Menembus Batas Cinta

Menembus Batas Cinta
Meet Up


__ADS_3

Menjelang senja, Rara sudah berada di apartemennya, dia menikmati waktu santainya dengan tenang. Maklum jadwalnya sehari-hari sangat padat. Jika ada waktu santai itu adalah sebuah nikmat yang tiada terkira.


Ting .... Toooong ....


Rara menoleh ke arah pintu, enggan sekali dia untuk bangkit dari tempat tidurnya. Nyaman sekali dia rasakan bersama kasur dan bantal empuknya.


"Siapa ya?",guman nya


Rara mengintip melalui layar dibelakang pintu.


"Joe ??"


Rara buru-buru membuka pintu nya. Dia mempersilakan Joe masuk.


"Apa kabar, Ra?",sapa Joe.


"Baik. Kamu apa kabar Joe. Lama sekali tidak bertemu. Bagaimana tour antar negara mu?"


"Kabar ku baik, Ra. Yaa... Semua berjalan lancar. Ini aku baru kembali tadi malam. Aku langsung kesini"


"Waahh... Jam terbang mu padat sekali"


"Tidak sebanding ah, dengan artis top seperti kamu, Ra"


Hahahahaha.... Rara tertawa.


"Kamu ini jangan memutar balik fakta. Jangan terlalu merendah ah ... Oiya... Mau minum apa?"


"Terserah kamu"


"Tunggu sebentar ya"


Perempuan yang memiliki lesung pipit itu mengambil sekaleng minuman soda dan beberapa potong kue yang ada dalam lemari es. Lalu mempersilakan Joe untuk mencicipi nya.


"Wah, orgel yang indah", Joe memegang kotak musik yang terletak di meja.


"Hmmm... "


"Kalo tidak salah ini limited edition saat pembukaan musium seni di Perancis. Pasti mahal ya, alunan musik klasiknya membuat hati damai"


"Itu pemberian seseorang"


"Siapa?",tanya Joe penasaran


"Si dewa penyelamat ku, si tuan Misterius"


Sejenak jantung Joe berdetak kencang. Ada seiris luka diujung hatinya jika mendengar kata tuan misterius. Seseorang yang selalu di puja Rara.

__ADS_1


"Siapa dia, Ra"


"Aku tidak tahu siapa dia. Yang jelas dia adalah orang yang paling baik didunia. Sang dewa penyelamatku. Dia selalu ada jika aku sedang dalam kesulitan"


"Barangkali dia salah satu penggemar mu"


"Bisa jadi?!"


"Kamu menyukai orang itu? Maksudku seperti seorang kekasih?"


"Aku saja tidak tahu siapa dia, Joe?"


Rara menghindari tatapan mata Joe.


"Paling tidak sampai tadi siang. Dan kalau benar orang itu adalah Pak Raya, kamu benar Joe, aku menyukainya. Jauh sebelum aku tahu kalau dia itu seorang Raya Aditama bahkan sebagai si dewa penolong ku",ucap Rara dalam hati.


Dia mengalihkan pandangannya keluar jendela. Dia tahu sampai saat ini Joe masih menyimpan perasaan sayang nya pada dirinya. Namun Rara tetap menganggap nya sebagai seorang sahabat.


"Ya, sudah .. aku pamit dulu. Aku hanya ingin melihat keadaan mu saja. Aku senang kamu baik-baik saja", pamit Joe


"Terima kasih, Joe"


Joe berpamitan pada Rara. Walaupun Rara tak memberinya peluang namun sebagai lelaki dia tak akan pernah menyerah. Joe menuruni tangga lobi menuju tempat parkir.


******


Baru saja Rara hendak melurukan pinggangnya diatas tempat tidur, lagi-lagi bel berbunyi.


"Joe lagi kah? Mungkin ada sesuatu yang tertinggal"


Rara membukakan pintu.


"Pak Raya?",Rara terkejut melihat kedatangan Raya


"Apakah aku menggangu mu?"


"Eehh..."


"Bukankah kamu yang mengundang ku?"


Rara terpaku menatap Raya yang tiba-tiba muncul didepan pintu, dia lupa kalau memang dia yang meminta Raya datang ke apartemennya. Tapi bukankah Pak Raya meminta Hans yang menjemputnya, lalu sekarang laki-laki itu malah datang sendiri ke apartemennya.


"Apakah aku harus terus berdiri disini?",tanya Raya


"Aah... Maaf. Silakan masuk"


Raya tersenyum, dengan tenang dia masuk perlahan kedalam apartemen Rara.

__ADS_1


"Silakan duduk, Pak. Saya ambilkan minum sebentar"


"Terima kasih. Bisa kamu buatkan aku secangkir kopi?", pinta Raya


"Baiklah, tunggu sebentar"


Permintaan khusus dari Raya membuat Rara sedikit grogi. Dia merebus air panas, meracik gula dan kopi dalam sebuah cangkir. Senyiapkan beberapa iris kue di piring kecil. Lalu menyusun kopi dan pring kue diatas tampah kecil.


"Silakan"


"Terima kasih"


Harum secangkir kopi menyeruak keseluruh ruangan, Raya menikmati seruput demi seruput kopi yang disuguhkan Rara.


"Enak sekali. Kamu pandai membuat kopi. Aku suka kopi buatan mu"


"Anda terlalu berlebihan, Pak"


Raya tak memperdulikannapa yang Rara ucapkan, baginya kopi buatan Rara memang paling enak. Dia sangat menikmatinya.


Rara bangkit dari tempat duduknya menuju kamar, lalu tak lama dia keluar lagi membawa sebuah kotak kecil berukir.


"Pak Raya ...", ucap Rara


"Hmm... "


"Ada yang ingin aku tanyakan pada anda"


"Hmmm..."


Gadis manis itu menyodorkan kotak yang dibawanya tadi dihadapan Raya.


"Apa ini?"


"Aku menemukannya di meja kerja, anda"


Raya membukanya. Diterkejut melihat isinya, benda yang dari kemarin ia cari rupanya ada pada Rara. Tapi bukan Raya kalau mau kehilangan gengsinya didepan perempuan yang dicintainya.


"Apa ini?"


"Sebaiknya anda tidak usah berpura-pura tidak tahu. Aku mohon, katakan sejujurnya. Kenapa benda ini ada di meja kerja anda, Pak Raya"


"Bagaimana kamu bisa masuk ruang kerjaku tanpa izinku, Rara. Lancang sekali"


"Terserah anda mau bilang apa, aku butuh penjelasan dari bapak"


"Tidak ada yang perlu aku jelaskan padamu. Aku berhak atas privasi ku sendiri. Dan ini semua tidak ada hubungannya denganmu. Jangan sekali-kali lagi masuk ruanganku tanpa izin. Ingat itu!", titah Raya.

__ADS_1


******


__ADS_2