Menembus Batas Cinta

Menembus Batas Cinta
Runtuhnya Hati Van Hoeberg - bagian kedua


__ADS_3

Berkali-kali Russell memohon ibu tirinya, dia ingin sekali melihat dunia luar yang lebih luas dari "kamar penjaranya". Eliza saat itu sedang mengandung anak pertamanya, hatinya tak tega melihat anak tirinya memohon dengan sangat padanya.


"Mommy, kalau adikku lahir boleh aku yang memberi nya nama?"


"Kamu ingin adik laki-laki atau perempuan?", tanya Eliza pada Dave.


Belum sempat Dave menjawab, Russell yang berada disebelahnya mengerakkan kursi rodanya lalu tergelincir jatuh ketengah perkebunan teh. Malang nasibnya, Russell meninggal dunia. Ernest yang mengetahui hal itu murka. Bukannya iba melihat istrinya yang sedang hamil muda, dia malah menghajar Eliza habis-habisan. Dave berusaha membela ibu tirinya, namun usahanya sia-sia. Dia juga menjadi sasaran kemarahan Ernest.


Tak terima dengan kematian putra sulungnya, Ernest pergi meninggalkan Eliza dan membawa Dave kembali ke Belanda. Dave dititipkan pada kakak perempuan Ernest. Lalu dia pergi melanglang buana tak tahu kemana. Puas Eliza mencari tahu keberadaan suaminya, namun tak juga membuahkan hasil. Eliza merasa depresi dan dua kali melakukan percobaan bunuh diri. Dia jadi membenci anak yang ada dalam kandungan nya itu.


Baru pada saat Rara berusia lima tahun, Eliza mulai bisa menerima kehadiran Rara.


******


Rara menghela nafas panjang mendengar cerita Josie. Dia mencoba untuk menerima kenyataannya.


"Bi, aku ingin bertemu dengan dia, Bi. Dengan ayah kandungku?! Aku mohon izinkan aku ya, Bi", Rara memohon


"Tapi, Ra. Bagaimana jika dia menyakitimu lagi? Apakah suami mu akan mengizinkan kamu bertemu dengannya?"


"Jangan sampai, Kak Raya tahu, bi"


"Bibi akan coba bicara dengan pamanmu dulu, dia yang tahu dimana Ernest"

__ADS_1


******


Rara memasuki rumah tua yang sangat besar bersama Benny. Rumah itu terletak jauh dipegunungan, melewati perkebunan teh yang sangat luas. Sampai di ruangan belakang mereka berhenti didepan sebuah kaman yang berada di sudut rumah.


"Ra, jika terjadi apa-apa berteriak lah keras-keras. Aku akan menunggu mu di depan pintu"


"Baik, Paman. Terima kasih"


Tok... Tok...


Cekreeeeekkk ...


"Kamu kah yang datang itu, Benny", tanya seseorang yang terbaring diatas tempat tidur.


Ernest mencoba melihat dengan jelas siapa yang datang. Dan dia terkejut saat mengetahui putrinya datang dihadapannya.


"Kamu!! Mau apa kamu kesini?! Pergi!!!" teriaknya


"Bapak ... Apa yang terjadi sebenarnya? Bapak kenapa?", tanya Rara


"Dit gaat u niets aan" 1)


"Sudahlah, Pak. Jangan berkeras hati seperti itu. Ini aku Rara Pratiwi, putrimu. Mau tidak mau suka tidak suka, bahkan diakui atau tidak darahmu mengalir dalam tubuhku"

__ADS_1


Ernest terdiam. Dia menatap tajam kearah Rara. Dia tahu benar bahwa perempuan cantik yang ada dihadapannya adalah putri kandungnya.


"Rara datang kesini untuk meminta maaf padamu, kemarin-kemarin Rara terlalu emosional, Rara masih belum bisa menerima kenyataanya. Namun setelah Rara fikir, Rara hanyalah manusia biasa. Rara tak berhak menghakimi Bapak atau menghukum Bapak. Rara yakin bahwa sekeras apapun hati Bapak, pasti ada sedikit rasa kemanusiaannya"


"Jika memang Bapak tak mengakui Rara sebagai putri Bapak, Rara bisa terima. Rara tidak akan mempermasalahkannya lagi. Saat ini Rara sudah bahagia bersama Kak Raya, suami Rara, yang begitu baik. Rara harap, dimanapun Bapak nanti, Bapak juga akan menemukan kebahagian Bapak"


"Rara tidak ingin menggangu Bapak jika memang Bapak tak ingin lagi betemu, tapi Rara akan selalu mendoakan Bapak dan Emak dalam setiap doa Rara. Sekali lagi, Rara minta maaf atas semua kesalahan Rara dan terima kasih Bapak sudah mengizinkan Rara bicara dengan Bapak saat ini"


Rara mendekati Ernest, dari dekat tampak keriput dan wajah lelah lelaki tua itu. Tak ada lagi amarah dimatanya, matanya terlihat begitu sedih. Wajahnya pucat dan sedikit kurus dari hari sebelumnya mereka bertemu.


Rara mengambil tangan Ernest menggenggamnya beberapa saat, lalu mencium punggung tangan nya lebih lama. Airmatanya mengalir, menetes pada kulit tangan Ernest.


Rara pamit dan keluar dari kamar itu. Dai bersandar di balik pintu. Benny mendekatinya.


"Ra, kenapa kamu menangis", tanya Benny


Rara tidak menjawab. Dia memeluk pamannya erat-erat, didalam tadi dia sangat berharap kalau bapaknya mau memeluknya untuk pertama kalinya. Namun Ernest hanya diam seribu bahasa.


******


Terjemahan


1) "Ini bukan urusanmu"

__ADS_1


*******


__ADS_2