Menembus Batas Cinta

Menembus Batas Cinta
Kontrak Kerja Yang Mengikat


__ADS_3

Waktunya bersantai telah usai, sebagai konsekuensi dari kemenangan nya dalam audisi kemarin, Rara harus mengikuti prosedur untuk bisa tampil debut perdana. Tentu saja dengan jam terbang yang padat, selain harus membagi waktu nya untuk sekolah, les vocal, pemotretan bahkan sampai syuting video klip.


Belum lagi jadwal tour yang sudah di susun begitu rapi oleh pihak manajemen Raya Entertainment. Siang itu dia sudah berada di ruang kerja Raya Aditama, seorang pria bertubuh tegap, asisten pribadi Raya Aditama, menghampiri Rara.


"Mohon maaf, Pak Raya sedang dalam perjalanan menuju kesini. Silakan tunggu sebentar"


"Baiklah"


Dalam hati Rara memperhatikan laki-laki tadi, sepertinya ia pernah bertemu sebelumnya. Namun setelah payah berfikir, Rara tidak dapat mengingat dimana ia pernah bertemu dengan laki-laki itu.


Taklama pintu dibuka. Dan munculah orang yang ditunggunya. Setelan jas hitam rapi, sepatu kulit bermerek hitam mengkilat, sisiran rambut yang klimis dan rapi. Serta bau parfum lembut tercium dari tubuh lelaki tampan itu.


"Baiklah nona, kita langsung saja pada pokok permasalahan"


Deg ... Hati Rara terasa berhenti berdetak. Tanpa basa-basi Raya langsung duduk dan bicara masalah kontrak kerja.


"Ini orang kok ya ga ada basa-basinya ya. Ga ada manis-manis nya sekali", batin Rara.


Dia hanya mengangguk mendengar kan penjelasan Raya.


"Apa kau, paham?"


"Iya, Pak!"


"Bagus!"

__ADS_1


Raya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, mengangkat salah satu kakinya lalu menopangkan pada kaki sebelahnya.


"Wow, dari sini dia terlihat tampan. Tapi kok kayak es batu ya, beku", umpat Rara dalam hati.


Andai saja dia tak terikat kontrak pada perusahaan itu, sudah dari tadi Rara mengumpat lelaki sombong yang ada dihadapannya.


"Itu saja, Pak?"


"Ya, aku harap kamu bisa menjadi seorang artis yang professional dan disiplin. Aku tak mau rugi. Ini bisnis nona"


"Aiiih... Bisnis lagi bisnis lagi. Dasar kepala es batu", maki Rara dalam hati lagi.


Dia berpura-pura tersenyum di hadapan Raya, walaupun hatinya sanagt kesal melihat kelakuan bos Raya Entertainment itu. Tapi dia berusaha menahan senyumnya, dan bersikap profesional.


"Baiklah, Pak. Jika tidak ada lagi yang ingin disampaikan saya mohon pamit. Permisi, Pak"


Rara keluar dari ruangan yang menyeramkan itu dan menutup pintu perlahan-lahan.


"Huffft... Ya ampun, lebih horor dari pada kuburan angker. Amit-amit dah itu orang. Ga ada senyum-senyumanya segala", gumam Rara di depan pintu.


Buru-buru dia pergi menjauhi ruang direktur utama menuju studio buat pemotretan. Dia akan mulai debut perdana nya tiga hari lagi.


Materi lagu baru nya sudah dia hafal dengan baik. Tinggal penguasaan panggung dan koreografi untuk pementasan nanti.


******

__ADS_1


Hampir pukul empat sore, Rara berada di ruang ganti untuk istirahat. Latihan koreografi begitu menguras tenaga nya, sebotol air mineral habis diteguknya.


"Capek nya", gumamnya pelan.


"Wah, belum apa-apa kamu sudah mengeluh capek. Ini baru tahap latihan. Belum show"


Tiba-tiba Raya muncul dari pintu ruang ganti. Rara diam menunduk, tak berani menatapnya. Rupanya laki-laki itu mendengar apa yang ia katakan tadi.


Raya berjalan mendekat, begitu dekat hingga membuat jantung Rara nyaris berhenti berdetak. Raya mengamati wajah Rara dari jarak yang begiti dekat, lalu memegang dan menarik dagu gadis mungil itu keatas.


Rara bisa melihat dengan jelas raut wajah tampan Raya Aditama. Walaupun dia harus menjinjit karena Raya memiliki tubuh yang lebih tinggi dan atletis.


"Ingat nona, jadilah seorang artis yang profesional dan disiplin. Camkan kata-kataku. Jangan mengeluh"


Raya pergi meninggalkan Rara sendirian di ruang ganti. Bukan main rasanya Rara mengumpat habis-habisan. Kesal rasanya diperlakukan seperti itu.


"Aku benci dia. Sangat benci"


******


Pukul sepuluh malam Rara baru sampai dirumah nya. Setelah membersihkan diri dia merebahkan tubuhnya yang lelah seharian di atas tempat tidur. Bertemu dengan Raya Aditama, pemotretan, koreografi dan latiham vocal. Sungguh menguras tenaga dan pikirannya.


"Raya Aditama, laki-laki dingin dan gila kerja. Memperlakukan orang seenaknya. Aku benci kamu manusia kepala es batu"


Dia mengambil bantal dan menutup wajahnya dengan bantal, berharap dia bisa tidur dan melupakan kejadian menyebalkan tadi pagi.

__ADS_1


******


__ADS_2