
Sarapan pagi sudah terhidang dimeja makan saat Rara turun dari kamarnya dilantai dua. Drees warna salem dengan kombinasi brukat dibawahnya menambah kesan anggun pada dirinya. Rambutnya juga tertata rapi. Raya yang sudah menunggunya dimeja makan, tertegun melihat keanggunan langkah kaki dan tubuh perempuan kesayangannya itu.
"Selamat pagi", sapa Rara pada Rio dan Raya.
"Pagi, nak"
"Pagi sayang. Cantik sekali kamu pagi ini"
Rara hanya tersenyum membalas ucapan Raya. Rara mengambil piring yang ada d depan Rio, mengisinya dengan nasi dan lauk. Selanjutnya piring yang di depan Raya dan melakukan hal yang sama. Makan pagi bersama mereka bertiga untuk pertama kalinya.
Roy merasa senang dengan keberadaan Rara diantara mereka. Dia telah banyak merubah hidup putra tunggalnya menjadi lebih baik.
******
Pukul sepuluh pagi Raya dan Rara sudah sampai dikediaman Rio. Seorang pelayan mengantar mereka menemui Rio Hermawan dihalaman belakang. Rumah itu memiliki halaman yang sangat luas,terletak di pinggir bagian barat kota. Rio sedang menikmati koran paginya di gazebo belakang.
"Kak ... ", Rara setengah berlari menghampiri Rio
"Hai, sayang. Kemari lah"
Rara langsung menghampiri Rio yang menyambutnya dengan pelukan hangat dan ciuman dipipi.
"Sepi sekali, Paman dan Bibi belum pulang?"
"Papa baru berangkat bekerja, mama tadi ada janji dengan kawan lamanya. Bagaimana kabarmu, sayang? Kak Rio kangen sekali"
"Baik, kakak ku sayang. Aku juga kangen sama Kak Rio"
Rio membelai lembut kepala adik sepupunya itu.
"Kak ... ", ucap Rara
"Hmmm..."
"Ada seseorang yang ingin aku perkenalkan", Katanya lagi
"Siapa?", tanya Rio
__ADS_1
Rara mehampiri Raya yang sedari tadi mengamati di belakang mereka.
"Ayo, Kak. Aku perkenalkan dengan Kak Rio"
Raya tersenyum dia menggandeng tangan Rara menemui Rio.
"Lama tak jumpa Raya Aditama!"
"Oo... Senang bisa bertemu dengan mu lagi, Rio Hermawan!"
"Kalian saling mengenal?"
Hahahaha... Rio tertawa kecil.
"Siapa yang tak kenal Raya Aditama, penguasa bisnis dunia hiburan. Salah satu pengusaha muda yang sukses"
"Anda terlalu berlebihan. Aku tak ada apa-apa nya dibandingkan anda yang terkenal di dalam dan luar negeri. Pengusaha ekpor impor hasil bumi yang tersohor"
Mereka saling puji. Rara seperti sedang menonton drama saja. Bahasa mereka terlalu kaku. Apa karena laki-laki memang begitu.
Raya dan Rio menatap Rara. Mereka tahu kalau perempuan manis itu sedang protes terhadap kekakuan mereka. Tapi mereka berdua adalah saingan bisnis. Wajar saja gaya bicaranya begitu.
"Bisa?!",Rara menatap Rio dan Raya satu persatu.
"Baiklah, adikku sayang. Aku turuti kemauanmu"
"Oke. Berhubung ini adalah permintaan calon istriku tersayang. Aku tidak masalah"
"Calon istri!!?",Rio menatap Raya terkejut. Lalu dia menoleh pada Rara.
Rara mengangguk perlahan.
"Ternyata kalian sudah sejauh itu. Kenapa kamu tidak cerita sama, Kak Rio, Dek?"
"Maaf, Kak. Panjang ceritanya. Dan untuk itulah kami datang kesini. Kak Rio jangan marah, ya?!"
Rara menggandeng tangan kakaknya. Membujuk agar Rio mereda. Dia tahu kakaknya kesal karena dia tak menceritakan semua tentang Raya padanya.
__ADS_1
"Sepertinya kita perlu bicara berdua, ikut aku, Dek", Rio mengajak Rara pergi
Rara memberi kode pada Raya untuk menunggunya sebentar. Rio menarik tangan Rara, membawanya keruangan seberang. Ruang kerjanya. Lalu mengunci pintunya. Dari pintu kacanya Raya melihat Rara dan Rio dari kejauhan. Entah apa yang mereka bicarakan, pikir Raya.
"Ada apa, Kak?",tanya Rara didalam.
"Sejak kapan kamu berhubungan dengan laki-laki itu?"
"Aku dan Kak Raya sudah lama saling mengenal. Kami bertemu pertama kali saat aku masih duduk dikelas satu SMP, Kak. Kak Raya orang nya baik, perhatian dan juga sayang padaku. Kemarin dia memintaku untuk menikah dengannya. Dia melamarku"
"Menikah? Berani sekali dia!",ucap Rio kesal
"Kak...!"
Rio menarik nafas panjang. Dia menatap pada adiknya.
"Sayang, maafkan Kak Rio. Aku bukannya mau menghalangi hubungan kalian. Tapi apa kamu tahu batasan antara kalian berdua. Maksud Kak Rio, terlalu banyak perbedaan antara kamu dan Raya. Perbedaan usia kalian yang malah pantas seperti Bapak dan Anak. Dia pun lebih tua dariku, sayang. Aku takut dia memperlakukanmu dengan buruk nanti",papar Rio
"Kak, aku percaya Kak Raya tidak akan berbuat seperti itu. Kami saling mencintai. Tak perduli apapun itu, Kak. Yang penting hati kami saling memahami"
"Kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan, Dek?"
"Iya, Kak"
Rio mendekat kearah Rara, memegang wajah adiknya dengan kedua telapak tangannya. Pandangan mereka saling bertemu dan berbicara.
"Kamu mencintainya?",tanya Rio tanpa basa-basi
"Sangat. Aku sangat mencintai nya, Kak"
Rio menyandarkan kepala adiknya dalam pelukkan didadanya. Dia menarik nafas panjang. Adiknya satu-satunya sudah memilih jalannya sendiri. Rio membelai mesra kepala Rara, mencium ubun-ubun perempuan manis itu.
"Baiklah, kalau kamu yakin dengan keputusan mu, Kak Rio tidak bisa berbuat banyak. Hanya saja jika dia berani menyakitimu, dia tak akan selamat dari pengejaran ku",ucap Rio menyerah
"Terimakasih, Kak"
******
__ADS_1