
Rara menghela napas panjang sepanjang jalan kampus. Dia baru saja registrasi untuk kuliah semester pendeknya.
"Kamu tu kenapa, Ra. Lesu sekali. Habis onair atau offair ya?"
"Kalo on air atau off air mah udah biasa, Jan. Ini masalah lain"
"Masalah apa?"
"Ada apa sih, Ra. Cerita dong"
Rara diam. Dia menandarkan tubuhnya ke tembok aula kampus.
"Masalah Pak Raya lagi?"
Wah, kali ini tebakan Janna tepat atau memang keadaan Rara yang mudah ditebak sahabatnya.
Rara hanya mengangguk.
"Ada apa lagi dengan dirut ganteng mu itu?"
"Janna.... Tolong aku..."
__ADS_1
Rara memeluk sahabatnya itu.
Menyandarkannya kepalanya pada Janna.
"Tolong apan sih, tumben banget kamu se melankolis ini"
Rara menarik tangan Janna, mengajaknya ke sudut sepi belakang aula. Ruang UKM bidang seni kampus. Disana tidak ada siapapun. Hanya Rara dan Janna. Rara menutup pintu rapat-rapat, sebelumnya dia memastikan tidak ada seorang pun yang mencuri dengar pembicaraan mereka.
Janna penasaran, apasih yang hendak diceritakan padanya sehingga serahasia ini?
Rara memulai ceritanya. Mulai dari pemberian tuan misterius, pertemuannya dengan Raya dikapal pesiar, makan malam, dansa serta pelukan hangat sang bos besar Raya Entertainment. Janna melongo mendengarkannya. Ternyata sahabatnya sudah sejatuh cinta itu dengan direktur tampan itu. Alamat susah diobati ni, pikir Janna.
"Janna ..."
"Menurutmu bagaimana?"
"Aku angkat tangan deh. Kalian berdua sama-sama ego walaupunenurutku sama-sama sayang. Kalau tidak ada yang berani memulai, tidak akan tau kebenarannya.
"Jaann...."
"Ayolah Rara, realistis lah sedikit. Pilihanmu hanya dua. Teruskan atau tinggalkan. Kalau kamu mau membuka hatimu, ya nyatakan perasaanmu pada si tampanmu itu. Tapi kalau kamu sanggup melepaskannya ya lepaskan"
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan Sella. Mereka sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Aku tak mau jadi pelakor"
"Siapa yang berani bilang kamu pelakor. Toh jauh sebelum mereka bertunangan kalian sudah saling kenal bukan. Aku rasa Pak Raya sudah menyukaimu sejak dulu. Jadi yang pelakor itu Sella, sayangku"
"Tapi ... "
"Tapi apa lagi sih, Ra"
"Banyak perbedaan diantara kami, Ra. Perbedaan status sosial, umur, bahkan dunia kami berbeda, cara hidup kami berbeda, Jan..."
"Ra, kami bukan orang sembarangan, kamu artis besar. Keluarga mu juga bukan orang sembarangan, paman mu orang terkenal, dan kakak sepupumu juga bukan orang biasa. Umur bukan masalah, Ra. Yang penting hati kalian mempunyai komitmen yang kuat. Cinta tidak memandang semua itu. Aku yakin kalau kalian berjodoh, kalian pasti bisa mengatasi segala batasannya"
"Sebegitunya kah, Jan"
"Ya, begitulah. Aku percaya padamu. Aku yakin kamu bisa mengambil keputusan yang tepat. Untuk mu. Untuk masa depan mu."
"Baiklah, akan aku renungkan kata-kata mu barusan. Aku tak mau gegabah"
"Benar, Ra. Selami dulu hatimu yang sesungguhnya. Baru kamu bisa melangkahkan kaki kedepannya"
Kata-kata Janna benar-benar menusuk hati Rara. Dia sebenarnya baru menyadari rasa sayang nya yang tak biasa pada Raya, bahkan semakin hari semakin besar. Rara merenungi perkataan Janna berhari-hari. Dia ingin memastikan apa yang hatinya inginkan.
__ADS_1
Dia tak ingin gegabah dalam mengambil keputusan. Sebuah kata hati yang harus benar-benar dipahaminya. Butuh waktu untuknya menyelami makna yang di pancarkan oleh nuraninya. Walaupun dia menyayangi Raya, tapi dia juga tak ingin menyakiti Sella.
******