Menembus Batas Cinta

Menembus Batas Cinta
Penyergapan


__ADS_3

"Kamu dimana, sayang?",tanya Raya


"Sedang di label, Kak. Take vocal buat album terbaruku"


"Semangat ya, sayang. Nanti aku akan sempatkan kesana melihatmu. Love you"


"Love you too, Kak"


Klik... Raya mematikan teleponnya. Dia meletakkan ponselnya di atas meja.


Tok ... Tok...


Cekreeeeekkk ...


Raya menoleh ke arah pintu ruang kerjanya. Matanya terbelalak, tak menyangka melihat siapa yang datang.


"Hai, Raya. Lama tak berjumpa?!"


"Sella?",ucap Raya terkejut


"Kanapa kamu terkejut?"


"Bagaimana bisa ..."


"Bagaimana bisa aku ada disini? Begitukah? Aku baru keluar rehabilitasi. Aku merindukanmu Raya", goda Sella


Sella memeluk Raya dengan erat. Raya melepaskan pelukan Sella lalu dia mundur beberapa langkah.


"Keluar kamu dari sini?", pekik Raya


"Bagaimana jika aku tidak mau"


"Kau . ... !!!", wajah Raya memerah, rasanya dia ingin menghajar habis perempuan itu.

__ADS_1


Klik ...


Bunyi pistol dikokang. Rio menodongkan pistolnya kearah Sella. Dia terkejut melihat kedatangan Rio disana. Tak jauh bedanya dengan Raya yang heran melihat Kakak misannya datang dengan beberapa orang lelaki.


"Rio ...?!",Ucap Sella terkejut


"Senang melihatmu lagi, Sella",jawab Rio sambil tersenyum


"Apa-apaan ini? Apa maksudmu?"


"Sudahlah Sella tak usah kamu berpura-pura lugu. Aku sudah memegang bukti semua kejahatanmu"


"Kejahatan apa maksudmu? Aku tidak mengerti!"


"Sindikat penjualan narkotika dan obat bius. Serta dosa terbesarmu padaku adalah dua kali percobaan pembunuhan terhadap Rara Pratiwi. Dan itu tidak terampuni",Rio mulai menunggi


Raya mendelik mendengarnya.


Serta merta Raya menjadi murka. Dia hendak menghajar perempuan iblis itu, namun Rio mencegahnya.


"Apa buktinya kalau aku yang melakukan semua itu, Rio?!",jawabnya santai.


Seringai senyum perempuan itu membuat Rio dan Raya makin mendidih. Rio melemparkan sebuah map diatas meja, dia memberi kode agar Sella membukanya. Sella mendekat dan mengambil map itu lalu membacanya.


Seketika itu juga wajahnya menjadi pias, dia hendak lari meninggalkan ruangan itu. Namun beberapa orang polisi berpakaian preman menarik tangganya, dia dihadiahi sebuah borgol. Mereka menyeret Sella keluar ruangan.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Kak?", tanya Raya.


Rio memasukan pistolnya kedalam saku. Lalu menyerahkan map tadi pada Raya. Raya menjadi murka membaca berkas perkara itu.


"Bukan itu saja, menemukan beberapa alat penyadap di ruanganmu dan beberapa tempat lain di kantor ini. Aku perlu izin darimu untuk mensterilkan setiap sudut gedung ini"


"Lakukan saja, Kak", Ucap Raya

__ADS_1


"Terima kasih"


Rio memberi kode pada anak buahnya. Segera mereka melakukan sapu bersih kesetiap sudut ruangan. Tiba-tiba mata Rio menuju kearah jendela. Lalu dia mengeluarkan lagi senapan yang ada dibalik sakunya.


"Dooor .... Dorrrr...."


Dua kali bunyi senapan. Dan tepat mengenai seseorang disebrang sana. Dan orang tersebut mencoba bangun dengan terseok-seok. Rio membuka jendela lalu, lalu ...


"Dooor ..."


Kali ini mengenai kaki sebelahnya dan orang tersebut tumbang.


"Amankan orang itu. Paksa dia mengaku", perintah Rio pada anak buahnya melalu telepon.


Dengan sigap tiga orang anak buahnya menyeret laki-laki yang tertembak tadi.


******


"Apa yang sebenarnya terjadi, Kak?", tanya Raya yang masih heran


"Sebenarnya saat kamu bepergian keluar negeri untuk urusan bisnismu beberapa waktu lalu, Rara mengalami penyerangan dari orang yang tak dikenal. Aku menyelidikinya. Dan ternyata semua ini adalah ulah Sella. Dia masih dendam terhadap Rara", jelas Raya


"Ya, Tuhan. Apa Rara tidak terluka, Kak"


"Tidak. Kamu tak perlu khawatir"


"Terima kasih, Kak"


"Jaga Rara baik-baik. Aku percaya padamu"


Raya menganguk. Menyanggupi permintaan kakak misannya itu. Walaupun sebenarnya Raya lebih tua tiga tahun dari pada Rio, tapi sebagai kakak sepupu istrinya, Raya tetap memanggilnya Kakak.


******

__ADS_1


__ADS_2