
Hari ini jadwal Rara cukup padat, pagi-pagi sekali dia sudah berangkat ke kantornya, siang harinya dia rapat bersama stafnya lalu malam hari dia ada acara talk show dan live di chanel dua. Baru tengah malam dia sampai di rumah.
Cekreeeeekkk ..
Klikk...
Serta merta lampu kamarnya menyala. Rara terkejut, rupanya Raya sudah pulang sejak sore tadi.
"Kak Raya?"
Raya berjalan mendekati Rara, mendesak istrinya kearah pintu. Dia mendekatkan wajahnya kearah Rara. Mata perempuan itu mulai berkaca-kaca.
"Kemana saja kamu seharian ini, sayang? Berani-beraninya saat suami mu tak ada kamu pergi tanpa izinku"
Raya menjalankan aksinya lagi. Mendekatkan bibirnya keleher istrinya. Rara sampai geli dibuatnya.
"Kak Raya, jahat padaku..."
Airmata Rara mulai jatuh mengalir dikedua pipinya. Ia memukul dada suaminya dengan kedua kepalan tangannya. Lalu menangis dalam dada laki-laki yang sangat dirindukannya beberapa hari ini.
Raya tak tega melihat istrinya menangis, dia sangat lemah dalam hal ini. Tak kuasa hatinya melihat perempuan kesayangannya sedih karena dirinya. Raya memeluk Rara dengan erat. Semakin erat.
"Kamu merindukan aku, sayang?",tanya Raya
Rara menganguk dalam pelukan suaminya.
"Aku juga sangat merindukanmu. Tapi kamu ini nakal sekali, sayang. Kenapa kamu masih bertemu dengan laki-laki itu dibelakangku?!"
__ADS_1
Raya membelai kepala istrinya. Dia menghela nafas panjang. Lalu menghapus airmata yang mengalir di pipi Rara.
"Kak Raya tahu kalau Joe menemuiku?"
"Aku tahu semua yang kamu lakukan, sayang. Jangan kamu anggap remeh suamimu ini. Dengarkan aku! Setinggi apapun jabatanmu dikantor ataupun sebesar apapun namamu di panggung, disini, disisiku kamu adalah istriku. Itu tak bisa di ingkari. Aku ini suamimu. Hidupmu adalah tanggung jawabku didunia ini dan juga disurga nanti",tegas Raya
Rara makin membenamkan tangisnya di pelukan suaminya. Dia sadar posisinya sekarang sebagai istri dari Raya Aditama, laki-laki tangguh yang dipilihnya untuk menjadi imam dalam hidupnya.
"Kak ... ",panggil Rara
"Hmmm..."
"Kak Raya baik sekali. Maafkan aku, ya.. "
"Aku juga minta maaf ya, sayang. Aku terlalu takut. Aku takut kehilanganmu. Rasa takut itu membuat aku jadi kekanak-kanakan, jadi lepas kendali. Maafkan aku membuamu sedih", ucap Raya lembut
"Sudahlah. Bersihkan dirimu dulu. Aku ingin malam ini kamu hanya untukku. Bidadari mungilku"
Rara tersenyum. Hatinya begitu lega menumpahkan semua kerinduannya selama ini. Dia meletakkan tas jinjing nya diatas meja. Lalu membersihkan diri di kamar mandi. Baru setelah rapi dan bersih dia naik ke tempat tidur, duduk bersisian dengan suaminya. Berbagi cerita dan kehangatan dimalam itu.
******
Pagi harinya setelah sarapan pagi, Hans menyerahkan sesuatu pada Rara. Sebuah kotak persegi dengan motif ukiran yang indah. Serta sebuah buku tabungan dan ATM.
"Apa ini?",tanya Rara
"Ini adalah oleh-oleh yang disiapkan Tuan untuk anda Nyonya", jawab Hans.
__ADS_1
"Oleh-oleh?", Rara melirik ke arah suaminya yang berpura-pura membaca koran.
"Benar, Nyonya"
"Lalu ini? Buku tabungan dan ATM? Buat apa?"
"Ini buku tabungan dan ATM atas nama anda, Nyonya. Aku baru mengurusnya kemarin"
Rara mengambil buku tabungan itu dan membukanya. Rara terkejut melihat nominalnya.
"Dua puluh juta?", batinnya.
Nominal fantastis bagi Rara yang terbiasa hidup sederhana sejak kecil.
"Ini buat apa, Kak?",tanya Rara pada suaminya
"Itu jatah bulananmu. Tiap bulan Hans akan menstranfernya ke rekening mu. Apa tidak cukup untukmu?"
"Bukan begitu. Ini banyak sekali"
"Bukankah sudah aku bilang, Setinggi apapun jabatanmu dikantor ataupun sebesar apapun namamu di panggung, sebanyak apapun penghasilanmu, disini, disisiku kamu adalah istriku. Hidup mu adalah tanggung jawabku",papar Raya
Rara tersenyum. Alangkah beruntungnya dia mendapatkan seorang suami yang begitu bertanggung-jawab seperti Raya.
"Terima kasih, Kak"
Raya melipat korannya, lalu pindah kesisi sebelah istrinya, Rara mengambil tangan Raya dan mencium punggung tangan suaminya. Tanda baktinya pada suaminya tercinta.
__ADS_1
******