
Sella tidak memberi celah untuk Raya, dia terus saja menempel seperti seekor lalat. Setiap ada acara-acara besar di stasiun televisi ataupun acara resmi kantor Raya, pasti Sella hadir bersamanya. Dia tak ingin lagi melepaskan Raya dari genggamannya. Dia yakin Raya pasti akan menuruti kemauan Papi nya untuk menikah dengannya.
"Tuan Muda, apakah Anda butuh sesuatu?"
Hans yang melihat kondisi tuannya yang sedang tidak baik hatinya menawarkan sesuatu saat pesta pembukaan rumah produksi baru Raya Entertainment.
"Ambilkan aku segelas applejack, kepala ku pusing melihat perempuan tak tahu diri itu"
"Maaf, Tuan. Jangan terlalu banyak meminum alkohol, jaga kesehatan anda"
"Ambilkan aku satu gelas saja, Hans. Tidak lebih"
"Baiklah, saya kan memberi anda hanya satu gelas. Tidak lebih"
Raya menganguk, dia keluar dari ruang pesta dan menuju ke beranda depan. Dia rasa dia perlu udara segar untuk menyegarkan otaknya. Tak lama Hans datang mendekatinya membawa segelas kecil Applejack.
"Kemana Sella?"
"Ada di private room bersama teman-temannya, Tuan"
Raya memandang jauh kearah seberang jalan, matanya menangkap sesosok bayangan dari arah pusat perbelanjaan diseberang jalan.
Hans mengerti maksud tuan mudanya, dia membiarkan Raya pergi meninggalkan gedung pertemuan.
"Pak Raya?!"
"Hai, adik kecil. Sedang apa kamu malam-malam begini?"
"Bapak sendiri sedang apa? Tumben sekali berkeliaran dijalan?"
"What!! Kamu pikir aku ini kucing liar ya. Berkeliaran!"
__ADS_1
"Ya habis, orang seperti Anda tidak biasanya ada ditempat umum seperti ini"
"Pergi berbelanja?"
"Ya, untuk stok kulkas"
"Sudah makan malam?"
"Belum"
"Baguslah!"
"Eeh..."
Raya menarik tangan Rara, mereka menuju mobil. Didalam mobil Hans sudah siap berada di belakang kemudi. Raya membukakan pintu mobil untuk Rara, lalu mereka pergi menuju sebuah restoran kecil di pinggir kota.
Hans memarkirkan mobilnya di samping pintu masuk restoran. Dia turun dan membukakan pintu mobilnya untuk tuan muda dan Rara.
"Ayo kita masuk"
Raya tak memperdulikan Rara yang keheranan melihatnya. Raya memesan makanan untuk mereka.
"Tadi bukannya Bapak bilang sedang ada pesta?"
"Iya. Kenapa?"
"Aku heran"
"Eeh.."
"Ya, heran saja. Bukannya disana banyak makanan dan minuman. Sekarang kenapa bapak pesan makanan sebanyak ini?"
__ADS_1
"Lapar"
"Kelaparan agaknya"
Hahahahha....
"Kamu ni lucu sekali adik kecil"
"Perut Bapak itu terbuat dari apa sih"
"Mau lihat"
"Aaah... Apa yang Bapak lakukan?!"
Raya mengangkat kemejanya hendak menunjukkan perutnya pada Rara. Perempuan itu berteriak kaget, sehingga membuat seisi restoran menatap pada mereka.
Hans yang duduk di meja tepat dibelakang mereka pun begitu.
"Sepertinya menganggap dunia ini milik berdua. Atau mungkin aku terlalu banyak memberinya applejack padanya tadi", batinnya.
"Tuan muda sudah terobsesi pada anak itu. Tanpa di katakan pun aku yakin, Tuan Muda sangat mencintai anak itu. Nona Sella tidak punya peluang sedikit pun untuk masuk dalam hati Tuan Muda"
"Tidak ada perempuan mana pun yang bisa duduk santai sambil mengobrol dan makan malam seperti ini dengan Tuan Raya. Bahkan dia sepertinya sudah terbiasa berada disisi Tuan Muda"
Hans tidak memperdulikan mereka, dia asik dengan tablet nya serta secangkir kopi panas dihadapannya.
*****
Di Ballroom Sella kebingungan mencari Raya, dia bermaksud memperkenalkan calon suaminya kepada teman-teman. Namun setelah lelah mencari dia tak kunjung menemukan Raya.
"Kemana kamu, Raya. Ponsel mu tidak aktif"
__ADS_1
Sella mencoba berkali-kali menghubungi ponsel Raya, namun tak juga aktif. Bahkan sampai pesta itu usaipun Raya tidak muncul kembali.
******