harus segera di operasi. Rara menunggu di luar ruang operasi dengan bermandikan airmata. Disebelahnya ada Hans yang juga dengan setia menunggui tuan mudanya.
"Tuan besar!", Hans memberi hormat pada tuan besarnya yang tiba di ruang tunggu kamar operasi.
"Rara.."
Rara menyeka airmatanya. Melihat pada seseorang yang memanggil namanya. Seorang laki-laki tua berbadan tegap. Tampak sekali raut khatismatik dari wajah lelaki itu.
"Kamu Rara Pratiwi, bukan?!", tanya Roy
Rara menganguk. Laki-laki itu mengulurkan tangannya.
"Roy. Roy Aditama. Papi Raya Aditama"
Rara mencoba tersenyum menyambut jabat tangan Roy Aditama padanya. Roy duduk di kursi tunggu, Rara mengikutinya.
"Aku percaya, Raya adalah laki-laki yang kuat. Dia pasti bisa melewati semua ini. Dia pasti baik-baik saja",ucap Roy tersenyum.
Rara tau senyum itu adalah senyum yang menyembunyikan kesedihan dihatinya.
__ADS_1
Tampak jelas dari raut wajahnya, Roy Aditama pun sangat mengkhawarirkan putra tunggalnya itu. Rara menunduk. Rasa bersalah menyelimuti dirinya. Ternyata firasatnya selama ini benar. Terjadi sesuatu yang buruk pada Raya.
"Raya memilihmu. Pasti dia punya pertimbangan sendiri. Ada sesuatu yang istimewa darimu yang hanya bisa dilihat olehnya. Aku yakin kamu adalah pilihan yang tepat untuknya", papar Roy
"Anda tidak marah atas apa yang diputuskan Pak Raya?"
"Tidak",jawab Roy pasti
"Kenapa?"
"Karena dia anak ku. Putra kandungku. Darah ku mengalir dalam dirinya. Aku paham betul siapa dia. Jadi aku harap kamu bisa menjadi bagian dari hidup nya kelak. Sebagai orang tua aku hanya merestui apa yang jadi keputusan nya. Aku yakin Raya punya pertimbangan matang", papar Roy lagi
"Anda baik sekali"
Roy mengusap kepala Rara dengan lembut. Dia tau perempuan yang ada dihadapannya ini adalah perempuan yang paling disayangi putranya. Roy sudah menganggap Rara sebagai putri nya sendiri.
Cekreeeeekkk ...
Pintu ruang operasi terbuka. Raya dibawa keruang perwatan oleh beberapa perawat. Dokter keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana keadaan anakku, dokter?", tanya Roy
__ADS_1
"Operasi nya berhasil Pak, kita hanya menunggu proses pemulihan pasien lagi. Jika tubuhnya kuat, tiga atau paling lama satu minggu kedepan dia bisa sembuh. Namun perlu kesabaran jangan sampai luka operasinya terbuka. Tapi itu juga tergantung daya tahan tubuh pasien sendiri. Saya berharap Pak Raya bisa kuat sehingga dia bisa sembuh dengan sempurna"
******
Rara dengan setia menunggui Raya sadar dari koma nya. Dia tak perduli apapun lagi saat ini. Yang dia inginkam hanyalah Raya bisa sadar dari komanya dan bersamanya lagi.
"Nona Rara", panggil Hans
Rara menoleh kearah Hans.
"Sebaiknya anda beristirahat. Dari kemaren anda terus berada disini. Saya khawatir dengan keadaan anda"
"Aku ingin disini Hans. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada Pak Raya"
"Jangan khawatir, Nona, Saya akan bersama nya. Sebaiknua Nona pulang dan beristirahat sebentar. Saya akan panggilkan sopir untuk mengantar nona. Tuan muda juga tak ingin anda sakit karena nya", pinta Hans sopan
Rara terdiam. Dia mengangguk, meng-iya-kan ucapan Hans. Tak lama seorang supir keluarga Aditama datang menjemput Rara dan mengantarknnya pulang ke apartemen nya.
******
Sudah tiga hari berlalu Raya Aditama tak kunjung sadar pasca operasinya. Dokter hanya mengatakan untuk tetap bedoa dan bersabar. Hanya tinggal menunggu kekuatan dan kemauan hidup dari pasien saja, begitu ucap dokter tadi pagi melihat keadaannya yang semakin menurun.
__ADS_1
Roy menutup semua akses liputan media atas apa yang menimpa putra nya. Tidak ada yang tahu keadaan yang terjadi diruang perawatan selain dokter, dan keluarga.
*****