
Rara mencoba mengabaikan perasaannya. Dia menyibukkan diri dengan pekerjaan dan kuliahnya. Ya... Kuliah. Sekarang sudah tahun kedua. Semester ke empat. Rara diterima di salah satu universitas ternama di kota, berita ini luput dari pemberitaan, atau tepat nya diredam agar tidak muncul kepermukaan. Rara tak mau waktu kuliahnya di recoki oleh urusan para pewarta kota.
"Rara ... "
"Hai, maaf aku terlambat. Tadi ada onair di chanel dua"
"Kami sudah biasa kalau kamu tidak in time. Kami maklum ko jam terbang mu kan tinggi", ujar Juna salah satu teman kuliahnya.
Hehehehe....
Rara hanya tertawa kecil. Dia bersyukur mempunyai teman-teman yang baik hati seperti mereka. Lebih tepatnya teman se-genk kampus. Disana juga ada Janna. Mereka satu kampus tapi beda fakultas. Namun demikian selalu nongkrong bareng saat jam kosong.
"Kami jadi ambil semester pendek, Ra?",tanya Janna
"Jadi. Aku kejar target nih. Biar cepat selesai"
"Kejar karir juga dong, pastinya"
"Dua-duanya harus imbang",tegas Rara
"Mantab. Semangat ya ..."
"Terima kasih"
"Oiya, kami duluan ya. Sebentar lagi kuliah dimulai. See you genks... ", Juna dan Robert pamit.
Mereka berdua sama-sama fakultas Ilmu Sosial. Lalu Janna di fakultas sastra, Rara fakultas pertanian jurusan Agribisnis, lalu Harry di pendiam diantara mereka di fakultas kedokteran.
Mereka bertemu saat ospek kampus beberapa tahun lalu dan akrab hingga sekarang. Bersama mereka Rara mencoba mengalihkan hatinya dari perasaan aneh itu.
"Gimana dengan kamu, Ra", tanya Janna saat semua anak-anak telah pergi.
"Bagaimana apanya?"
"Ya tentang perasaan mu kepada Raya. Apa sudah kamu ungkapkan?"
"Biarlah, Jan. Aku tak mau merusak hubungan orang. Mungkin mereka saling mencintai"
"Kamu yakin, Ra? Akan mundur dari kompetisi ini? Jangan nanti ini jadi penyesalan bagimu"
Rara diam. Sebenarnya bukan tidak apa-apa. Tapi dia mencoba melepaskan, walaupun itu sulit. Namun dia yakin bisa bahagia melihat Raya dan Sella bersama.
__ADS_1
******
"Selamat sore, Nona Rara",sapa utusan tuan misterius
"Ooh... Kamu"
"Anda baik-baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja. Maaf, aku hanya sedikit lelah",ucap Rara
"Saya datang mengantarkan sesuatu dari tuan"
Sesuatu dari tuan misterius yang di bawa oleh utusan itu hanya berupa selembar amplop. Rara membukanya.
"Paket liburan??"
"Ya, tuan memberikan hadiah untuk anda, paket liburan dikapal pesiar mewah selama tiga hari. Semua sudah dipersiapkan, anda hanya tinggal berangkat saja"
"Tapi dalam rangka apa?",tanya Rara
"Dalam rangka memberi semangat pada anda, nona?"
Kebetulan sekali tiga hari kedepan jadwal manggungnya sedang kosong, dan kuliahnya tidak terlalu berat. Tinggal menunggu jadwal UAS. Aaaahh... lumayan pikir Rara bisa menenangkan otak.
******
Sungguh segar udara laut biru ini, pikir Rara. Dia menikmati jalan santainya di buritan kapal. Angin semilir membelai lembut rambut panjangnya. Dia menyandarkan bahunya di tiang belakang kapal. Mencoba menikmati kedamaian laut yang dibawa sang angin.
"Laut memang sungguh ajaib, ya"
Rara terkejut mendengar ucapan itu. Dia menoleh melihat siapa yang berkata tadi, dan Raya Aditama lah yang berdiri disampingnya.
"Pak Raya?"
"Anginnya begitu damainya, sehingga membuatmu tak sadar bahwa sejak tadi aku sudah ada disamping mu",ucap Raya sambil tersenyum
"Kenapa anda disini, Pak Raya?"
"Aku hanya menikmati angin laut. Sekedar menenagkan hatiku"
Kedua manik mata mereka saling bertemu. Saling bicara. Rara menunduk. Dia tak kuat lama-lama memandang mata laki-laki yang ternyata ia cintai itu
__ADS_1
"Kamu suka laut, Ra?", tanya Raya
"Suka",jawab Rara
"Hmmm..."
"Kenapa bapak tersenyum?"
"Tidak"
"Jangan senyum-senyum sendiri, Pak. Nanti orang takut melihatnya",protes Rara
Hahahahahha...
"Kamu ini ada-ada saja"
"Ya, kan aneh melihatnya Pak"
"Jadi kamu tidak takut?"
"Takut apa?"
"Takut melihatku tersenyum?"
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Bapak terlihat lebih tampan kalau sedang tersenyum", Rara membekap mulutnya.
Dalam hatinya dia mengumpat diri sendiri, kenapa kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Mukanya memerah. Dia tak menyangka kalau bisa bicara begitu santai pada pimpinan Raya Entertainment ini.
Raya yang melihat itu tersenyum jauh lebih manis dari sebelumnya. Dia mendekati Rara. Memegang dagu perempuan mungil itu. Kedua bola mata mereka bertemu, lebih dekat bahkam lebih.
Jantung Rara berdegup lebih cepat dari biasanya, tangannya dingin. Baru kali ini dia melihat Raya tersenyum manis dari jarak yang begitu dekat. Wajahnya makin memerah. Dia memalingkah wajahnya. Raya makin gemes dibuatnya. Ditariknya lagi dagu perempuan dihadapannya.
"Kenapa kamu tak berani memandangku. Bukankah kamu bilang aku lebih tampan kalau tersenyum?", ucap Raya mendekatkan wajahnya.
"Ya, Tuhan.... Apa yang harus aku lakukan? Aku tak akan kuat jika lama-lama seperti ini terus. Dia memang tampan kalau sedang tersenyum seperti ini", batin Rara.
"Rara, demi Tuhan. Kamu cantik sekali. Aku tak tahan melihat mu seperti ini. Jantungku bisa berhenti mendadak memandang wajah cantikmu sedekat ini", ucap Raya dalam hati.
__ADS_1
Lagi, mata mereka saja yang saling bicara. Degup jantung keduanya makin berpacu seperti genderang perang. Meloncat-loncat pecicilan tak karuan.
******