
Sudah satu minggu ini Shina intens mengajak Rara bertemu dengan Johan, dia bilang Johan tertarik dengan dirinya. Wajah Rara yang mungil, manik matanya yang unik dan bercahaya itu merupakan daya tariknya.
Lagi-lagi mata Johan berkeliaran memelototi tubuh molek Rara. Shina kembali menyakinkan kalau Johan adalah orang yang baik hati, seorang produser hebat yang sangat terkenal.
Dan Johan menawarkan sebuah judul film layar lebar untuk Rara. Sebenarnya dia senang mendapatkan tawaran bermain film. Dia ingin menjajal kepiawaiannya dibidang seni peran.
"Lebih baik jangan terlalu lama berfikirnya, Ra. Dia itu produser hebat. Banyak artis top yang di orbitkan lewat tangan dinginnya. Aku yakin pasti kami bisa jadi bintang top di bawah arahan dia." Shina mencoba meyakinkan Rara.
"Tapi kok aku sangat asing dengan dia ya. Lagi pula ko aku tidak merasa nyaman dengan sikap dia." rasa Ragu masih menyelimuti hati perempuan cantik itu. Rara tak begitu saja percaya pada Shina.
"Itu sih hanya perasaanmu saja, Ra. Dia sangat jeli loh melihat potensi dalam diri seseorang."
"Ya, sudah. Nanti aku pikirkan."
"Kalau begitu aku pulang dulu. Aku tunggu kabar baiknya ya, Ra."
Shina pamit pulang. Dia sangat mengharapkan kalau Rara bisa bergabung bersama Johan. Bujuk rayunya makin gencar, agar Rara mau mengambil peran itu.
__ADS_1
******
Malam itu Rara merasa tidak bisa tidur, lagi pula masih terlalu sore untuk tidur. Masih pukul tujuh malam. Dia berganti pakaian dan turun ke lobi apartemen. Saat tangannya hendak meraih ponsel yang ada dalam tasnya untuk memesan taxi online, sebuah mobil berwarna hitam berhenti dihadapannya.
"Malam, Ra. Kamu mau kemana?" dari kaca mobil terlihat Johan berada di belakang kemudi.
"Malam Oom. Mau ke toko buku sebentar," ucap Rara.
Johan keluar dari dalam mobilnya, menghampiri Rara yang berdiri di depan pintu masuk apartemen, "Aku baru berniat mau mampir ke apartemen mu, sedikit membicarakan perihal yang kemarin. Kalau begitu sekalian aja kita jalan. Yuk, aku antar"
Johan membukakan pintu mobilnya. Mau tidak mau Rara menurut dan duduk di kursi sebelah kemudi.
Mereka melewati sebuah pintu masuk yang sempit dengan lorong panjangnya yang gelap. Didepan lorong itu ada sebuah pintu lagi yang dijaga oleh dua orang laki-laki. Begitu pintu dibuka, seketika ruangan menjadi gegap gempita. Lampu ruangan yang temaram dan berkelap-kelip, hingar bingar musik yang memekakkan telinga serta aroma alkohil dan asap rokok memenuhi ruangan itu.
"Dimana ini?!" batin Rara. Tempat yang belum pernah ia datangi sebelum nya.
Johan langsung membawanya kesalah satu sudut ruangan. Disana ada sebuah meja yang berada jauh di ujung lantai dansa.
__ADS_1
"Kamu mau minum apa, Ra?" tanya Johan.
"Softdrink aja, Oom"
Johan menanggil seorang pelayan, memesankan segelas softdrink. Rara merasa tidak nyaman berada ditempat aneh begitu. Johan memegang tangannya. Refleks Rara menarik tangannya dari genggaman lelaki tua itu.
Rara mencoba bersikap tenang. Dia tak ingin lawan bicaranya ini tau perasaannya, perasaan takut dan gelisah di hatinya. Dia juga tak ingin Johan merasa tersinggung dengan sikapnya itu.
"Bagaimana tawaranku kemarin, Ra?" tanya Johan lagi.
"Maaf Oom, aku belum mengambil keputusan. Masih fokus dengan ujian akhir."
"Oo, tidak apa-apa. Santai saja. Aku tak ingin memaksamu. Tapi jujur aku sangat berharap banyak padamu."
Rara hanya tersenyum kecil. Dia meneguk minuman yang ada dihadapannya. Segelas cola dingin, namun tak lama sesudahnya dia merasakan kepalanya mulai berputar-putar.
Rasa sakit yang tak terhingga menyecar kepalanya hingga dia jatuh pingsan diatas meja.
__ADS_1
******