
"Kamu jahat, Ra. Kamu anggap apa aku"
"Jan... Tolong buka pintunya. Dengarkan dulu cerita ku"
"Apalagi yang mau kamu ceritain?! Apa kamu hanya mau membujukku?"
"Janna, please ... Buka pintunya. Biarkan aku ceritakan semuanya padamu. Semuanya yang terjadi padaku. Pada hidupku. Aku tak bermaksud melupakanmu begitu saja. Kamu masih sahabatku. Dan aku masih Rara yang dulu"
Cekreeek ....
Janna mengintip dari celah ujung pintu.
"Janji ya, ceritakan semuanya. Jangan bohongi aku ya, Ra?!"
"Iya ..."
Janna membuka pintunya. Cukup lama dia ngambek mengunci pintu kamarnya setelah milihat Rara datang menemuinya. Janna duduk diatas tempat tidur. Rara pun ada disebelahnya. Rara menaburkan pandangannya pada sekeliling kamar itu. Kamar kecil bernuansa merah muda. Warna kesukaan Janna.
"Tidak ada yang berubah dari kamar ini. Rindu sekali dengan suasana merah muda ini"
"Kamu di kota sudah jadi artis. Pasti kamu punya kamar yang jauh lebih cantik dan bagus dari kamar ini"
Rara hanya tersenyum. Iya sih, rumah yang iya tempati itu lebih dari cukup untuknya hidup seorang diri. Kamar nya cukup cantik dan rapih. Ber-AC dan pastinya sangat nyaman.
__ADS_1
Janna menyimak dengan jelas, dan seserius mungkin semua cerita Rara, mulai dari pengusirannya oleh emak. Tuan misterius yang baik hati yang selalu memanjakannya, yang tidak ia ketahui siapa dan darimana dia berasal. Bertemu pun tidak pernah. Bahkan persahabatan konyolnya dengan Joe sang idola itu.
"Jadi...Joe nembak kamu, Ra?"
"Ya"
"Dan kamu menolaknya?"
"Hmm..."
Plaaak... Pukulan bantal mendarat di pudak Rara.
"Bodoh kamu. Kenapa kamu ga terima aja, Ra"
"Tapi aku ga punya rasa apa-apa sama dia, Jan. Aku anggap dia sama seperti kamu. Hanya sahabat. Tidak lebih"
Hahahaha ... Mulai deh ni anak, pikir Rara.
"Lalu bagaimana dengan Tuan Misterius itu? Dia manusia atau malaikat yang tak berwujud sih?"
"Entahlah"
"Lalu emak gimana, Ra"
__ADS_1
Sejenak jantung Rara serasa berhenti saat Janna menanyakan tentang emak. Dia diam. Hanya airmatanya yang menangis.
"Ra ... Maafkan aku"
"Emak, tetap menolakku, Jan. Tadi aku menemuinya sebelum aku kesini. Emak bersikap dingin. Dia sepertinya sangat membenciku"
"Sabar ya, Ra. Emak mungkin butuh waktu"
"Jan.."
"Ya .."
"Bagaimana kalau kamu yang coba membujuk emak. Barangkali emak mau mendengarkan mu. Aku mohon, Janna"
Janna sebenarnya tidak berani melakukannya, dia tahu benar siapa emak. Keras kepala. Tapi demi sahabatnya, dia meng-iya-kan permintaan Rara.
"Aku ga mau kasih kamu harapan, Ra. Tapi aku akan coba bicara pelan-pelan sama emak. Mudah-mudahan aku bisa mengubah pola pikir emak"
"Terima kasih, Jan"
Rara memeluk Janna erat-erat. Dia sangat berharap ada titik terang untuk nya kembali berdamai dengan emak.
Selama ini banyak hal yang ia tidak ketahui dari emak. Emak sangat tertutup dan over protective padanya. Walaupun begitu, dia yakin, pasti emak punya alasan kuat di balik semua itu. Sama seperti alasan kuat emak yang tak mau dia menanyakan tentang bapak kandungnya.
__ADS_1
Emak selalu berkata kalau dia tak butuh bapak, dia bisa hidup tanpa adanya seorang bapak. Emak tampak nya sangat membenci bapak.
******