
Mereka menikmati makan malam yang bernuansa romantis itu. Lampu-lampu indah terpasang mengelilingi ruangan, wangi harum bunga semerbak menghiasi seluruh ruangan. Lampunya sedikit temaram. Musik lembut juga terpasang mengiringi suapan mereka.
Raya sesekali mencuri pandang pada perempuan yang ada dihadapannya. Dalam hatinya memuji kecantikan gadis pujaannya itu.
"Kamu suka makan malam nya?",tanya Raya membuka obrolan
"Suka. Indah sekali, Pak"
"Aku senang mendengarnya"
"Selera Bapak sangat tinggi dan elegan. Aku kagum pada anda?"
"Terima kasih, pujiannya, Nona. Sesuai sekali untuk kecantikan mu malam ini"
Rara tersenyum dia tak berani manatap mata Raya lebih lama. Setelah selesai menikmati makan malam, para pelayan datang membersihkan meja makan. Lalu meninggalkan mereka berdua.
Musik nya berubah menjadi lebih lembut. Cocok sekali untuk berdansa. Raya bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Rara. Dan lagi, uluran tangan itu disambutnya dengan baik. Rara menerima uluran tangan itu.
Raya memeluk pinggang Rara, gadis itu terkejut. Wajahnya bersemu merah. Kaki Raya membimbing Rara berdansa. Tubuh mereka sangat dekat. Bahkan lebih dekat lagi.
Dua atau tiga lagu mengiringi tarian mereka. Tanpa ada seorang pun yang menggangu mereka. Seolah dunia ini hanya ada mereka berdua. Rara Pratiwi dan Raya Aditama.
******
__ADS_1
"Tarima kasih untuk makan malam nya, Pak Raya"
"Sama-sama. Aku senang melihat kamu senang"
Rara tersenyum.
"Besok kapal akan bersandar pelabuhan. Beristirahat lah dengan nyenyak malam ini"
"Iya, Pak. Selamat malam"
Rara hendak menutup pintu kamarnya. Dengan cepat tangan Raya menahannya. Dia tak ingin cepat-cepat meninggalkan pujaan hatinya.
"Ada apa, Pak?!"
"Hanya saja apa, Pak Raya?"
Raya tidak menjawab. Dia menarik tangan Rara dan menjatuhkan tubuh gadis itu dalam pelukannya. Jantung Rara seolah berhentu berdetak, dada laki-laki itu begitu bidang, bau lembut tercium dari tubuhnya. Membuat hati Perempuan itu makin meleleh. Raya mencium rambut Raya. Harum sekali. Hatinya begitu bergetar saat gadis pujaannya dalam pelukkannya.
"Andai waktu ini terhenti disini, Ra. Andaipun kapal ini tenggelam dalam lautan luas sekalipun, aku tak akan melepaskan dirimu oada pelukan laki-laki manapun", ucap Raya lirih dalam hatinya.
"Selamat malam, Rara"
Pimpinan Raya Entertainment itu meninggalkan Rara lalu kembalu ke kamarnya. Meninggalkan Rara yang masih terdiam. Sesak rasa didadanya. Jujur kalo boleh bicara, dia juga tak ingin berpisah dari Raya Aditama, lelaki yang di cintainya.
__ADS_1
******
Pagi hari pukul sepuluh, kapal pesiar mewah itu sudah bersandar di dermaga. Rara membereskan tas bawaanya lalu menuruni tangga kapal. Diujung tangga Hans sudah menunggu, dia memberi hormat lalu membawakan tas Rara. Mengantarnya menuju sebuah mobil.
Didalamnya Raya sudah menunggu nya.
"Silakan, Nona", dengan sopan Hans membukakan pintu buat Rara.
"Duduklah. Aku antar kamu pulang", kata Raya.
Hans memegang kemudi mobil, dia melajukan kendaraannya menuju pusat kota. Tak lama memasuki gerbang kota mereka sudah sampai di apartemen Rara. Raya turun dan membukakan pintu mobil buat Rara.
"Terima Kasih, Pak"
"Aku antar kamu ke atas?!"
"Ah, tidak usah. Anda juga pasti lelah. Maaf merepotkan anda beberapa hari kemarin"
"Tak usah kamu pikirkan itu. Baiklah. Aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik. Sampai jumpa"
"Sampai jumpa, Pak Raya. Terima Kasih"
Raya tersenyum. Dia masuk kedalam mobil. Lalu menghilang ditengah keramaian kota.
__ADS_1
******