Menembus Batas Cinta

Menembus Batas Cinta
Dan Keajaiban Itu Terjadi


__ADS_3

Hari itu Rara ada jadwal manggung di stasiun televisi. Berat untuknya meninggalkan Raya seorang diri. Namun sudah jadi tanggung jawab dia atas kontrak kerja sebelumnya. Hans mengirimkan beberapa pengawal pribadi untuk kekasih tuan mudanya. Sehingga dia bisa meyakinkan keselamatan kekasih tuan mudanya.


Roy seorang diri siang itu di kamar perawatan. Dia sudah mulai menguatkan diri untuk menerima kemungkinan terburuk yang terjadi pada putra nya. Menyiapkan hatinya, walaupun jujur dia sendiri tahu akan sanggup atau tidak menerima kenyataan terburuk itu nantinya.


Dia menatap wajah putranya yang di pasangi dengan selang oksigen dan tubuhnya penuh dengan kabel alat pendeteksi detak jantung serta selang infus di tangannya.


"Raya..."


"Papi tahu kamu menderita. Pasti sakit menahan semua ini seorang diri. Lihatlah, begitu banyak kabel dan selang yang mereka pasang ditubuhmu, nak. Papi tak tega melihat mu seperti ini. Jika saja bisa biarlah papi yang menggantikan rasa sakitmu."


Suaranya terdengar parau, dia sekuat tenaga menahan airmatanya agar tidak jatuh. Dia tak ingin terlihat cengeng, namun hati manusianya tak dapat menolak luka itu.


"Papi tak bisa berbuat banyak. Berjuanglah, nak. Kamu adalah anak Papi satu-satunya. Kamu satu-satunya harapan Papi didunia ini. Papi harap kamu kuat, nak. Berjuanglah. Demi Papimu ini. Juga demi Rara. Perempuan yang kamu sayangi"


"Kalau kamu masih bisa mendengar ucapan Papi, Papi mohon kamu harus sembuh. Berjuanglah. Kamu harus kuat. Darah Papi yang mengalir ditubuhmu bukti bahwa kamu adalah laki-laki tanggung, nak"


Ada kontak batin yang terjadi saat itu. Seolah Raya mendengar semua yang Papinya katakan. Denyut nadi nya menguat desah nafasnya makin teratur. Dokter mulai merangsang kembali agar tubuh Raya mampu merespon obat yang diberikan dengan baik.


Keajaiban terjadi, stimulus yang diberikan dokter bekerja. Denyut jantungnya kembali normal dan juga lagu nafasnya pun sudah membaik. Perlahan Raya membuka matanya. Lalu mengerjapkannya. Sesaat dia mengamati suasana disekelilingnya.


"Kamu sudah sadar Raya"


Raya menoleh kesumber suara. Didapati nya Papi nya berada disisinya. Dia mencoba untuk bangkit, namun rasa nyeri diperutnya membuatnya kembali merebahkan diri.

__ADS_1


"Papi ...", panggil Raya lirih


"Kamu baik-baik saja, Raya?"


"Ya, Pi.."


"Syukurlah. Papi senang kamu sudah sadar. Kamu koma selama lima hari. Rara terus-menerus menungguimu bersama Papi disini"


"Rara ... Mana, Pi?!"


"Dia ada di stasiun televisi. Dia ada jadwal manggung siang ini. Hans sudah memerintahkan beberapa orang untuk mengawal nya. Kamu tak usah khawatir"


"Hmmm..."


Raya memejamkan matanya. Hatinya sedikit tenang mengetahui keadaan Rara baik-baik saja. Akhirnya dia bisa kembali tertidur pulas.


******


Tok...tok... Tok...


Cekreeeeekkk ...


"Kamu sudah datang, Ra. Raya baru saja tertidur. Dokter baru saja memberikannya obat"

__ADS_1


"Dia sudah sadar?", tanya Rara


"Ya", jawab Roy sambil tersenyum


"Syukurlah"


"Bagaimana live show mu hari ini?"


"Semua berjalan lancar. Selesai acara aku langsung kesini setelah mendengar kabar dari Hans"


"Terima kasih kamu sudah menjaga dan merawat Raya dengan baik. Jika tidak ada kamu belum tentu Raya bisa sembuh secepat ini"


Rara tersenyum sipu. Dia mendekati Raya yang sedang tertidur. Lega dihatinya menyaksikan lelaki kesayangannya sudah membaik.


"Aku serahkan sisanya padamu, Ra. Tolong rawat Raya dengan baik. Aku harus Kekantor polisi, mereka sudah menemukan pelaku penyerangan kalian itu. Aku kesana untuk melihatnya"


"Semoga semua selesai dengan baik dan mereka mendapat ganjaran atas perbuatannya",ucap Rara


"Pasti. Aku jamin itu. Tidak ada yang luput dariku apalagi jika itu menyangkut nyawa putra kesayanganku"


Roy pamit. Dia dan seorang pengawal pergi meninggalkan rumah sakit. Mereka menuju kantor kepolisian pusat guna mengkonfirmasi penangkapan para tersangka.


******

__ADS_1


__ADS_2