
"Semoga disini kamu bisa berkarya lebih baik, menjadi seorang bintang yang paling bersinar"
Begitulah isi pesan singkat yang tertulis disepucuk kartu ucapan dan terselip diantara buket bunga. Rara merasa sangat tak enak menerima bantuan yang begitu banyak dari Tuan Misterius. Mulai dari rumah tinggal, biaya sekolah, bahkan sampai biaya rumah sakit emak semua dibiayai oleh Si Tuan Misterius.
"Selamat Pagi, Nona Rara" sapa Utusan Tuan Misterius.
Begitu dia bangun pagi Sang utusan sudah berada di rumahnya lengkap dengan kurir jasa angkutan barang. Mereka tanpa basa-basi mengangkut dan membereskan semua barang-barangnya, memindahkannya kedalam truk pengangkut.
"Hei, apa maksudnya ini?" tanya Rara.
"Saya diperintahkan untuk membantu anda pindah ketempat yang baru"
"Tempat baru tapi aku belum memutuskan lokasinya, lagi pula aku belum mempersiapkan segala sesuatunya"
"Anda tidak perlu melakukan apapun, semua sudah saya persiapkan. Silakan anda membersihkan diri, kita akan segera menuju apartemen anda?" pintanya sopan pada Rara.
"Haaahh.... Apartemen?" Rara tidak tahu harus berkata apa, dia hanya menuruti saja perintah si utusan itu. Setelah membersihkan diri, Rara bersama utusan.
Begitu Rara menginjakkan kaki di apartemen barunya, dia melihat setangkai bunga mawar dan kartu ucapan. Rara sangat merasa tersanjung dengan perlakuan istimewa dari seseorang yang entah siapa dan bagaimana wujudnya.
******
"Apartemen yang bagus, Nona" ucap seseorang. Lamunan Rara terbuyarkan oleh perkataan Raya yang tiba-tiba masuk kedalam apartemen nya.
"Bagaimana anda bisa tahu kalau ada disini" tanya Rara.
"Dunia ini terlalu kecil untuk ku, Nona. Mudah sekali untukku mengetahui apapun" ucap Raya.
"Lalu?"
__ADS_1
"Apa kau suka tinggal disini?" tanya Raya.
"Tentu saja" Rara hanya menjawab sesingkat-singkatnya. Dia sedang malas meladeni. Raya tersenyum mendengar jawaban dari Rara. Dia terlihat bahagia sekali. Senyum merekah dari bibir nya.
"Kalau anda tidak ada urusan lagi, silakan tinggalkan tempat ini!" tungkas Rara kesal.
"Kamu berani mengusirku?!" tanya Raya.
Rara tak menghiraukannya, dia tak sedetik pun menatap wajah Raya.
"Ada apa dengan wajahku?! Hei... Aku bertanya padamu. Pandang wajahku" Raya mulai terpancing.
Rara diam. Tetap diam. Raya mendekatkan dirinya. Dia mencengkeram lengan Rara. Tangan kanan nya memegang dagu Rara, membuat gadis itu bersitatap dengan Raya.
"Apa kamu membenciku?" tanya Raya.
Lagi-lagi Rara diam.
Rara tetap diam. Mata nya memancarkan kebencian terhadap lawan bicara nya. Nafasnya berhembus cepat.
"Ya... " jawab nya
"Ya... Aku sangat membencimu. Kamu yang hanya mementingkan keuntungan perusahaan. Kamu yang tidak punya hati. Manusia kepala es. Aku sangat membencimu" maki Rara. Teriakan Rara mengelegar sampai keluar ruangan, Hans yang berdiri dibelakang pintu sampai terkejut.
"Sedang terjadi perang rupanya" pikir Hans.
Raya pias mendengar ucapan Rara, hilang semua senyum diwajahnya tadi. Raut wajahnya memerah. Tanpa sadar tangannya menggenggam lengan Rara dengan begitu kuat dan semakin kuat. Rara menjerit kesakitan hingga menyadarkan Raya bahwa tangannya masih memegang lengan Rara.
"Kamu orang yang sudah membuat Emak menderita, seharusnya aku bisa lebih lama bersama dia. Karena keegoisan mu demi kemajuan usahamu demi profesionalitas yang kau koar-koarkan, kamu korbankan perasaan ku. Perasaan orang tuaku. Kamu manusia yang tak punya hati. Yang mementingkan segala cara untuk menguntungkan hidupmu sendiri. Bebaskan aku. Lepaskan semua kontrak kerjaku dengan Raya Entertainment. Aku tak ingin lagi melihat mu" cerocos Rara emosional.
__ADS_1
"Begitu ya .... Jadi itu mau mu?!" Raya juga terlihat tidak dapat lagi mengontrol dirinya.
"Hans ... !!!" teriaknya
Hans segera masuk kedalam ruangan dan menghampiri bos nya itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan" tanya Hans.
"Berapa lama kontraknya pada Raya Entertainment?"
"Masih ada dua tahun lagi, Tuan"
"Mana surat itu. Berikan padaku"
"Akan saya ambilkan, Tuan. Tunggu sebentar"
Hans keluar sebentar meninggalkan dua orang manusia yang sedang meninggi emosi dan egoisme nya. Tak ada yang bicara. Mereka saling diam dalam kebisuan hati masing-masing. Tak lama Hans datang lagi membawa sebuah map hijau berlogo Raya Entertainment. Lalu dia menyerahkannya pada Raya.
"Ini mau mu, bukan?" seringai Raya. Dia mengangkat tinggi-tinggi map hijau itu lalu merobeknya dihadapan Rara. Merobeknya sampai jadi potongan-potongan kecil yang berjatuhan di depan wajah Rara.
"Mulai hari ini, kamu bukan lagi artis Raya Entertainment. Kamu bisa bebas mencari dunia mu. Dan kamu bisa menjauh sejauh yang kamu mau. Selamat tingggal" Raya pergi dengan hati yang begitu terluka, dia seperti jatuh sejatuh-jatuhnya dengan luka yang tak terlihat namun begitu sakit dia rasakan.
"*Haruskah aku melepaskan mu, Rara?"
"Haruskah aku mengikhlaskan mu, Rara?"
"Apakah aku sanggup berada jauh dari mu*?"
Didalam mobil Raya tidak bisa duduk dengan tenang, serbasalah apa yang ia lakukan. Berkali-kali hatinya mengutuk apa yang ia lakukan.
__ADS_1
Hans memperhatikan apa yang tuannya lakukan dari balik spion mobil. Dia yang sedang berada di belakang kemudi, baru kali ini melihat tuannya begitu depresi. Begitu terpukul hatinya, harga dirinya hanya terhadap seorang perempuan bernama Rara Pratiwi.
******