
Suasana Ritz Kafe saat makan siang begitu ramai. Untung saja Rio sudah mem-book-ing meja untuk mereka. Rara sampai lebih dahulu, lima belas menit kemudian Rio sampai pula disana. Merek duduk dikursi no lima. Menghadap ke jalan raya.
"Kak Rio hari ini ga kerja?"
"Bolos"
Hahhahaha... Rara tertawa.
"Bolos bagaimana. Orang CEO kok bolos. Siapa juga yang mau marah kalau kakak tidak kerja. Bos!!"
"Bos apa sih, dek"
"Bos kakao"
"Bisa aja kamu. Ngomong-ngomong, kakak mau membicarakan masa depan kamu. Bagaimana dengan pendidikan mu selanjutnya"
"Rara, belum memikirkan itu, Kak. Rara mau fokus berkarir dulu"
"Boleh saja kamu berkarir lagi. Menyanyi lagi. Hanya saja kamu harus melanjutkan kuliah mu. Karena kamu harus memegang tanggung jawab keluargamu!"
"Tanggung jawab keluarga?!"
__ADS_1
"Ya, keluargamu. Keluarga besar Hoeberg"
"Kenapa harus aku?!"
Rio diam sebentar. Lalu dia meminum kopi yang ada di cangkirnya. Dia menatap Rara. Matanya benar-benar menatap adik sepupunya itu dengan penuh pertanyaan.
"Apakah Rara akan siap menerima kenyataan ini?", batin nya.
"Ada apa, Kak. Ada sesuatu yang tidak aku ketahui? Katakan padaku, ada apa sebenarnya?"
"Kak ... Kenapa diam saja. Jangan bikin aku penasaran deh, Kak"
Rio tersenyum kecil. Lagi, hanya matanya yang bicara. Rara semakin penasaran dibuat nya.
"Kak Rio yakin kamu berhati besar. Dan pasti bisa memahami kondisi yang terjadi"
Rara semakin binggung, dia tidak paham arah pembicaraan kakak sepupunya itu.
"Aku tidak mengerti, Kak. Apa maksud, Kak Rio?"
"Nanti saat nya kamu pasti paham apa yang kakak maksud. Jadi bersabarlah sampai Papa tiba. Nanti kakak kabari kalau Papa sudah sampai. Kamu bisa mendengarnya langsung dari beliau. Jadi tidak terjadi kesalah pahaman lagi"
__ADS_1
Walaupun diselimuti rasa penasaran yang sangat besar, Rara tetap meng-iya-kan perkataan kakaknya itu. Jadi dia harus bersabar untuk mendapatkan jawabannya sampai lusa.
******
Matahari sudah lewat dari tengah kepala, cukup lama mereka berbicara. Banyak hal yang ingin Rara ketahui. Tapi seperti kata kakaknya dia harus bersabar sampai lusa saat paman nya tiba dari luar negeri.
Sebentar lagi sudah waktunya Rara siaran di radio, dia diharuskan datang sebelum waktu siaran guna memantabkan materi acara yang akan dibawakannya nanti, memahami isi materi yang ada.
Rio mengantarkan adik nya menuju radio. Rara duduk di bangku sebelah supir, sedangkan Rio berada dibelakang kemudi. Mobil nya di lajukan dengan santai, tidak terlalu ngebut. Karena jarak yang tidak begitu jauh, dengan waktu lima belas menit mereka sudah sampau di halaman parkir stasiun Radio.
"Terima kasih ya, Kak. Sudah mengantarkan aku sampai disini. Aku tunggu kabar selanjutnya dari Kak Rio"
Rio tersenyum. Diusapnya kepala adiknya itu.
"Hati-hati dijalan, Kak"
"Baiklah, sayang. Jaga kesehatan mu, sekarang sedang musim hujan. Jangan sampai kamu sakit"
"Siaaap bos!!", kata Rara sambil memberi hormat ala seorang polisi pada Rio.
Rio tertawa melihatnya. Rio turun dari mobil dan membukakan pintu buat Rara. Setelah berpamitan Rio masuk kemobilnya dan menghilang di ujung jalan.
__ADS_1
******