
Rara berlari-lari kecil menyusuri lorong rumah sakit. Mencari kamar perawatan Emaknya.
Cekreeeeekkk ...
Dilihat nya Emak sedang tertidur. Janna ada disebelahnya. Rara menatap Janna, matanya meminta penjelasan dari sahabatnya itu.
"Shhht... Emak baru saja tidur", kata Janna.
Rara menarik nafas lega. Dilihatnya Emak yang tertidur, selang oksigen dan infus terpasang di tubuhnya. Wajahnya begitu kurus dan pucat. Lebih pucat dari biasanya. Ujung kaki nya dingin sedingin es.
"Mak...", ucap Rara lirih.
Janna mendekati Rara, dimemeluk sahabatnya dengan erat. Tak kuasa Rara menahan airmatanya. Rasa bersalah yang begitu besar membuncah dihati kecilnya.
"Maafkan Rara, mak"
Kata-kata itu yang berkali-kali di ucapkan nya dalam pelukan Janna.
"Ra ... "
"Hmm.."
Rara menatap Janna. Menunggu apa yang akan dikatakan gadis berambut pendek itu.
"Emak, bangga sama kamu Ra. Dia berkali-kali mengatakan itu padaku. Hanya saja dia tak ingin berterus terang padamu. Tapi percayalah apa yang aku katakan ini benar apa adanya"
__ADS_1
******
Sudah dua jam sejak kedatangannya dirumah sakit, Emak belum juga bangun dari tidurnya. Mungkin efek dari obat yang diminumnya. Rara merebahkan kepalanya diatas tangan Emak, dia berharap Emak bisa bangun dan bicara padanya. Dia sudah rindu sekali mendengar suara Emak dan juga omelan Emak.
"Mak ... Emak sudah bangun"
Janna yang duduk di sofa disudut ruangan bangkit mendekati mereka.
"Rara ...", suara Emak lirih memanggil namanya.
Rara memeluk Emak dan mengambil tanggan nya lalu mencium punggung tangan perempuan tua yang terbaring lemah itu.
"Maafin Rara, Mak?"
"Emak tidur aja"
Emak menggeleng.
"Emak harus bicara padamu, Ra. Emak harus mengatakan yang sebenarnya pada mu, Ra. Kamu benar. Kamu berhak tahu semua"
Emak mengambil segelas air putih yang diambilkan Janna. Dia mencoba mengatur nafasnya, mengatur hatinya. Menguatkan dirinya untuk berbicara.
******
Delapan belas tahun lalu, seorang wanita muda berusia 19 tahun, menikah dengan seorang duda kaya yang mempunyai dua orang anak laki-laki. Duda tersebut merupakan seorang anak pelulu dari bataliyon pusat di Kota. Seorang tentara yang memiliki garis wajah yang keras. Berbadan besar dan gagah. Dia sangat ditakuti diantara pasukannya.
__ADS_1
Gadis muda itu seorang penyanyi keliling dari kampung. Dia berjumpa duda kaya itu pada sebuah pertunjukan di bataliyon tempat duda itu bertugas. Akhirnya mereka saling jatuh cinta lalu menikah.
Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai seorang anak perempuan bernama RARA PRATIWI. Namun pernikahan itu tak berlangsung lama, saat Rara berusia lima bulan didalam kandungan, bapak nya pergi meninggalkan dia. Kembali ke negara asalnya.
Meninggalkan Emak seorang diri, tanpa kabar apapun sampai saat ini. Sejak saat itu dia sangat membenci laki-laki dan membenci menyanyi. Bagi Emak, jika dia tidak bernyanyi di batalion asing saat itu. Mungkin ia tak akan mengalami nasib seperti ini.
Bapak kandung Rara memang seorang tentara asing, namun dia memiliki darah yang sama dengan Rara.
Rara tak ingin membencinya. Bapak pasti punya alasan kenapa ia kembali kenegaranya dan meninggalkan Emak.
******
Nafas Emak terengah-engah, emosinya menaik saat dia menceritakan masa lalunya itu. Rara tak sampai hari melihatnya. Dia meminta Emak untuk beristirahat kembali.
"Ra, Emak harap kamu tidak mengalami nasib buruk seperti Emak. Emak ingin kami bahagia dengan lelaki yang benar-benar mencintaimu. Emak selalu berdoa untuk mu, Ra"
Rara tersenyum dan mengangguk. Dia kebisa mungkin menahan airmatanya. Rara duduk disamping Emak dan menungui Emak yang tertidur. Namun ada yang aneh dari Emak.
Janna dan Rara menjadi panik, sekujur tubuh Emak sudah dingin. Senyum kecil tersungging dari bibir kakunya.
"Emak, meninggal Ra...", ucap Janna sambil tersedu.
Rara histeris. Dia memeluk jasad Emak yang masih terbujur ditempat tidur rumah sakit.
******
__ADS_1