Menembus Batas Cinta

Menembus Batas Cinta
Mencairnya Si Kepala Es


__ADS_3

Matahari masih belum bersinar pagi itu, atau mungkin dia bergerak lebih lambat dari biasanya karena ketakutan mendengar sura teriakan yang menghebohkan di pagi buta. Semua orang menjadi pias mendengar seseorang berteriak dari dalam kamar.


"Aku tidak mau tahu. Cari dimana dia. Cari dia sampai dapat!!!"


Suara lengkingan tinggi terdengar dari sebuah rumah mewah dikawasan elite, lantai dua kamar disebelah kamar utama itu dihebohkan dengan teriakan tuannya dipagi buta. Seperti orang yang kebakaran jenggot, Raya Aditama panik dan heboh sendiri.


"Apa kau yakin, Han? Kau sudah memeriksa rumahnya dengan benar?"


"Tentu saja, Tuan. Saya yakin sekali. Bahkan anak buah kita disana masih berjaga-jaga kalau-kalau dia kembali. Bahkan warung nasi tempat dia tinggal dulu sepi. Tak ada kegiatan yang mencolok"


"Tidak mungkin. Dia sedang berkabung, pastinya dia akan ada yasinan atau paling tidak pelayat yang datang. Tidak mungkin dia menghilang begitu saja"


"Bagaimana dengan keluarganya yang lain. apa kau sudah memeriksanya?"


"Sudah, Tuan"


Raya bolak-balik serbasalah, duduk atau berdiri, lalu berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Diambilnga ponselnya. Lalu diletakkannya lagi. Bahkan berkali-kali dia menggaruk-garuk kepalanya karena kesal.

__ADS_1


Han tak kalah pusingnya melihat prilaku tuan mudanya. Ini pertama kalinya dia bersikap begitu. Uring-uringan tidak jelas.


"Anda panik sekali, Tuan. Cobalah tenangkan diri anda sedikit. Agar bisa berfikir dengan jernih"


Raya mencengkram kerah baju Hans.


"Bagaimana aku tidak panik, dia menghilang begitu saja setelah dari pemakaman. Bahkan handphone nya tidak aktif"


Dilepaskan cengkraman baju Hans. Lalu ditendangnya kursi yang ada disebelah nya.


"Han, benar Raya. Tenangkan dirimu. Berfikirlah dengan baik dan sehat", batinnya.


Raya membelalakkan matanya, dia tak menyadari hal itu sampai Han mengatakannya barusan. Namun harga dirinya lebih tinggi dari perasaannya.


"Apa yang kau katakan, Han. Jangan sembarangan bicara"


"Saya tidak sembarangan bicara, Tuan. Sikap Anda barusan lebih membuat saya yakin kalau yang saya ucapkan barusan adalah benar"

__ADS_1


"Tidak mungkin"


"Baru kali ini anda sebegitu paniknya mendengar nona Rara menghilang, Anda adalah orang yang sangat tidak perduli urusan orang lain apalagi dengan urusan seorang perempuan. Tapi nona Rara berbeda"


"Berbeda?"


"Anda sangat menyayangi nya, bukan? Anda rela menjadi bayangan demi nona Rara. Bahkan Anda mengorbankan segalanya demi perempuan yang Anda sayangi itu, Tuan"


Raya terdiam. Perlahan dia menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Han benar. Han tak mengucapkan sesuatu yang salah. Dia benar-benar sudah kehilangan keangkuhan hatinya terhadap Rara.


"Cari dia, Han! Aku tak ingin terjadi apa-apa dengan dia. Bisa gila aku dibuatnya kalau sampai itu terjadi"


"Baik, Tuan!"


Han meninggalkan Raya yang terpaku di kamarnya. Ada secuil rasa nyeri diujung hatinya. Sebuah rasa takut yang luar biasa, takut kehilangan perempuan yang disayanginya.


Entah sejak kapan dia jatuh hati pada anak kecil itu, perempuan kecil yang usianya terpaut dua puluh tahun lebih muda darinya. Dunia ini sudah gila dibuatnya, entah apa yang membuat dia begitu terobsesi dengan perasaannya pada Rara. Bahkan dia sendiri pun tahu, kalau Rara sangat membencinya.

__ADS_1


"Rara, dimana kamu berada. Aku begitu mengkhawatirkan mu, Ra. Aku takut terjadi apa-apa denganmu. Aku takut kau melakukan hal bodoh karena kematian ibumu"


******


__ADS_2