Menembus Batas Cinta

Menembus Batas Cinta
Pernyataan Cinta Sang Bintang


__ADS_3

Bulan Juni tanggal 24 adalah hari ulang tahun Rara. Joe sudah menyiapkan hadiah khusus untuk perempuan yang dia sayangi itu. Dia sengaja membelinya saat dia pergi ke Paris saat liburan kenaikan kelas beberapa hari lalu. Dia membungkusnya dengan kertas kado bergambar hati berwarna merah muda.


Tepat pukul delapan malam, Joe menemui Rara di rumah nya, didepan pintu dia membawa sebuah tart cantik berukuran sedang dengan ornamen mawar merah dan coklat berbentuk hati. Serta lilin yang bertuliskan angka 14. Dia menyalakan lilinnya tepat sesaat sebelum Rara membuka pintu untuknya.


"Suprice...."


Rara terdiam melihat Joe yang berada di balik pintu. Joe menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.


"Selamat ulang tahun, Rara ...!"


Tanpa dikomando Rara meniup lilinya tepat setelah Joe selesai bernyanyi. Dalam make a wish nya Rara berharap bisa bertemu lagi dengan Emak dan bisa menjadi yang terbaik untuknya.


"Terima kasih, Joe. Aku sangat terkesan. Kamu tahu hari ini aku ulang tahun?!"


"Tentu saja aku tahu. Aku sengaja pulang lebih cepat dari liburanku ke Paris, demi hari istimewa mu ini, Ra"


"Kamu baik sekali, Joe"


Bukan kepalang senang nya hati Joe mendengar pujian-pujian dari Rara. Joe meletakkan kue dan kadonya di atas meja. Rara datang dari dalam membawakan dua cangkir coklat hangat.


"Ini hadiah khusus dariku untuk kamu, Ra"


"Apa ini? Aku jadi merepotkan kamu ya, Joe. Terima kasih lho, Joe. Selama ini kamu sudah banyak membantu aku. Aku berhutang budi padamu. Kamu memang sahabat ku yang terbaik"


"Sahabat?"

__ADS_1


"Ya, sahabat ku yang paling baik"


Joe terdiam. Dia sedikit terguncang mendengarnya. Apakah dia hanya di anggap sebagai sahabat saja?


"Ra..."


"Hmm.."


"Apa ... Apa kita tidak bisa lebih dari sahabat, Ra?"


"Maksud mu?"


Joe kembali terdiam. Dia mengumpulkan keberaniannya untuk bicara sekaligus menata hati nya baik-baik untuk menerima apapun jawaban dari perempuan cantik dihadapannya itu.


"Ra..."


"Aku ingin jujur sama kamu, Ra. Terserah apa nanti tanggapan kamu. Yang penting aku sudah mengungkapkan apa yang sebenarnya aku rasakan"


"Ra.. saat pertama kita bertemu di audisi dulu. Aku sudah mulai menyukaimu. Menyukai suaramu. Gaya bicaramu. Penampilanmu. Bahkan aku menyukai semua yang ada dalam dirimu"


"Ra ... Aku sayang sama kamu. Aku berharap kita bisa lebih dari sekedar sahabat. Aku ingin kamu bisa membuka hatimu untukku"


"Kalau boleh, aku ingin mendengar bagaimana perasaan mu padaku, Ra. Apa kamu bisa menerima aku sebagai ... Pacarmu?"


Rara diam. Diam tak bisa berkata apa-apa. Dia tak mau berbohong. Dia tak mau membuat siapapun merasa sakit hati. Dia mengatur dengan baim kata-kata yang akan dia ucapkan. Dia ingin jujur pada diri sendiri, pada hatinya sendiri.

__ADS_1


"Joe ..."


"Aku sangat berterima kasih kamu mau sayang sama aku. Aku sangat senang bisa kenal dan dekat dengan lelaki yang baik hati seperti kamu, Joe. Kamu selalu ada di saat aku sedih atau pun senang. Bahkan kamulah yang selalu membuat aku tersenyum, Joe"


"Tapi maaf, aku hanya bisa menganggapmu sebagai sahabatku. Sahabat terbaik ku, Joe. Bahkan kalau bisa kita jadi saudara, Joe. Aku harap kamu tidak sakit hati dengan apa yang aku katakan ini. Maafkan aku, Joe"


Dalam hitungan detik seperti ada bom yang meledak dalam hati Joe. Hatinya langsung hancur berkeping-keping. Ingin rasanya ia berteriak. Menangis. Namun harga diri nya terlalu tinggi untuk menunjukkan kelemahannya dihadapan perempuan yang di sayanginya. Joe hanya bisa tersenyum.


Dia menggenggam tangan Rara, menatap wajahnya erat-erat. Mencoba sekali lagi menembus hati kecil perempuan itu. Bagi Rara, tangam Joe mengalirkan sebuah kehangatan dalam hatinya. Namun sekali lagi Rara tak ingin berdusta pada diri sendiri.


"Aku bisa menerimanya, Ra. Kamu tak perlu minta maaf. Ini bukam kesalahan. Ini tentang hati. Kejujuran hatimu yang bicara. Tapi aku harap, hubungan kita berdua tak akan jadi lebih buruk setelah ini. Aku harap kita bisa berteman seperti biasanya"


"Joe, kamu ga usah khawatir. Aku tetaplah Rara seperti yang kamu kenal dulu. Terima kasih, Joe. Kamu sudah mau mengerti aku"


******


Sepanjang perjalanana pulang Joe hanya di saja di dalam mobil. Dia tak bicara sepatah katapun, sopirnya hanya meliriknya dari sudut kaca spion depan mobil. Ada kesedihan di wajah tuannya.


Sesampainya di rumah, Joe langsung masuk kamar. Menuju kamar mandi. Tanpa melepas lagi semua pakaiannya dia menghidupkan shower.


Curahan air dari shower membasahi setiap helai pakaian Joe, dia tak perduli apapun lagi saat itu. Hanya bisa terdiam dalam kesedihannya. Dia harus bisa menerima kenyataan ini.


"Rara Pratiwi tak pernah membuka hati untuk nya"


******

__ADS_1


__ADS_2