
"Silakan dinikmati, Tuan, Nona",ucap Hans menyajikan makan siang mereka
"Terima kasih",jawab Rara
Hans menyiapkan makan siang terlezat buat Tuan Muda dan Rara.
"Aku dengar kamu mulai masuk stasiun tivi lagi, Ra",tanya Raya membuka obrolan.
"Iya, rencananya. Senin depan acara live dan juga ada beberapa offair"
"Selamat ya!"
"Terima kasih"
Raya sengaja mengulur waktu untuk kembali ke kota. Dia ingin lebih lama lagi menghabiskan waktu bersama Rara. Hans yang sedari tadi memperhatikan mereka, merasa tuan muda nya hidup lebih bahasa saat ini. Entah apa jadinya nanti saat mereka kembali ke kota. Tuan besar pasti marah besar pada tuan mudanya ini. Dan juga Nona Sella.
Yang penting baginya tuan mudanya bahagia saat ini. Karena dia tahu pasti hidup tuan mudanya hanya di abdikan untuk pekerjaan dan nama baik keluarga, seperti tuntutan Tuan Besarnya. Entah mungkin secara tidak langsung dia sangat mendukung hubungan tuan mudanya dengan Rara.
Hanya saja dia juga tidak merasa yakin kalau hubungan mereka berdua akan berjalan lancar.
******
Raya dan Rara bagai melupakan waktu yang sedang berputar. Mereka bahkan menghabiskan waktu dengan bermain musik dan bernyanyi bersama.
Ternyata Raya jago sekali bermain musik, gitar bahkan grand organ pun dia bisa. Suara Rara yang merdu pun menambah selarasnya suasana.
"Aku tak menyangka kalau, Pak Raya pintar bermain musik. Hebat sekali"
"Pujianmu terlalu berlebihan. Sejak kecil aku suka musik. Musik bisa membuat aku lebih rileks dalam menghadapi tekanan pekerjaan. Dahulu almarhumah Mami juga pandai bernyanyi, dia selalu bernyanyi dan bermain piano"
"Keluarga kami dulu sederhana, kami hanya tinggal di apartemen kecil bertiga, aku, Papi dan Mami. Semenjak perusahaan Papi naik dia semakin jarang bersama kami. Bahkan aku bisa berbulan-bulan tidak bertemu dengan nya. Mami sangat sabar menunggunya. Bahkan disaat terakhir Mami, dia masih menunggu Papi yang waktu itu ada rapat diluar kota"
"Aku tahu, jauh dilubuk hati kecil Papi dia sangat mencintai Mami, hanya saja kegilaannya pada kesuksesan pekerjaannya itu merenggut segalanya. Memang Papi mendapatkan harta, dan kedudukan tapi dia kehilangan perempuan yang disayanginya",papar Raya.
"Secara materi hidupku cukup, bahkan berlebihan. Tapi secara kasih sayang, aku sangat berkekurangan. Untuk itu aku pun jadi mengikuti jejak Papi, mengubur kesedihan dan kesepian ku dengan pekerjaan",jelasnya lagi
__ADS_1
"Pak Raya ... "
"Hmmm..."
"Aku tak menyangka, ternyata anda punya kisah hidup yang sangat pelik dan menyedihkan. Aku turut prihatin. Tapi aku yakin, suatu saat pasti ada seseorang yang benar-benar tulus dan menyayangi anda, Pak"
Raya tersenyum.
"Dan aku ingin orang itu adalah kamu, Rara", batin nya.
*****
Malam datang menjelang. Hans sudah siap di belakang kemudi, dia melarikan mobilnya menuju pusat kota. Dia melihat dari spion depan, tuan mudanya duduk berdampingan dengan Rara.
Mereka menuju apartemen Rara. Pukul delapan malam mereka sampai di apartemen Rara. Raya mengantarnya sampai kedepan pintu.
"Beristirahat lah, jaga kesehatanmu", ucap Raya
"Terima kasih atas liburan yang menyenangkan kemarin dan hari ini, Pak"
"Selamat tidur, adik kecil"
Satu jam perjalanan, Hans sengaja menjalankan mobilnya dengan santai.
Memperlambat waktu mereka. Dia juga paham apa yang akan terjadi nanti.
Hans memarkirkan mobilnya di halaman depan. Raya turun dengan persiapan yang matang. Siap menghadapi amarah Papinya.
"Tuan muda, saya harap anda bisa mengontrol emosi anda",pinta Hans
"Hmmm..."
Raya melangkahkan kakinya dengan mantab. Seolah seperti seorang tentara yang siap bertempur di medan perang.
"Dari mana kamu, Raya!?", todong Papinya saat melihatnya di depan pintu.
__ADS_1
"Malam, Pi. Maaf aku sedang ada urusan penting di luar kota beberapa hari kemarin"
"Oiya..!!! Sepenting itukah sampai-sampai kamu meninggalkan Sella di tengah pesta?!"
"Maaf, Pi. Aku sedang tidak enak badan. Kalau boleh aku mau istirahat sebentar"
"Raya ... !! Papi belum selesai"
Langkah Raya terhenti.
"Tugas kamu adalah menikah dengan Sella. Titik. Ingat jangan lupakan itu"
Raya tak menjawab perkataan Papinya, meneruskan langkahnya menuju kamar dilantai atas.
"Panggil Hans kesini", perintah tuan besar pada seorang pesuruh.
Hans datang menemui tuan besarnya. Dia
sudah mempersiapkan diri untuk hal ini.
"Ada apa tuan memanggil saya?",ucap Hans sopan
"Kemana tuan mudamu pergi dua hari kemarin? Jawab pertanyaan ku dengan jujur Hans"
"Tuan muda beristirahat di villa tuan, beliau kurang sehat dua hari kemarin. Badannya demam dan kondisinya lemah. Saya mengantarkaknya beristirahat di villa"
"Kenapa tidak memanggil dokter? Kenapa harus ke villa"
"Mohon maaf tuan besar. Tuan muda ingin menenangkan diri disana. Setelah merasa agak sehat baru dia kembali kesini"
"Dengan siapa dia di villa?"
"Hanya berdua dengan saya, Tuan?"
"Baiklah. Aku percaya kata-katamu. Kamu boleh pergi"
__ADS_1
Hans memberi hormat lalu kembali ke tempatnya. Untung saja dia sudah memprediksi hal ini sebelumnya. Sehingga dia tidak terlihat kikuk saat di interogasi oleh tuan besar.
******