Menembus Batas Cinta

Menembus Batas Cinta
Kita Berteman Saja


__ADS_3

Dua hari Joe tidak keluar dari kamar nya. Dia hanya berdiam diri di dalam kamar. Merenungi apa yang telah terjadi. Dia belum siap jika harus bertemu lagi dengan Rara untuk waktu dekat ini. Hatinya merasa tidak tenang, terlalu besar perasaan yang ia miliki untuk Rara.


Dia harus menyiapkan lagi, menata lagi ruang dihatinya.


"Kita berteman saja"


Salah satu lagu duet mereka, yang entah kenapa sekarang ini menjadi kenyataan.


Puluhan kali Rara menghubungi dan mengirimkan pesan WhatsApp pada Joe. Namun tak satu juga yang di balas nya. Ponselnya hanya tergeletak di atas meja kamarnya.


Rara merasa tidak enak hati terhadap Joe. Dia merasa Joe pasti sakit hati sekali terhadap sikapnya.


"Joe, kemana sih kamu. Kenapa tidak membalas pesan ku. Tidak mengangkat teleponku. Aku minta maaf Joe, kalau membuat mu kecewa"


******


Matahari sudah mulai tinggi saat Joe bangkit dari tempat tidurnya. Wajahnya lusuh, tak ada semangat dari aura jiwa nya. Dia berjalan lunglai menuju wardrobe, mengambil sepotong handuk dan baju ganti lalu menuju kamar mandi.


Baru kali ini dia ada keinginan untuk mandi setelah dua hari. Kucuran air dari shower membuat segar kembali tubuh nya. Aroma terapi yang keluar dari bathup membuat pikiran dan hatinya rilexs.


"Nah ... Ini baru Joe yang tampan", kata nya sambil melihat bayangan wajahnya di cermin.


"Ayo ... Joe saatnya bangkit. Jangan biarkan harimu berlama-lama sakit. Smile..."


Diambilnya ponsel dari atas meja.


Tuuuuttt ... Tuuuut ...

__ADS_1


"Haloo..."


"Hai, Ra. Lagi apa?"


"Joe ... Kau baik-baik saja?"


"Pasti dong"


"Syukurlah, Joe. Aku mengkhawatirkan kamu"


''Kamu lagi apa, Ra?"


"Sedang santai dirumah. Kenapa?"


"Kalau kamu sedang tidak ada acara, bagaimana kalau kita jalan. Tenang saja ini ga ada embel-embel apapun ko. Hanya ingin menghabiskan waktu bersama sahabat"


******


Satu jam kemudian Joe dan Rara sudah dalam perjalanan menuju sebuah taman hiburan. Mereka menghabiskan waktu libur nya bersama. Sebuah bianglala besar yang tingginya puluhan meter, menjadi salah satu ajang uji adrenalin mereka.


"Kamu takut, Ra?"


Rara hanya tersenyum tipis. Sebenarnya dia takut, namun rasa malunya membuat dia berpura-pura berani di hadapan Joe.


Joe sadar sebenarnya Rara takut, namun dia berpura-pura berani. Joe pindah ke sebelah Rara. Dia memeluk Rara, mentranfer kekuatan pada gadis mungil itu.


"Kamu ini, sok tegar. Padahal kamu rapuh"

__ADS_1


Rara membenamkan kepalanya pada dada bidang lelaki yang memeluknya. Ya Tuhan, Joe. Kamu memang sahabat yang terbaik, batin Rara.


"Kita berteman saja"


******


Badan Rara rasa terhuyung-huyung turun dari bianglala itu. Joe dengan sabar menuntun Rara kesebuah kursi.


"Tunggu disini sebentar ya, Ra. Aku cari minuman hangat dulu untuk mu"


Rara mengangguk. Memang itu yang dia inginkan untuk menghilangkan rasa mual di perutnya. Tak lama Joe datang membawakan segelas teh hangat.


"Legaaa... nya. Tarima kasih, Joe"


"Maaf ya, Ra. Aku ga tahu kalo kamu takut naik bianglala. Kalau aku tahu, aku ga akan ajak kami naik kesana"


"Ga apa-apa, Joe. Aku juga ingin jajal naik ko"


"Sudah merasa lebih baik?"


"Hmmm...."


"Kita jalan-jalan aja sekitar sini, Yuk"


"Boleh"


Mereka berkeliling mengitari taman hiburan. Berjalan berdampingan, sambil asyik bercerita, sampai matahari terlihat mulai mengguning di ujung langit. Barulah mereka berdua pulang.

__ADS_1


******


__ADS_2