
Raya membawa Rara pulang menaiki mobilnya. Untung saja Hans yang berada di balik kemudi, kalai tidak mobil itu sudah terbang dijalanan. Raya tak bicara sepatah katapun selama didalam mobil. Hans mengendarai mobil itu dengan kecepatan sedang, dan tepat saat makanan tersaji mereka sampai dirumah Roy Aditama.
Lagi, Raya harus berpura-pura menjadi anak yang manis di depan Papi nya dia tak ingin Papinya tahu kalau mereka sedang bertengkar.
"Bagaimana kuliah mu, nak?", tanya Roy pada menantunya itu.
"Tinggal menunggu jadwal wisuda, Pi. Mudah-mudahan aku dapat kuota di session pertama bulan depan"
"Aamiin, Papi senang mendengar nya. Lalu apa rencanamu selanjutnya?"
"Belum tahu, Pi. Aku belum memikirkannya"
"Ya, Papi sih mendukung saja apa yang jadi keinginan mu. Kamu mau berkarir di dunia hiburan ataupun itu terserah pada hatimu sendiri, nak. Tapi lebih baik kamu bicarakan berdua dengan suamimu"
"Iya, Pi. Nanti Rara akan bicara dengan Kak Raya"
******
(Ruang Tidur)
Raya sudah duluan masuk kekamarnya dan berpura-pura tidur. Hati nya masih kesal dengan kejadian tadi.
Cekreeeeekkk...
Rara masuk kekamar, kemudian menutup pintunya perlahan. Mematikan lampu kamar. Temaramnya lampu tidur membuat suasana menjadi sunyi.
Rara duduk bersisian dengan suaminya yang sedang tidur. Dia mengelus-elus lengan suaminya. Berharap suaminya masih bangun dan mau bicara dengannya.
"Kak ... ", panggil nya
"Hmmm..."
__ADS_1
"Kak Raya sudah tidur?", Rara menyandarkan kepalanya di lengan suaminya.
Raya tidak merepon. Dia masih diam seribu bahasa.
"Maafkan aku ya, Kak. Aku sudah buat Kak Raya marah dan kecewa. Aku tak menyangka akan begini jadinya", ucap Rara
"Aku tak suka!", jawab Raya
"Eehh...."
"Aku tak suka cara laki-laki itu memandangmu. Cara dia bicara denganmu. Bahkan aku tidak suka dengan apa yang dia lakukan tadi pada mu. Akan ku hajar dia nanti", Raya emosional malam itu.
Rara tidak banyak bicara. Dia hanya memeluk suaminya yang duduk diatas tempat tidur. Memeluknya dari belakang. Mencoba menenangkan suaminya yang sedang membara.
"Ini bukan sepenuhnya salah Joe, Kak. Dia tak tahu kalau aku sekarang adalah istrimu. Jadi dia ... "
"Jadi dia dengan seenaknya saja memeluk mu. Begitu!! Biar kupatahkan lehernya nanti. Dan kamu, dengarkan aku baik-baik! Aku tidak suka kamu bernyanyi bersama nya. Tidak suka melihat dia menatapmu seperti itu. Atau ... ", Raya masih emosi.
"Atau kamu lebih suka dipeluknya. Kamu menaruh hati pada laki-laki itu ya. Katakan padaku!!",tambahnya lagi.
"Jangan sebut namanya didepanku!"
"Kak Raya, masih marah padaku?"
Raya menatap dalam-dalam pada istrinya, nafasnya masih turun naik. Tanda hatinya belum bisa terkontrol dengan baik. Rara diam. Dia tak ingin memperkeruh suasana. Akhirnya dia memutuskan untuk tidur. Raya yang kesalpun akhirnya ikut tertidur.
******
Pagi hari ketika dia bangun, Raya sudah tak ada disampingnya. Dia menanyakan pada pelayan dirumah kemana tuan muda itu pergi sepagi ini. Handphone Raya pun tidak bisa dihubungi. Begitu pula dengan Hans.
"Kak Raya, kamu kemana sih. Kenapa tidak bilang padaku kemana kamu pergi?"
__ADS_1
Rara melamun di balkon kamar. Hatinya merasa tidak tenang karena suaminya pergi tanpa mengatakan apapun padanya.
Drrr... Drr...
Dering handphone nya terdengar dari dalam kamar. Rara berlari melihatnya. Dia berharap itu adalah suaminya. Namun, ternyata Kak Rio.
"Pagi, Dek? Bagaimana kabarmu?",ucap Rio diujung teleponnya
Rara tak ingin Rio tau keadaannya dengan Raya saat ini. Dia pun mencoba untuk bersikap biasa saja.
"Kabarku baik, Kak. Kak Rio apa kabar? Bagaimana keadaan paman dan bibi, Kak?", tanya Rara
"Kak Rio sehat, Dek. Papa dan mama juga sehat. Mereka titip salam buatmu"
"Syukurlah kalau begitu, Kak. Aku senang mendengarnya"
"Dimana suamimu?",tanya Rio lagi
"Kak Rio sudah berangkat tadi pagi-pagi sekali".
Rio melihat pada jam didinding kamarnya. Masih pukul lima pagi. Sepagi ini kah?, batinnya.
"Oiya, bagaimana dengan tawaran Kak Rio kemarin? Sepertinya harus kamu lakukan. Karena hanya kamulah pewaris satu-satunya dari keluarga Hoeberg"
"Kak Rio, yakin aku mampu?"
"Tenang saja. Kak Rio akan membimbing mu. Lagi pula suami mu kan pengusaha sukses, kamu bisa berkonsultasi padanya nanti",ucap Rio
"Ya, sudah aku ikut saja mana yang menurut, Kak Rio terbaik"
"Baiklah kalau begitu, Dek. Nanti pukul sepuluh ada rapat dewan direksi. Jangan sampai terlambat"
__ADS_1
"Baik, Kak!"
******