
Mobil yang ditumpangi Raya terlihat berjalan jauh ke luar kota. Hans hanya mengikuti perintah tuan mudanya saja. Dia membawa mobil itu memasuki jalan pegunungan. Menuju villa keluarga Aditama di kampung yang tak jauh dari tempat dahulu Rara dan Emak tinggal.
"Waaahh, sudah lama sekali aku tidak kesini. Rindu rasanya dengan suasana disini"
"Hmmm..."
Raya tersenyum dia menyandarkan tubuhnya lebih dalam di kursi belakang mobil. Kepala nya terasa sedikit sakit akibat minum tadi.
"Sial, kenapa cengeng sekali tubuhku ini. Baru segelas applejack saja bisa membuatku seperti ini!"
"Anda baik-baik saja, Pak Raya?"
"Iya,... Jangan khawatir. Hanya sedikit sakit kepala"
Hans melirik tuan mudanya dari sepion depan. Sepertinya efek dari applejack tadi, batinnya.
"Sepertinya efek minuman tadi, Tuan Muda"
"Hmmm...."
"Lebih baik kita kembali saja, anda butuh istirahat"
"Tidak usah. Aku tidak apa-apa"
"Anda yakin, Pak?", tanya Rara cemas.
"Ya"
Mereka berhenti di tanah lapang tempat pertama kali mereka bertemu lima tahun yang lalu.
__ADS_1
"Waaaahhh.... Lapangan rumput. Sudah lama sekali aku tidak kesini. Tempat ini tidak berubah, masih sama seperti waktu itu. Rumputnya, pepohonannya, juga langitnya"
Raya dan Rara menatap ke arah langit malam, cantik dan penuh bintang. Seperti berenang di lautan bintang. Raya merasa kepalanya semakin sakit, namun dia berusaha untuk terlihat kuat dihadapan Rara. Dia menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon, menatap ke atas langit berbintang.
"Indah sekali. Langit di pegunungan seperti ini memang lebih indah dari pada langit di kota",ucap Raya
"Iya, anda benar, Pak"
"Kamu senang melihatnya"
"Senang sekali! Terobati sudah kerinduan ku terhadap tempat ini"
"Syukurlah kalau kamu senang"
"Ehhh..."
"Aku hanya heran sama, Bapak"
"Heran?!"
"Iya. Seorang pengusaha sukses seperti anda, yang ditakuti dan disegani dalam dunia bisnis itu, kok bisa-bisanya tidur-tiduran diatas rerumputan sambil memandang bintang. Apa Bapak tidak takut nantinya?"
"Takut kenapa?"
"Citra anda sebagai pengusaha sukses dan milyunder muda pasti jatuh jika ada orang yang tahu anda seperti ini"
"Aku tak perduli. Mereka hanya menilai orang dari penampilannya saja. Mereka hanya berpura-pura manis didepan, menyembunyikan wajah asli mereka. Mereka hanya takut pada uangku"
"Aku tak menyangka anda bisa berfikiran sejauh itu, Pak. Beda sekali dengan keseharian anda yang aku tahu"
__ADS_1
"Oiya, apa yang kamu tahu tentang aku?"
"Seperti yang orang lain tahu. Gambaran secara umum saja"
Raya tersenyum. Dia menopangkan kepalanya pada kedua lengannya. Merebahkan tubuhnya pada rerumputan.
"Kamu bilang semua orang takut padaku?"
"Iya"
"Lalu??",tanya Raya
"Eeh.. lalu?"
"Apa kamu tidak takut padaku, Ra?"
"Takut"
"Kalau begitu kenapa kamu berada disisiku saat ini?"
"Entahlah, aku pikir karena aku sudah terbiasa bersama anda, Pak. Jadi walaupun takut tapi biasa saja"
Lagi, Raya tersenyum. Hatinya sangat bahagia saat ini. Kebahagian yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Sudah lewat tengah malam. Lebih baik kita beristirahat. Sebaiknya kita ke villa ku saja. Ayo ..."
Raya mengulurkan tangannya. Rara menerima uluran tangan itu. Raya tersenyum. Wajah Rara memerah dibuatnya. Mereka bergandengan tangan menuju mobil. Hans yang melihat itu sampai bergidik merinding, mungkin dia salah melihat. Karena baru kali ini tuan mudanya bersikap lembut terhadap perempuan, bahkan yaahh... Sampai bergandengan tangan. Jangan-jangan akan ada badai malam ini, pikir nya.
******
__ADS_1