
"Ini orang masih sok berwibawa. Galak bener. Makan apa kali tadi", batin Rara sewot melihat sikap Raya.
"Baiklah kalau memang bapak tidak mau mengatakannya, aku rasa sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Bapak bisa meninggalkan tempat ini!",ucap Rara
"Kamu mengusirku?!'
"Terserah apa penafsiran bapak, salah sendiri tidak bersikap ramah. Aku bertanya pada bapak baik-baik, bapak malah membentakku", Rara mulai kesal
Drrrr....drrr....
Handphone Rara bergetar. Raya melirik pada ponsel yang tergeletak di atas meja itu. Dari layarnya tertera nama dan foto "Joe". Panas hati nya melihat hal itu.
Rara mengambil handphone nya dan masuk kekamar. Joe menelepon disaat yang tidak tepat. Ada Raya Aditama tama disini, lelaki yang sebenarnya dia sukai.
"Halo, Joe ... ", ucap Rara setengah berbisik.
"Halo, Ra. Belum tidur kan?!"
"Ooh, belum. Maaf, ada apa ya Joe"
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mendengar suara mu lagi. Membayangkan dirimu membuat aku tak bisa tidur, Ra"
Hahahhahaha ... Rara tertawa.
__ADS_1
"Kamu pikir aku hantu yang bisa buat kamu tidak bisa tidur. Jahat kamu Joe"
"Heheheh... Bukan itu maksudku, Ra"
Rara tidak sadar kalau Raya mengikutinya sedari tadi dan berdiri di belakangnya. Mendengar semua pembicaraan mereka ditelepon. Makin menumpuk rasa kesal dan cemburu dihatinya. Rasa ngilu diujung hatinya semakin tersa begitu perih.
"Lalu apa ...", omongan Rara terputus.
Raya mengambil ponsel itu dan mematikannya. Melemparnya diatas tempat tidur. Wajahnya sudah merah padam. Nafasnya turun naik menahan amarah.
"Apa yang bapak lakukan dikamar saya"
"Aku tidak suka kamu bercanda sepertu itu dengan laki-laki itu. Sedangkan. Tadi kamu bersikap kasar padaku. Apa maksudmu?!'
"Kamu tidak akan aku lepaskan, Ra. Aku tidak suka melihat kamu bermesraan seperti itu di depanku"
Rara tidak dapat menggerakkan tubuhnya, tubuh Raya menahannya untuk bangun. Pandangan mata mereka saling bertemu di jarak yang begitu dekat. Bahkan lebih dekat lagi.
"Apa yang anda lakukan, Pak. Lepaskan aku"
"Aku tidak akan melepaskan mu lagi"
"Pak ... ",. ucap Rara pelan
__ADS_1
"Kamu berani masuk keruang kerja ku, mengambil gelang itu, memeriksa laci meja kerjaku lalu kamu berani bercanda tawa dengan laki-laki lain didepanku dengan seenaknya. Aku tak akan mengampunimu", papar Raya
"Jadi ... Benar kalau, Bapak adalah si tuan Misterius itu, begitu pak Raya?"
Raya tidak menjawab, tangannya membelai pipi Rara dengan lembut. Matanya memandang Rara dari jarak terdekat. Detak jantung mereka berdua beradu pacu, seperti gemuruh genderang perang yang di tabuh dengan cepat.
Rara tidak menolak perlakuan Raya padanya. Entah kenapa hatinya senang Raya membelainya seperti itu.
"Jangan lakukan itu lagi padaku, Ra. Kamu membuat rasa sakit disini. Didadaku"
Raya mengambil tangan Rara dan meletakkannya didadanya. Dia merasakan betapa bidang dada lelaki ini, betapa cepat detak jantungnya. Ada aliran listrik hebat yang mengalir dari dada Raya menuju tangan Rara dan meledak tepat dihati Rara.
"Berjanjilah padaku?!", pinta Raya dengan suara lembut
Rara menganguk. Wajahnya bersemu merah. Jantungnya makin berdetak lebih cepat.
Raya bangkit dari tempat tidur. Lalu dia membantu Rara untuk bangun dari tempat tidur. Mereka duduk bersisian. Raya menggenggam tangan gadis pujaannya, lalu menciumnya.
"Maafkan aku, Ra. Aku memaksamu melakukan hal yang tak kau sukai"
Rara menggelengkan kepalanya. Dia menunduk, dia tak ingin Raya melihat wajahnya yang kembali memerah.
******
__ADS_1