
Ernest mematung didalam kamarnya dia merenungi apa yang dikatakan putrinya tadi. Rasa penyesalan teramat dalam dihatinya, mungkin jika dulu dia perfikir lebih panjang, putra putrinya tak akan mengalami nasib seburuk itu.
Tak terasa oleh nya airmatanya mengalir dan ia mulai sesegukan. Penyesalannya tak akan mengembalikan putra putrinya padanya.
Cekreeeeekkk ...
Benny datang mendekatinya. Dia menepuk pundak sepupunya itu. Dia tau ini adalah kejujuran yang Ernest perlihatkan padanya. Airmatanya tak bisa berbohong. Dan baru kali ini Ernest menunjukkan titik lemahnya pada orang lain.
"Apakah Tuhan akan mengampuni aku, Benny? Apakah anak-anakku akan memaafkan kesalahan yang telah aku perbuat", isak lelaki tua itu.
Benny menggunakan kepalanya.
"Mereka anak-anak yang baik, Ernest. Aku yakin mereka sangat menyayangimu. Terutama Rara. Dia adalah perempuan berhati lembut",ucap Benny
__ADS_1
"Tapi aku sendiri tak bisa memaafkan diriku sendiri, Benny. Aku akui kalau aku ini lelaki yang bengis dan juga ayah yang kejam. Selama di Siberia aku terus menerus mengutuki diriku"
"Sudahlah, jangan seperti itu. Tidak baik. Dan itu tak akan merubah semua yang telah terjadi. Yang terpenting kamu harus berusaha sembuh dan memperbaiki hubunganmu dengan putrimu"
"Dia laki-laki yang baik, bukan??!. Aku percaya dia bisa menjaga putriku dengan baik. Aku melihat dari cahaya matanya dan caranya memperlakukan istrinya",tanya Ernest
"Maksudmu Raya? Kamu beruntung punya menantu yang baik seperti Raya, dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Aku yakin pilihan putri mu sudah tepat pada suaminya sekarang. Kamu tak perlu khawatir"
******
Kondisi Ernest makin hari makin memburuk, sakit kanker paru-paru yang dideritanya selama lima tahun terakhir ini memaksanya untuk berbaring lemah diatas tempat tidur. Dia tidak ingin melakukan kemoterapi ataupun medical checkup lainnya, sejak awal dokter memvonis nya, Ernest tidak memperdulikan rasa sakit yang menggerogotinya. Seolah dia sudah siap untuk menjemput mautnya.
Kali ini dokter harus menyerah karena sel-sel kankernya sudah menyebar ke organ vitalnya yang lain. Tarikan nafasnya sudah sangat berat dan terputus-putus. Benny dan Josie yang berada bersamanya merasa tidak tega menyaksikan sakaratul maut yang menghampiri Ernest. Dan tepat pukul satu dini hari Ernest Van Hoeberg menghembuskan nafas terakhirnya didampingi oleh seorang pastur dan saudara sepupunya Benny.
__ADS_1
******
Pemakaman Ernest Van Hoeberg dilakukan di Belanda berdasarkan atas permintaan terakhir dari almarhum. Rara bersama suami dan mertuanya terbang ke Belanda. Mereka turut mengantar kepergian Ernest keperistirahatannya yang terakhir. Pemakaman hanya di hadiri oleh keluarga terdekat saja.
"Bapak, semoga bapak tenang disana. Saat ini ini Bapak sudah tidak lagi merasakan sakit. Rara sayang sama Bapak. Walaupun pertemuan kita sangat singkat tapi Rara akan mendoakan Bapak disini. Selamat Jalan Bapak", ucap Rara lirih di depan makan Bapaknya.
Raya dengan setia berada disamping istrinya yang sedang berduka. Memeluk nya, memberikan dukungan dan energi positif buat istrinya tercinta.
Raya duduk berjongkok di hadapan makam bapak mertuanyanya. Sambil memegang nisan yang masih baru itu Raya berjanji dengan sepenuh hatinya.
"Tuan Ernest Van Hoeberg, ayah kandung istriku, aku berjanji padamu. Aku akan menyayangi dan mencintai putri semata wayang mu dengan seluruh hidupku. Anda tak perlu khawatir, hidup Rara dan masa depannya adalah tanggung jawabku. Tenang lah anda disana", janji Raya didepan makam mertuanya.
******
__ADS_1