Menembus Batas Cinta

Menembus Batas Cinta
Kencan Dengan Idola?


__ADS_3

"Aduuh, kaki ku pagel banget nih. Nyari apa lagi si bintang pop ini? Sudah belanjaan sebanyak ini masih betah nge-mall. Buang-buang uang saja", Rara mengerutu dalam hati.


Joe masih asyik mengunjungi toko-toko langganan dia. Tiba-tiba Joe berhenti. Dan .... Bruuk ... Rara yang berjalan ogah-ogahan di belakangnya menumbruk punggung Joe.


"Hehehehe... Maaf"


"Aduuh... Kalo ngerem jangan dadakan dong, Bang. Bisa disundul angkot belakang nih"


"Kalo kamu yang jadi angkot nya, aku sih rela, Ra. Jangankan disundul, ditumbur sampai hancur pun ga apa-apa"


"Iih....bibir tu ya. Sembarangan kalo ngomong. Bilang amit-amit ... Klo ngomong begitu. Pamali"


"Eehh... Pak Mali sudah pulang ya dari umroh"


Rara menepok jidatnya. Joe malah melesetkan kata-katanya kepada guru IPS mereka Pak Sumali, yang sedang umroh.


"Makan yuk, laper nih"


"Eehh..."


Lagi-lagi Rara kalah cepat. Joe sudah menarik tangannya menuju sebuah kafe terkenal di mall itu. Lagi-lagi Rara dibuatnya mati gaya. Baru kali ini dia makan di tempat semewah dan sebagus ini. Apalagi berdua dengan seorang laki-laki, dan seorang bintang TOP lagi.


******

__ADS_1


Joe memesan banyak makanan. Rara sampai melotot melihatnya.


"Waduuuh... Apa habis makanan sebanyak ini dimakan dua orang"


"Kenapa? Takut gemuk ya. Ayo, dimakan!"


"Kamu tidak salah?! Perutmu segede apa sih, apa muat makanan sebanyak ini di perutmu?"


Hahahhahaha ...


"Diih, malah ketawa?!"


"Udah, ah ... Makan yuk. Laper nih"


Joe melahap makanan nya dengan nikmat, hatinya senang sekali karena Rara bersamanya. Hal itu membuat nafsu makannya meningkat tiga atau empat kali lipat.


Rara menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Joe. Baru kali ini dia melihat ada seorang bintang besar yang tidak jaim sama sekali. Mungkin karena memang mereka sebaya dan sekelas juga barangkali. Tapi yang jelas, Rara begitu bahagia menikmati perubahan besar dalam hidupnya.


Dia punya banyak kawan baru, bahkan punya teman dekat laki-laki. Yang dulu bahkan teman dekat perempuan saja tidak ada selain Janna. Emak terlalu memblokade hidupnya. Tapi bagaimanapun ada secuil rasa nyeri dihatinya bila mengingat masalah Emak. Ada rasa rindu pada perempuan judes itu. Walau bagaimanapun Emak adalah ibunya.


Suatu hari nanti, disaat dia sudah sukses, Rara ingin sekali mengajak Emak umroh. Emak pasti senang, pikirnya. Ini bisa menebus kesalahan dia waktu itu. Sampai sekarang baik surat, telepon ataupun kiriman yang di kirim Rara tidak ada berbalas dari Emak.


Mungkin dia harus sedikit lebih bersabar, sampai amarah Emak mereda.

__ADS_1


******


Klik...Klik...


Kilatan cahaya menghujani mereka saat keluar dari kafe. Beberapa wartawan menyecar mereka dengan beberapa pertanyaan.


"Joe, apakah ini kencan kalian"


"Bukan kah perempuan ini salah satu peserta audisi, Joe?"


"Ada hubungan apa antara kalian berdua?"


"Apa kalian sepasang kekasih?"


Mata Rara seolah berputar-putar mendengar pertanyaan yang beruntun dari wartawan. Baru kali ini dia menghadapi para pewarta kota. Hati nya berdebar-debar tangannya dingin. Tapi dia mencoba mengatur hatinya, mengatur deru nafasnya agar terlihat lebih tenang.


Joe terlihat santai, bahkan dia bisa tersenyum menghadapi serangan wartawan yang bertubi-tubi seperti itu. Seakan tau, kegelisahan hati Rara, Joe maju selangkah melindungi Rara dengan punggungnya. Tangannya menggenggam tangan perempuan cantik yang bersembunyi di balik tubuh atletis nya itu.


"Kami hanya mencari beberapa barang, sambil makan siang. Kebetulan sepulang sekolah tadi kami bertemu"


"Boleh kami mengambil foto kalian berdua"


"Maaf ya, untuk saat ini nanti dulu. Rara tadi terlalu lelah, jadi aku akan mengantarnya pulang. Permisi. Terima kasih"

__ADS_1


Dengan sigap Joe berjalan santai memegang tangan Rara. Mengalirkan kekuatan pada gadis manis itu. Lalu mereka berdua menghilang dari pandangan wartawan.


******


__ADS_2